Sudah Berhasilkah Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi?

Menurut ajaran agama saya, manusia diperintahkan Allah untuk menjadi khalifah di muka Bumi. Kata khalifah dalam bahasa Inggris satu ide dengan kata “representative” atau “successor”, yang punya konotasi “perwakilan”. Apa makna menjadi perwakilan Allah di Bumi? Banyak tafsir sepakat bahwa hal tersebut berarti kita ditugasi “mengurusi” Bumi dengan segala sumber dayanya, baik yang hidup maupun yang tidak. Dari sejak Nabi Adam alaihissalam diturunkan ke Bumi, apakah manusia sudah berhasil?

Alih-alih menuduh dan menunjuk sesama manusia, atau menyalahkan pemerintah yang korup, saya lebih ingin mengajak saudara-saudari seiman untuk berkaca terkait status khalifah manusia secara umum: “Apa yang sudah kamu lakukan?” Apakah kita sebagai manusia telah menjadi perwakilan yang baik? Apakah kita telah sungguh layak menjadi penerus? “Perwakilan Tuhan”? Ngetiknya saja saya merinding.

Belum pernah saya dengar khotbah tarawih atau Jumatan yang sungguh-sungguh menanyakan hal ini kepada para jamaah. Sementara itu, pertanyaan ini menggema di benak para pengamat alam di seluruh dunia. Para saintis menanyakan keberhasilan kita sebagai penduduk Bumi memberdayakan  ketika mereka membentuk Union of Concerned Scientists pada tahun 1992. Persis ketika saya lahir. Setelah 25 tahun, tentunya mereka ingin mengevaluasi apa yang sudah banyak berubah sejak peringatan pertama para saintis dilayangkan. Mari kita simak:

Tren isu lingkungan yang diidentifikasi pada tahun 1992 dalam peringatan saintis pertama terhadap kemanusiaan selama beberapa dekade terakhir. Tren sebelum 1992 ditunjukkan dengan garis abu-abu dan setelah 1992 ditunjukkan dengan garis hitam. Panel (a) menunjukkan emisi gas sumber halogen yang dapat menurunkan kadar ozon atmosfer, (b) sumber daya air tawar, (c) jumlah tangkapan ikan laut dalam megaton per tahun, (d) zona mati, (e) total luasan hutan, (f) kelimpahan spesies vertebrata, namun hanya sedikit data dari negara berkembang, (g) emisi salah satu gas rumah kaca, (h) perubahan temperatur, (i) ukuran populasi manusia dan hewan ternak. (Sumber: Ripple et al 2017, Bioscience)

Dengan tren yang begitu suram untuk banyak sumber daya, manusia mendapat peringatan kedua tahun ini dari Alliance of World Scientists (AWS), ditandatangani lebih dari 15.000 saintis dari seluruh belahan Bumi. Dengan membentuk manifesto dan petisi yang independen dari organisasi apapun, baik dari pemerintah maupun non-pemerintah, AWS berharap masyarakat mulai menanggapi serius tren sumber daya Bumi yang makin menurun dalam kualitas dan kuantitas karena laju pertumbuhan populasi manusia yang tak kunjung menurun.

Rangkuman dan evaluasi tren sumber daya selama beberapa dekade terakhir yang dibuat para inisiator AWS diharapkan dapat menyadarkan masyarakat untuk dapat lebih menekan pembuat kebijakan untuk mengambil langkah yang lebih serius. Berhenti mengangkat pejabat yang tidak kompeten dalam hal lingkungan dan memelihara hewan liar yang dilindungi peraturan perundangan, membuka analisis dampak mengenai lingkungan untuk setiap proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah, mendukung kebijakan yang dapat mereduksi konsumsi berlebihan sumber daya dan masih banyak lagi.

Manusia butuh menggunakan sumber daya alam yang disediakan di Bumi dan selayaknya hal tersebut dilakukan dengan menyadari tanggung jawab kita merawat Bumi. Alam diberi kemampuan untuk kembali ke kondisi awal (resilience) dalam waktu tertentu; ketika hal ini dilanggar, alam akan mengalami kesulitan untuk memulihkan diri. Sebuah penelitian yang berupaya untuk mendeteksi kapasitas Bumi mendukung dampak penggunaan sumber daya alam di sembilan batas planet (planetary boundary) menunjukkan ada dua batas yang telah dilampaui manusia hingga saintis tidak dapat menyimpulkan risikonya: keanekaragaman genetik dan aliran nitrogen.

Status terkini untuk tujuh dari sembilan batas planet: derajat keasaman laut (ocean adification), muatan aerosol dalam atmosfer (atmospheric aerosol loading), penurunan kadar ozon stratosfer (stratospheric ozone depletion), emisi zat kimia artifisial (novel entities), perubahan iklim (climate change), keutuhan biodiversitas (biodiversity integrity), perubahan sistem lahan (land system change), dan penggunaan air tawar (freshwater use). Kondisi Bumi cukup genting dalam hal keanekaragaman genetik spesies dan aliran nitrogen. Nitrogen adalah unsur yang umum ada dalam pupuk buatan manusia. (Sumber: Steffen et al. 2015)

Padahal, Allah berfirman agar kita tidak berbuat kerusakan di muka Bumi setelah Allah memperbaikinya. Saya yakin ajakan untuk tidak melampaui batas tidak hanya berlaku untuk ajakan beragama melainkan juga batas-batas Bumi dalam mengatasi kelakuan manusia. “…Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” (Mohon koreksi saya jika saya salah paham).

 

Di tengah tren penurunan kualitas sumber daya Bumi, saintis sadar bahwa kita butuh terobosan ilmu, teknologi, dan sistem. Melihat tren pengurangan gas pemusnah ozon selama dua dekade terakhir, bukan tak mungkin kita mengembalikan kondisi Bumi yang kacau balau jika kita memang ingin berusaha. Hal ini tak lepas dari implementasi kebijakan terkait pengurangan CFC sebagai gas yang dapat mengurangi kadar ozon; dengan kata lain, peran aktif pemerintah. Selain itu, saat ini banyak beredat teknologi energi terbarukan terus bermunculan, skema donasi yang makin canggih dan efektif untuk mengatasi ketidakmerataan sumber daya, dan masyarakat mulai sadar untuk hidup dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Namun, dengan tren kerusakan yang tidak berubah, terobosan-terobosan ini tidak akan cukup jika perilaku dan mental masyarakat tidak berubah. Mubazir lah segala akses informasi berlimpah untuk mengikuti gunjingan terbaru semata. Tak ada guna peningkatan produksi pertanian jika separuh isi piring berakhir di tempat sampah. Tak mungkin pemerintah melakukan semuanya sendirian; tempat sampah berlimpah tak ada gunanya jika masyarakat mengabaikan mereka. Sudah waktunya kita melihat perintah Tuhan dalam lingkup yang lebih besar.

Jadi, sudah berhasilkah manusia saat ini sebagai khalifah di Bumi?

Menurut saya, kita masih jauh dari berhasil. Mungkin akan ada yang setuju dengan saya, ada yang tidak. Sains berada di tengah-tengah untuk memberikan pandangan berbasis data. Mungkin perumahan tempat tinggal kita sekarang tidak terasa semakin panas atau kota tempatmu tinggal tidak mengalami banjir gletser atau badai. Mungkin hutan dan laut tidak tampak mengeluhkan langsung apa yang tanpa sadar kita lakukan untuk mengganggu keseimbangan mereka. Karena itu, kita perlu melihat alam dengan skala yang lebih besar: apakah kita sungguh yakin ketika motor/mobil digas ke kantor/kampus kita tidak menyumbang gas rumah kaca yang menyebabkan Bumi makin panas dan banjir gletser di tempat lain? Yakinkah kita sampah plastik yang tak sengaja tertinggal di jalan tak ikut mengalir bersama sungai ketika hujan dan banjir sehingga menyekik seekor kura-kura di samudera terdekat? Apakah kita sungguh tidak sedang menzolimi generasi selanjutnya dengan meninggalkan Bumi yang lebih buruk untuk mereka?

Saya tidak percaya bahwa perintah menjadi khalifah di muka Bumi tidak termasuk bertanggung jawab terhadap tren-tren penurunan kualitas Bumi. Allah Mahabesar; rencanaNya tak mungkin sesempit ideologi politik semata. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar surga sehingga mengabaikan surga yang telah Allah berikan kepada kita di Bumi.

Advertisements

Tidak Setuju Itu (Kadang) Penting

Saya suka mengaji banyak isu di media sosial. Kadang banyak orang setuju, kadang banyak yang tidak setuju. Jika ada yang tidak setuju terhadap sesuatu, umumnya ia akan berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia benar dengan mempertanyakan pendapat saya. Hal ini bisa berujung ke dua hal: debat kusir atau diskusi. Yang terakhir hanya bisa dicapai jika keduanya punya semangat yang sama untuk mencapai kebenaran; ini bisa terlihat dari bahasa dan konten diskusi.

Lepas dari ketidaknyamanan yang saya rasakan ketika ada yang tidak setuju dengan saya, saya mensyukuri setiap perbedaan pendapat yang pernah mampir. Satu yang paling kaya bahkan sukses menjadi tulisan di blog ini.

Pentingnya Menjadi “Destruktif”

Selama saya kuliah, ada beberapa orang di kampus saya yang terkenal selalu memiliki pendapat yang berlawanan dari orang pada umumnya. Walau terkadang cara mereka berpikir membuat sebagian besar orang tidak nyaman, mereka adalah orang-orang yang sering dimintai pendapat tentang isu-isu penting seputar organisasi, pekerjaan, proyek, gagasan, atau hal-hal lain yang mereka tidak sepakati. Orang-orang semacam ini penting: mereka membantu membangun pemikiran baru.

Saya mendiskusikan hal ini dengan suami ketika melihat teka-teki kopi yang diulas situs ifuckinglovescience.com. Dalam teka-teki itu, ditanyakan mana bejana yang lebih dulu terisi penuh.

Untuk mereka yang belajar sifat air, akan mudah menjawab bahwa yang lebih dulu terisi adalah cangkir nomor 4 dengan asumsi bahwa seluruh pipa penyalur berdiameter sama. Namun, jika melihat ulasan yang ditulis ifuckinglovescience.com, mungkin akan banyak yang heran mengapa banyak yang begitu kesulitan. Mungkin juga tidak. Yang ingin saya tekankan adalah, ada orang-orang yang berpikir dengan cara yang begitu berbeda di luar sana sehingga apa yang bagi kita begitu alami tampak supernatural. Sama seperti kamu tidak bisa menertawakan orang yang bicara Inggris patah-patah, kamu tak bisa juga meremehkan mereka yang kesulitan mengerjakan teka-teki ini. Mereka ahli di hal yang lain. Ini menurut saya berlaku untuk segala hal.

Dengan mengritisi celah argumen dan melihat suatu hal dengan cara yang berbeda, mereka menghancurkan bangunan argumen yang ada sehingga bangunan ini dapat dibangun dengan lebih kuat.

Hal ini telah banyak terjadi dalam sains. Meminjam sebuah paragraf dalam tulisan Raphael Scholl tentang bagaimana menemukan pikiran baru, sains berkutat dalam dua hal: (1) bagaimana kita bisa tahu bahwa suatu hipotesis mungkin benar (“pembenaran”) dan (2) bagaimana kita bisa mensintesis suatu hipotesis untuk “dibenarkan” (“penemuan”). Dua hal ini sama-sama krusial; seseorang yang jago menguji hipotesis tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak ada yang diuji sementara hipotesis paling kreatif yang bisa kita buat tidak ada artinya kalau kita tidak bisa menguji kebenarannya.

Mendapatkan pemikiran baru untuk dijadikan hipotesis tidak mudah. Sebagian besar hipotesis yang ada di Ekologi berasal dari hipotesis yang sudah lama ada sebelumnya yang dikembangkan dalam konteks yang berbeda. Namun, kecenderungan para peneliti untuk setuju satu sama lain menyebabkan suatu asumsi begitu lama diterima sampai ketidakcocokan terhadap asumsi tersebut dibebankan kepada data. Hal ini terjadi dalam banyak hal: pengaruh fragmentasi habitat terhadap biodiversitas, teori biogeografi pulau, dan lain-lain

The most serious errors in science don’t arise from ignorance of what’s true, they arise from believing what’s false.
Jeremy Fox

Saya sejujurnya kaget mendapati hal-hal ini karena selama S1, mata kuliah selalu mengajarkan kita untuk percaya suatu konsep. Bahkan Pak Adi Pancoro, dosen Genetika di ITB, mengatakan bahwa DNA menjadi RNA menjadi protein adalah dogma, “Ingat itu, nanti kalau ditanya malaikat, katakan protein berasal dari RNA dan RNA berasal dari DNA.” Mungkin memang kurikulum sarjana bertujuan untuk menanamkan konsep-konsep dasar sementara kritis sekedar bonus, namun budaya berpikir kritis yang kurang diaplikasikan dalam lingkungan akademis perguruan tinggi kala saya masih kuliah lumayan membuat saya keteteran dalam banyak sesi diskusi dengan teman-teman di S2.

Menjadi kritis disebut juga menjadi devil’s advocate, pengacara setan. Mungkin tidak akan seganteng Keanu Reeves, tapi membangun argumen oposisi adalah sehat dalam sebuah diskusi ilmiah. Contoh kasus yang produktif di mana banyak saintis yang tidak saling setuju berdiskusi tentang hipotesis yang tepat untuk diuji muncul ketika Homo florensis ditemukan di Flores waktu silam, dan yang belakangan agak populer di kalangan kawan-kawan ekologi-evolusi adalah apakah kita sungguh punya spesies orang utan baru. (Baca kegalauan salah seorang penelitinya di sini dan respon lanjut media di sini jika kalian tertarik).

Tak Selamanya Berbeda Itu Indah

Saya akui, membangun pemikiran baru tidak selamanya berujung manis. Banyak gerakan-gerakan negatif berasal dari pemikiran baru semisal teori konspirasi dan “fakta alternatif”; mereka adalah upaya menjadi tidak setuju. Perbedaannya dalam konteks yang saya bawa adalah mereka sudah ada dalam konteks kebenarannya sendiri. Hal ini tidak semata ada dalam debat seputar agama dan politik. Sains juga tidak lepas dari dogma yang membuat orang tidak berhasil menerima perbedaan pendapat (Saya bersama Thomas Kuhn dalam hal ini).

Karena itu, saya menyesalkan teman-teman pendukung Teori Evolusi yang langsung tidak mau mendengarkan hipotesis apa pun dari pendukung Irreducible Complexity dengan langsung mengatakan “itu bukan hipotesis karena memang tidak ada”. Padahal sudut pandang dan cara pikir yang berbeda dari teori lawan ini bisa dipakai untuk memperkaya penemuan dalam evolusi. Peneliti yang malas langsung sekedar mengatakan bahwa teori ini tidak masuk akal; peneliti yang rajin akan langsung bersemangat mencari desain penelitian yang mematahkan teori lawan.

Namun, menjadi objektif itu melelahkan. Lebih mudah menjadi bias karena lebih sedikit informasi yang harus dicari dan dikonfirmasi. Jadi, aku tidak menyalahkan mereka yang bersikeras dengan pendapat mereka tentang Irreducible Complexity. Seperti halnya gambar berikut, orang berbeda pendapat masing-masing karena kurang informasi.

Salah satu dari mereka pasti ada yang salah; seseorang bermaksud menggambar angka 6 atau 9, tidak mungkin keduanya. Mereka perlu tambahan data dan mencari orientasi yang tepat, cari apakah ada angka lain yang sejajar dan dapat memberi informasi orientasi. Mungkin ada jalanan atau bangunan di sekitar situ yang mereka representasikan, atau mereka bisa tanya seseorang yang benar-benar tahu. (Sumber: https://imgur.com/gallery/OJkuk). 

Dan seperti yang gambar tersebut implikasikan, orang memiliki opini tanpa dukungan informasi tentang sesuatu yang dia tidak ketahui dan mengklaim opini mereka sama validnya dengan fakta adalah apa yang menghancurkan dunia. Ketika hal ini terjadi, artinya tidak ada yang benar-benar menginginkan kebenaran. Tidak ada yang ingin benar-benar tahu; mereka hanya ingin menjadi benar.

Manusiawi. Menjadi benar itu menyenangkan. Namun perdebatan yang tak sehat karena kurang data semacam itu bukanlah yang memajukan ilmu pengetahuan. Tak ada penemuan baru dari saling ngotot tentang apa yang benar. Akhirnya, kita harus kembali lagi ke tujuan awal adu argumentasi.

Hal lain yang menghalangi perkembangan penemuan baru adalah kelemahan komunikasi. Ketika seseorang gagal menyampaikan gagasan kontranya, orang akan cenderung tidak setuju. Hal ini juga terjadi dalam teori evolusi ketika Lamarck kalah dari Cuvier dalam hal publikasi gagasannya dan di masa kini ketika Mark Vellend gagal mempublikasikan sebuah artikel di Nature tentang biodiversitas global yang tidak menurun.

Sekali lagi, menjadi tidak setuju hanya bermanfaat jika dilakukan dengan semangat yang sama: mencari kebenaran. Hal ini tidak akan terjadi, tentu, kalau masing-masing merasa sudah mendapatkan kebenaran masing-masing. Meminjam paparan Gus Mus,

“Nabi itu bersabda, selama orang itu masih belajar, orang itu pandai. Ketika orang itu berhenti belajar karena merasa pandai, mulailah dia menjadi bodoh.”

Jadi, dengan tulisan ini, saya ingin mendukung teman-teman mengemukakan pendapatnya tentang suatu isu, seaneh apa pun itu. Tentu saja dengan cara yang beradab. Kecuali jika kamu ingin membuat orang lain kesal dan tidak mengejar kebenaran, seperti yang lebih mudah dilakukan kebanyakan orang di dunia maya.

Belajar tentang Perubahan dari Pertarungan Lamarck vs Cuvier

Bagi saya, menilik sejarah sains berguna untuk memahami bagaimana sains selama ini dilakukan dan bagaimana peradaban ikut berevolusi bersama perubahan paradigma. Dalam kasus Teori Evolusi, saya mendapati bahwa gagasan-gagasan dalam teori tersebut berubah seiring waktu bersama dengan pemahaman dan penemuan yang terus berlangsung sepanjang zaman. Satu fragmen dalam sejarah Teori Evolusi yang kita kenal sekarang yang paling menarik perhatian saya adalah jaman abad ke-18 ketika Lamarck dan Cuvier hidup. Pertarungan mereka merupakan contoh menarik dialog antar-paradigma yang sehat sekaligus tidak sehat.

Lamarck dianggap sebagai salah seorang naturalis yang pertama mengusulkan kerangka pemikiran yang koheren tentang perubahan spesies sampai On the Origin of Species terbit. Namun, di masanya, teori ini selalu dipandang sebelah mata oleh mereka yang menganggap spesies tak mungkin berubah. Hal ini sedikit-banyak saya pahami sebagai ulah salah seorang naturalis pada masa itu yang sangat pintar menjual temuannya: Cuvier.


Image resultJean-Baptiste Lamarck adalah seorang naturalis Prancis pada era Revolusi Prancis yang mengajukan gagasan bahwa spesies dapat berubah bersama perubahan lingkungan. Ia dikenal dengan teorinya bahwa spesies akan mengalami perubahan struktur seiring dengan penggunaan struktur tersebut dan perubahan ini akan diturunkan ke generasi selanjutnya. Contoh yang dia pakai dalah tikus tanah yang buta atau ketiadaan gigi dalam paruh burung.

Georges Cuvier.pngGeorges Cuvier juga seorang naturalis Prancis; ia hidup di masa yang sama dengan Lamarck. Lain halnya dengan rekan naturalisnya, ia tidak suka dengan gagasan bahwa spesies dapat berubah seiring waktu. Latar belakangnya sebagai paleontolog membuatnya melihat bahwa spesies tak mungkin begitu saja mengubah fitur yang sudah sangat cocok dengan habitat mereka tanpa menurunkan kelulushidupan spesies tersebut.


Bermula dari membaca tulisan Elizabeth Kolbert dalam bukunya The Sixth Mass Extinction: An Unnatural History, saya melihat dari berbagai sumber bahwa Lamarck begitu disalahpahami oleh sebagian besar evolusionis karena elegi yang ditulis Cuvier untuk Lamarck ketika sang naturalis wafat. Cuvier lebih banyak mengritisi pekerjaan Lamarck alih-alih mengenang hidupnya. Karena Cuvier merupakan saintis yang sangat “menjual” di zamannya, tulisan Cuvier menggema sepeninggal Lamarck dan tidak ada lagi yang berusaha mengerjakan teori Lamarck hingga buku Darwin keluar.

Pertarungan Lamarck vs Cuvier

Untuk memahami bagaimana Cuvier melakukannya, kita perlu pahami dulu bahwa Lamarck punya dua ide besar untuk menjelaskan perubahan spesies: spesies beradaptasi dan spesies berubah ke bentuk yang semakin kompleks. Idenya berbasiskan kepada penemuan Spallanzani yang mendukung teori generatio spontanea; makhluk hidup dapat muncul dari substansi tak hidup. Menurut Lamarck,

“Pergerakan cairan yang sangat cepat akan mengukir kanal-kanal di antara jaringan-jaringan yang rapuh. Kemudian, aliran ini akan makin bervariasi, membentuk organ-organ yang berbeda. Cairan ini, sekarang semakin kompleks, menjadi sumber varian sekresi yang lebih bervariasi dan berbagai substansi yang menyusun suatu organ.” (Histoire naturelle des animaux sans vertebres, 1815)

Lamarck menggunakan prinsip kimia dan fisika sepenuhnya untuk menjelaskan perubahan spesies dari sederhana menjadi kompleks. Karena prinsip fisika dan kimia yang demikian, biologi juga semestinya demikian. Sebagai konsekuensinya, organisme dapat berubah ketika menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penggunaan sutau organ secara berkelanjutan akan membantu perkembangan organ dan memberi organ tersebut kekuatan yang sebanding dengan lama penggunaannya. Ketika suatu organ tidak digunakan, tentu saja, kondisi organ tersebut akan memburuk dan lama-lama menghilang dari suatu spesies. Kadar penggunaan organ ini diatur oleh lingkungan dan akan diturunkan ke generasi selanjutnya oleh individu yang mengalami perubahan tersebut.

Cuvier menganggap penjelasan Lamarck tidak cukup untuk membuktikan bahwa spesies dapat berubah seiring waktu. Menurut Cuvier dalam eleginya teori Lamarck bergantung kepada dua hal yang sangat arbitrer dan tak dapat dibuktikan: suatu cairan yang dapat berubah dan organ dapat berubah sesuai keinginan. Lebih lanjut dia membawa kritiknya ad hominem,

“Sebuah sistem yang dibangun berdasarkan fondasi yang demikian dapat menawan imajinasi seorang penyair; seorang ahli metafisika dapat menurunkan sistem yang sama sekali baru darinya; namun sistem ini sama sekali tak dapat lolos dari pengujian seseorang yang telah membedah sebuah tangan, sebuah organ internal, atau bahkan sehelai bulu.” (Éloge de M. de Lamarck)

Cuvier menolak kedua ide ini berdasarkan hasil observasinya terhadap fosil-fosil yang tak pernah ia lihat mengalami perubahan transisional dalam anatomi. Spesies mengalami apa yang disebut “punctuated equilibrium” ketika strata fosil yang lebih muda menghasilkan bentuk yang sama sekali berbeda dari strata fosil yang lebih tua. Ia berusaha mengacu kepada bencana-bencana alam dalam Alkitab yang memusnahkan hewan-hewan ini. Lamarck melawan dengan menyatakan bahwa perubahan yang dia maksudkan terjadi dalam waktu yang sangat lama sehingga tak dapat diobservasi dalam satu generasi manusia. Pelik ‘kan?

Dengan apa yang sains bisa lakukan saat itu, Cuvier tampak lebih meyakinkan dari Lamarck dan ia lebih dipercaya sepeninggal Lamarck. Bersama dengan wafatnya Lamarck dan terbitnya elegi buatan Cuvier (1836), gagasan bahwa spesies dapat berubah tak lagi banyak dibahas hingga buku Darwin terbit (1859). Sebegitu hebatnya pengaruh seorang saintis yang pintar menjual idenya sampai bisa mengubur sebuah teori selama satu generasi.

Menurut saya, Lamarck kala itu tak dianggap serius (bahkan hingga sekarang) karena dia berusaha menghasilkan teori dari sesuatu yang tak dapat benar-benar diobservasi. Cuvier, sebagai lawannya, menarik lebih banyak perhatian melalui keahliannya mengidentifikasi fitur anatomi hewan masa kini dalam tiap fosil yang ditemukan. Mereka berdua, walau sama-sama melihat apa yang orang lain tidak lihat, berbeda dalam menjelaskan satu hal yang sama. Semacam dialog beda frekuensi. Cuvier membicarakan level makro sementara Lamarck membicarakan level mikro.

Lamarck dianggap keliru oleh sebagian besar evolusionis karena hipotesisnya dipandang dalam skala makro ala Cuvier. Tentu saja binaragawan yang banyak menggunakan ototnya tidak memiliki anak yang langsung beroto pula. Tentu saja tikus yang dipotong ekornya tidak akan pernah memiliki keturunan yang terputus ekornya. Lamarck punya ide yang bagus, tapi tidak mempunyai cara yang bagus untuk menjelaskan mekanismenya. Secara konsep, ia adalah pionir; secara eksekusi, Darwin adalah pionir.

Bersama dengan revolusi biologi molekuler, para ilmuwan melihat lebih dalam ke “cairan” yang dimaksud Lamarck. Protein, DNA, dan berbagai molekul yang dapat mengatur penampakan organisme lambat laun ditemukan. Konsep hereditas pun terbentuk: DNA sebagai molekul yang diwariskan dari generasi ke generasi merupakan kunci dari prinsi penurunan sifat. Apa yang ada dalam DNA suatu individu akan ada dalam DNA keturunan individu tersebut. Namun, penemuan konsep ini justru membuat teori Lamarck “bid’ah” di kalangan evolusionis. Karena dogma bahwa segala sesuatu yang diturunkan ke generasi selanjutnya harus berasal dari apa yang ada dalam DNA, segala sesuatu yang tidak tampak berasal dari DNA dianggap tak dapat diturunkan ke generasi selanjutnya. Perubahan fisik akibat pengaruh lingkungan tak mungkin mengubah DNA, dan DNA yang berubah seringkali berbahaya untuk tubuh. Ini adalah pahan Neo-Darwinisme yang mulai menemukan bentuknya pasca ditemukannya mekanisme replikasi DNA.

Namun, perlahan ilmuwan menemukan konsep epigenetik: DNA memang tidak berubah, tapi regulasi ekspresi DNA dapat berubah. Sebagai cetak-biru protein dalam tubuh, DNA dapat diatur seberapa banyak ia dapat diaktifkan atau justru didiamkan agar protein-protein tertentu disintesis lebih banyak atau lebih sedikit. Para regulator inilah yang dapat berubah dan perubahan mereka dapat diwariskan ke generasi selanjutnya. Melalui penemuan-penemuan epigenetik, konsep “modifikasi yang diturunkan” mungkin terjadi dalam DNA. Dogma utama konsep hereditas tidak dilanggar, namun bagaimana, kapan, dan seberapa banyak DNA diekspresikan menjadi protein inilah yang berubah dan dapat diturunkan ke generasi selanjutnya.

Pada akhirnya, Lamarck tidak sepenuhnya salah. Namun, ini membuat konsep penurunan sifat menjadi lebih rumit. Jablonska dan Lamb dalam bukunya Evolution in Four Dimension menganggap bahwa konsep ini tidak banyak beredar di kalangan evolusionis karena sulitnya menyusun ulang konsep hereditas jika kita harus memasukkan ide bahwa perubahan yang dipengaruhi lingkungan dapat diturunkan. Menolak sebuah paradigma dan menggantinya dengan paradigma baru lebih mudah daripada mengintegrasikan dua paradigma.

Cuvier? Argumennya bahwa spesies tidak berubah karena mumi kucing dari ribuan tahun sebelum masehi tidak menunjukkan morfologi yang berbeda dari kucing masa kini juga tidak salah. Namun, tidak semua hewan mengalami hal yang sama dengan kucing. Lamarck juga mengajukan argumen tandingan bahwa spesies butuh waktu yang lebih lama lagi untuk berubah. Sayangnya, fosil transisi sangat sedikit dan menemukan fosil tidak mudah. Hewan yang tinggal di lingkungan tropis cenderung lebih mudah membusuk hingga ke tulang belulang dibandingkan hewan arktik. Para oposisi teori evolusi kerap menggunakan argumen tentang ketiadaan fosil transisi untuk melawan konsep perubahan spesies. Kelemahan rekaman fosil untuk secara utuh menjelaskan masa lalu masih menjadi senjata dari para oposisi makroevolusi atau pembentukan spesies baru. Tidak ada perubahan organ yang begitu tajam semisal rambut menjadi bulu atau gigi menjadi paruh yang bisa kita amati di alam dalam masa umur manusia.

Perubahan Persepsi tentang Spesies

Cuvier tidak sepenuhnya keliru, sementara teori Lamarck bekerja dalam dimensi yang berbeda. Dimensi yang dikerjakan evolusionis masa kini. Sampai saat ini, apa yang dilihat para evolusionis baru mikroevolusi atau perubahan frekuensi alel dalam gen. Makroevolusi atau pembentukan spesies baru masih sulit diamati langsung prosesnya di alam; kita hanya melihat hasil berjuta-juta tahun mikroevolusi. Namun, makroevolusi bukan lagi pertanyaan yang dikerjakan evolusi.

Semakin dalam pengetahuan para peneliti seputar Biologi molekuler, perkembangan organisme, dan konsep hereditas, konsep spesies itu sendiri makin dipertanyakan. Manusia punya begitu banyak kesamaan sekuens DNA dengan simpanse. Kita punya struktur tulang yang sama dengan kucing atau sistem ekskresi yang mirip dengan tikus. Jika tidak, untuk apa obat-obatan dan zat kimia diujikan dulu ke hewan sebelum manusia? Seberapa berbeda suatu organisme dari organisme lain sampai mereka disebut spesies yang berbeda? Apalagi jika kriteria spesies bahkan ditentukan oleh manusia, apakah relevan membahas pembentukan spesies?

Karena itu, saat ini kebanyakan evolusionis tidak lagi meributkan apakah spesies berubah atau tidak. Spesies adalah hipotesis, bukan entitas yang sungguh-sungguh ada. Ia adalah nama yang kita berikan kepada organisme untuk memudahkan pembelajaran kita terhadap mereka. Saat ini, yang lebih mudah tampak adalah bagaimana suatu gen muncul dan bertahan di alam, bagaimana hal ini dapat memengaruhi kelulushidupan suatu populasi, dan lain sebagainya. Hal ini dibawa Darwin dalam contohnya tentang domestifikasi hewan dan tumbuhan. Jagung yang kita makan saat ini bulirnya dahulu tak sebesar itu. Kucing yang tinggal bersama kita saat ini mewarisi perilaku kucing liar ketika mereka memindahkan anaknya secara berkala setelah melahirkan.

Sains bekerja mengubah paradigma manusia seiring waktu dengan cara yang berbeda di tiap zaman. Berbeda dengan masa kini misalnya, Lamarck dan Cuvier adalah penganut ajaran Alkitab walaupun keduanya berbeda pandangan tentang bagaimana spesies ada. Saat ini, mungkin seorang Lamarck akan dianggap ateis atau minimal agnostik karena percaya bahwa tak perlu intervensi Tuhan dalam pembentukan spesies. Cuvier akan dianggap kreasionis karena tak percaya bahwa spesies dapat berubah seiring waktu. Kubu yang sama akan tetap ada, hanya berbeda nama dan alasan. Tapi, saya yakin kedua naturalis ini tidak akan suka dengan nama kubu masa-kini yang disematkan ke masing-masing.

Sampai Semesta menyusut, saya kira perdebatan antar-paradigma ini dan perubahan persepsi yang terjadi selanjutnya adalah niscaya. Saat ini Lamarck dan Cuvier hanyalah bagian dari sejarah perdebatan panjang; pada akhirnya tidak ada yang paling tepat di antara keduanya dalam menjelaskan mekanisme alam. Belajar dari pertarungan mereka dalam sejarah teori evolusi, apa gunanya tegang otot jika apa yang kita tahu selama ini belum final dan masih akan terus berubah?

Bagaimana Cara Memulai Menulis Skripsi, Tesis, dan Apa Pun

Sudah dua kali berturut-turut saya menjalani dunia akademik yang membutuhkan pelaporan proyek di akhir studi: S1 dan S2. Dua kali berturut-turut juga saya mengalami masalah dengan penulisan laporannya: harus mulai dari mana?

Ketika saya menulis skripsi, saya dengan mudah mengikuti petunjuk yang dulu ada sejak dikuliahi penulisan teks akademik, academic writing, dan teknik komunikasi ilmiah. Ketiga kuliah ini berprogres seiring waktu, mulai dari sekedar mementingkan pakem ejaan dan format resmi karya tulis ilmiah (Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, dst.) sampai dengan memoles teknik menyampaikan sebuah argumen. Karena memang saya suka membaca dan menulis, ditambah kuliah gratis tentang menulis dari ibu sendiri yang notabene dosen, proses menulis skripsi tidak terlalu susah. Saya masukkan saja semua yang saya tahu di Tinjauan Pustaka, berusaha membela alasan meneliti di Pendahuluan, menjabarkan apa yang saya lakukan di Metode, lalu mencerocos di Hasil dan Pembahasan. Simpulan tinggal menjawab poin-poin tujuan di Pendahuluan.

Saya sesungguhnya tak terlalu suka skripsi yang saya tulis kala itu. Saya merasa kurang berkontribusi ke keilmuan yang sedang saya pelajari dan melakukan sesuatu hanya karena itu tampak keren. Ibu saya kemudian mengatakan bahwa S1 memang hanya belajar meneliti; S2 baru kamu melakukan penelitian dan S3 kamu melakukan sesuatu yang baru. Karena itu, saya membiarkan skripsi saya seperti itu. Dosen pembimbing saya yang suka saya tengkari kala itu tentang filosofi penelitian saya juga tidak banyak memberikan koreksi krusial. Untuk standar S1, tampaknya saya sudah cukup memuaskan sistem yang berlangsung di jurusan dan fakultas saya. Namun saya sendiri kurang puas.

Lalu saya mengenyam S2 di Jerman, tepatnya di Ludwig-Maximilians-Universität München.

Ada yang menarik dengan budaya menulis laporan akhir studi sarjana di Jerman. Skripsi dan tesis sama-sama disebut “thesis” sementara hanya studi doktoral yang berbeda dengan menyebut laporan akhirnya “dissertation“. Kita dapat belajar budaya dari bahasa dan usut punya usut, perbedaan penyebutan ini yang membuat tradisi menulis di Indonesia berbeda dengan di Jerman. Dari kata “thesis” ini, mahasiswa diharapkan untuk membuat tesis dari penelitiannya atau pernyataan inti tentang apa hal baru yang dia temukan dari penelitiannya. Dengan demikian, akan mudah untuk menulis sebuah artikel sebagai satu unit yang kohesif.

Kurikulum tentang cara menulis sebuah karya ilmiah sesungguhnya sudah dirancang dengan baik oleh perguruan tinggi tempat saya mengenyam S1 dulu: kuasai detil tentang cara menulis lalu mulai pikirkan tulisan kita sebagai sebuah cerita. Namun, saya merasa kurang berhasil menuliskan skripsi saya sebagai sebuah cerita karena mungkin dosen pembimbing saya kala itu tidak fokus ke sana. Meskipun demikian, beliau menyuruh saya menulis ulang skripsi saya dalam bentuk artikel ilmiah yang bisa dipublikasikan di jurnal internasional. Penolakan pertama saya sudah terjadi dan mungkin hal ini terjadi karena beberapa hal yang tidak saya pahami untuk menulis artikel ilmiah dengan baik.

skrptes
Skripsi dan tesis saya berdampingan. Perlu diketahui bahwa format sampul tesis di sini tidak baku; yang penting ada judul, nama penulis, nama laporan dan identitas fakultas dan staf TU akan senang.

 

Sekarang, setelah mengalami dua kali menulis teks akademik, saya mulai memahami apa yang membuat memulai menulis lebih mudah.

Mulai dengan pertanyaan

Penelitian umumnya berupaya menemukan sesuatu entah itu menguji hipotesis tertentu atau mengeksplorasi kemungkinan. Saat ini, Ekologi dan Evolusi yang mulai dipahami sebagai disiplin yang memuat multicausality (satu fenomena disebabkan oleh banyak hal yang saling berkaitan), menguji hipotesis tak lagi menjadi satu-satunya cara meneliti/membingkai jalan cerita penelitian. Eksplorasi seluruh data hingga ke pencilan-pencilannya merupakan penelitian tersendiri, terutama jika memang tak ada data lain tentang hal yang ingin dieksplor. Jangan memaksa diri untuk menulis pengujian hipotesis; ketika hipotesis yang ditulis tidak dapat difalsifikasi/diuji, hilang kita dibantai para profesor!

Mulai dengan pernyataan

Ini adalah aliran lain dalam menulis tulisan ilmiah. Jika sebelumnya (dan yang lebih umum) adalah menemukan pertanyaan, menemukan pernyataan atau sebuah tesis dalam penelitianmu juga merupakan cara mudah memulai tulisan: apa yang akan kamu katakan jika kamu harus menulis penelitianmu dalam satu kalimat? Setelah itu jelaskan bagaimana tepatnya kamu melakukan itu, mengapa itu penting, dan apa dampak dari hasil yang kamu temukan.

Mulai dari artikel kecil untuk mendapatkan struktur

Tulisan awal ini tidak harus langsung seluruh tesis; bisa artikel kecil yang mengenalkan tentang penelitian kita. Mengemas ringkas penelitian kita dalam bahasa yang umum dan mudah dimengerti akan memudahkan kita mendapatkan struktur yang diperlukan. Selain itu, tulisan perlu dibuat seolah sedang menulis cerita fiksi; pikirkan alur dan karakter. Subjek penelitian harus dikenalkan dengan konsisten dan diceritakan dengan bertahap.

Segera tulis!

Menulis membantu kita menata pikiran. Jangan terlalu lama dipikir akan ditulis seperti apa; tulis! Menulis mengaktifkan otak kita dan membantu kita mengonkritkan gagasan yang selama ini berkabut di kepala. Ketika kita menulis, jutaan sinaps menyala sembari berusaha menghubungkan segala informasi yang kita punya terkait topik yang sedang ingin kita tulis. Inspirasi akan datang bersama proses menulis.

Menulis dan menyebarkan hasil penelitian juga menjadi salah satu alasan kemajuan penelitian suatu kelompok. Dengan tulisan, lebih mudah untuk mengomunikasikan metode baru yang kita temukan atau hasil penelitian yang kita dapatkan dan mendapatkan masukan dari rekan peneliti atau masyarakat awam. Lalu, suatu topik penelitian akan berkembang makin pesat seiring berjalannya diskursus.

***

Ada hal-hal lain juga yang mungkin akan mendorong “memulai” menulis lebih mudah semisal perasaan kompetitif melihat kawan lain sudah pada lulus (#uhuk) atau malah sudah publikasi, tenggat waktu yang makin dekat, atau kerewelan rekan sejawat karena ia ingin segera punya poin publikasi. Mungkin juga alasan yang lebih besar semisal menyebarkan ilmu yang bermanfaat atau mendokumentasikan proses mencari ilmu. Ambil saja alasan memulai yang paling produktif dan segera menulis.


Untuk yang tertarik dengan sumber-sumber tentang tips menulis, bisa cek beberapa tautan menarik berikut:

Curzan, Anne. 2017. “Why I Don’t Ask Students to Write the Thesis Statement First“. The Chronicle of Higher Education.

McGill, Brian, 2012. “Some well-known tricks for clear writing” Dynamic Ecology.

McGill, Brian. 2014. “How to write a great journal article – act like a fiction author” Dynamic Ecology.

McGill, Brian. 2016. “The 5 pivotal paragraphs in a paper“. Dynamic Ecology.

Sila tambahkan di komentar jika ada yang punya tambahan ilmu!

Statistik dan Arus Informasi dalam Ekologi: Apa Saja yang Harus Dipelajari?

Bersama dengan kecepatan internet yang tinggi, timbul tanggung jawab banjir informasi yang tinggi pula. Sekolah di luar negeri dengan segala tantangan dan keuntungannya memberikan saya akses terhadap informasi yang berlimpah ruah. Menyenangkan? Hmm…

Dengan arus informasi yang makin cepat, saya merasa makin gila. Selagi menyusun proposal tesis, paper baru terus bermunculan membalap kapasitas otak saya yang makin menurun seiring usia. Ketika Paper A muncul mengusulkan metode baru yang lebih efektif untuk objek studi saya, saya mencobanya dengan riang. Namun konsep yang harus saya pahami untuk mengerjakan analisis tersebut cukup banyak sehingga baru dalam dua minggu saya paham bagaimana cara melakukannya. Baru saja paham, ada paper B yang menyatakan bahwa metode dalam paper A memiliki kelemahan fatal untuk menjawab pertanyaan yang ingin saya ajukan dalam tesis saya. Waktu saya baca, “Hah, benar juga! Kenapa saya tidak kepikiran waktu baca sebelumnya?”

Hal ini terus terjadi selama sebulan. Alhasil proposal tidak kunjung jadi. Begitu mepet tenggat waktu, saya malah kembali ke metode klasik.

Ketika penelitian tesis dilakukan, yang terjadi tidak jauh berbeda. Supervisor membombardir saya paper baru yang terus saja muncul, berisi usulan atau bantahan terhadap suatu metode atau konsep, kajian terbaru dan segala debat tentangnya, sampai saya benar-benar teriak frustasi ke depan suami laptop, “Berhenti dulu publikasi kenapa sih, kalian??”

Kegilaan arus informasi ini bersama dengan perasaan bertanggung jawab ajaran kode moral saya untuk menyebarkan ilmu yang saya tahu cukup membebani kepala saya. Saya butuh mentor. Saya butuh bimbingan.

Seperti saya berguru tentang Al Qur’an ke mereka yang sungguh-sungguh mempelajarinya, saya tentu memilih mereka yang sungguh-sungguh mendedikasikan diri mereka ke menyebarkan ajaran Ekologi ke dunia seutuh dan seindah mungkin. Hal ini saya temui di blog kolaborasi tiga orang profesor Ekologi dari US: Jeremy Fox, Brian McGill, dan Meghan Duffy, dengan hostnya Jeremy Fox, judulnya Dynamic Ecology.

Profesor-profesor ini kalo udah suntuk penelitian, mereka procrastinating dengan nge-blog. Buat mereka, nge-blog adalah cara paling efektif untuk nulis dan menjangkau masyarakat awam tanpa harus memperhatikan conflict of interest. Blog kayak gini nggak cuma ada satu. Ada…
Small Pond Science yang juga tentang Ekologi tapi lebih banyak tentang perkembangan dunia akademik,
Error Statistics tentang perkembangan filosofi seputar ilmu statistik,
Extinct
tentang Paleontologi dan filosofinya,
situs  yang mengumpulkan tulisan banyak orang tentang permodelan statistik,
Stats Blogs yang mengumpulkan banyak tulisan tentang statistik termasuk situs milik Andrew Gelman yang hobi banget diskusi hal-hal yang diributkan dalam statistik dan situs Simply Statistics yang ditulis oleh tiga orang profesor Biostatistik,
…semua isinya omelan profesor-profesor di luar penelitian ilmiah mereka tentang penelitian ilmiah mereka. Di About atau Tentang dari setiap situs, mereka selalu menekankan betapa pandangan mereka tidak mencerminkan pandangan institusi tempat mereka bekerja.

Dynamic Ecology adalah yang paling saya anggap relevan ketika saya bingung tentang metode atau analisis tertentu. Mereka sangat suka melempar isu dan berdiskusi tentang isu yang mereka lempar dalam blog mereka. Dari blog inilah saya tahu situs-situs blog yang lain dan belajar banyak dari mereka. Saya jadi paham banyak masalah dalam konsep Ekologi, bagaimana mereka bermula, sampai isu komunikasi sains, bias gender, politisasi sains, statistik, filosofi sains, kehidupan akademik universitas, dan masih banyak lagi.

Ketika mereka membuka “Ask us anything”, saya langsung nimbrung dan curhat di komen dan langsung dibalas oleh Jeremy Fox dengan beberapa tulisan mereka tentang statistik dalam ekologi.

Kesederhanaan adalah Koentji

Brian McGill dan Jeremy Fox (sila kepo tautannya) adalah dua profesor di bidang ekologi yang bermula dari matematika. Berdasarkan hemat mereka, memahami analisis variansi dan generalized linear modelling sangat penting untuk memahami berbagai metode statistik yang digunakan dalam penelitian-penelitian seputar Ekologi. Mengapa? Karena umumnya dalam ekologi, kita ingin tahu apakah nilai suatu variabel menyebabkan perubahan nilai variabel lain. Apakah kenaikan suhu menyebabkan penambahan massa sapi? Apakah jumlah spesies meningkatkan produktivitas hutan? Statistik paling sederhana untuk menjawab pertanyaan korelasi macam ini adalah regresi. Namun, karena kita memiliki banyak replikasi dalam penelitian kita, kita juga perlu tahu seberapa banyak variansi dalam kelompok memengaruhi perubahan nilai tersebut, dan di sinilah ANOVA dan ANCOVA masuk. Dengan kata lain, mata kuliah Biostastik yang dahulu kala mengajarkan ANOVA dan regresi linear udah bener! Menurutku yang menjadi masalah adalah Biostatistik mengajarkan lebih banyak teknik dan formula alih-alih konsep yang sesungguhnya sangat penting bagi statistik yang sesungguhnya subjektif arbitrer ini.

Selain itu, metode yang paling penting adalah metode reduksi dimensi. Ekologi melibatkan jutaan variabel di alam dan untuk memahami bagaimana setiap variabel ini memengaruhi variabel respon yang ingin kita ukur kita harus paham bagaimana meringkas berbagai variabel ini menggunakan metode clustering atau pengelompokkan semisal PCA.

Intinya, mereka mengusulkan untuk tetap menggunakan metode yang paling sederhana. Jawaban khas anak Matematika. Sila simak jawaban mereka di sini, sini, dan sini. Pengecekan asumsi dan distribusi probabilitas selalu perlu, tapi tak perlu berlebihan.

Tetap Jaga Hubungan dengan Arus Informasi

Menjadi sederhana adalah solusi, namun saya sepakat dengan Thomas L. Friedman dalam bukunya Thank You for Being Late mengikuti nasihat pemain kayak profesional bahwa hal terburuk yang bisa kamu lakukan ketika arus air bergerak makin cepat adalah mengerem dayungmu. Kamu harus mendayung setidaknya sama cepat dengan arus agar tidak melenceng dari jalur.

Sambil memperdalam hal-hal yang sederhana seputar Ekologi, saya terus mengikuti perkembangan terbaru dengan mengikuti blog-blog tersebut, langganan milis beberapa forum dan jurnal, ikutan grup fesbuk yang relevan selama bisa, mengikuti akun Twitter jurnal dan peneliti di bidang yang relevan, dan masih banyak lagi.

Agar tidak semakin gila, saya masih menjaga koneksi dengan teman-teman yang bisa diajak diskusi tentang hal-hal semacam ini dari jurusan saya sendiri, para optimist dari Indonesia dan semua orang yang tidak takut belajar hal baru dan bergerak bersama arus.

Karena, pada akhirnya apa yang harus dipelajari adalah kemampuan seumur hidup untuk terus belajar, mengingat banyak hal yang makin bisa diotomatisasi dengan algoritma. Kita nggak bisa minta bapak-ibu yang terhormat ini berhenti publikasi; masa mau menghadapi kemajuan dengan stagnansi?

Memahami Evolusi Manusia Melalui Ukuran Jaket

Sebagai seorang istri yang sangat ketat dalam anggaran, saya tentu saja menanggapi keinginan suami akan jaket lapangan dan celana lapangan dengan mencari (sebisa saya) tempat di mana barang-barang itu dijual dengan harga semurah-murahnya. Di Jerman, tidak mudah mencari yang demikian di luar portal daring. Pasar barang bekas juga tidak selalu memiliki kedua jenis barang tersebut. Seakan tingkat kesulitan mencari barang yang sesuai anggaran belum cukup, tantangan berikutnya adalah mencari celana dan jaket dengan ukuran yang sesuai dengan badan-tipikal-Asia suami saya di antara ukuran-ukuran raksasa yang didiskon. Ketika saya sibuk mencari-cari konversi ukuran celana dan jaket Eropa ke Asia, saya menyadari hal yang menarik: betapa besarnya interval ukuran tubuh spesies yang kita kenal dengan nama Homo sapiens.

Kebesaran interval tentu relatif terhadap spesies lain. Jika di Eropa ukuran jaket untuk pria dewasa didasarkan kepada lingkar dada dan pinggang, penentuan satu spesies codot di Indonesia didasarkan kepada panjang lengan depan (fore arm) yang umumnya 57-63 mm (Cynopterus brachyotis). Bayangkan interval tersebut untuk satu spesies codot, sementara untuk seluruh manusia yang dianggap satu spesies (Homo sapiens), lingkar dada saja bisa berkisar dari 76-125 cm (dari XXS sampai XXL)! Jika menggunakan sudut pandang codot buah, laki-laki Indonesia usia 20an ke atas (n = 5) yang memiliki lingkar dada rata-rata 85 cm bisa dianggap spesies yang berbeda dari laki-laki Eropa pada rentang usia yang sama (n = 3) dengan lingkar dada rata-rata 105 cm. Ketika menemukan tengkorak manusia, bagaimana kamu menentukan itu masih satu spesies atau bukan? Ini belum lagi mempertimbangkan usia dan penyakit.

Image result for europe jacket size
Salah satu contoh konversi ukuran jaket Eropa ke ukuran internasional dalam inci. Karena satu inci sama dengan 2,54 cm, maka 30″ dalam tabel sama dengan 76,2 cm; rata-rata orang Indonesia di Eropa membeli jaket ukuran S atau M.

Isu ini juga dibawa oleh salah satu profesor antropologi LMU ketika membawakan salah satu kuliahnya yang saya ikuti. Menentukan spesies berdasarkan morfologi itu absurd.  Manusia memiliki morfologi yang sangat bervariasi. Dalam kaitannya dengan studi bukti-bukti evolusi, sulit menentukan apakah kita berbeda dari manusia purba lain hanya dari ukuran tengkorak dengan rentang variasi morfologi setinggi itu. Dengan kemajuan teknologi saat ini, peneliti lebih suka menentukan perbedaan spesies dari komposisi genetiknya. Namun, berdasarkan komposisi genetik, Homo sapiens tidak seberbeda itu dari manusia-manusia purba yang paling berkerabat dengan mereka, Denisovan dan Neanderthal. Beberapa sekuen DNA Neanderthal dan Denisovan ternyata juga dimiliki Homo sapiens pada era ini dan bermanfaat bagi adaptasi manusia terhadap lingkungan. Ketika hingga level molekuler seperti itu saja kita masih menemukan kesamaan dengan manusia purba yang dianggap berbeda spesies, bagaimana dengan sesama manusia yang berbeda suku, ras, etnis, dan agama masa kini?

Perbedaan dan kesamaan yang kita lihat antara satu entitas dengan yang lain, entah itu ras, etnis, atau spesies manusia purba, tak lain dan tak bukan adalah ilusi tentang kenyataan yang diberikan oleh otak kita. Memahami sesuatu sebagai kumpulan dari koneksi adalah sulit sehingga kita cenderung mengelompokkan dan mereduksi sesuatu ke unit-unit paling sederhana yang bisa kita pahami. Unit-unit ini, pada akhirnya lebih kompleks dari yang kita kira, tidak sesederhana yang kita bayangkan sebelumnya karena memiliki keterkaitan dengan unit lain. Pada akhirnya, unit-unit sederhana ini menjadi unit-kompleks-paling-sederhana. Tetap kompleks.

Konsep spesies dan pemisahan identitas hanyalah cara mudah memahami fenomena biologis dengan mereduksi bagian-bagian alam menjadi unit kompleks paling sederhana. Menglasifikasikan kelompok manusia kemudian juga menjadi sebuah upaya untuk memahami bagaimana dinamika sosial-politik-ekonomi dari suatu masyarakat/bangsa terjadi pada masa kini. Pengelompokan ini bermanfaat per se untuk memahami sesama manusia. Memahami mengapa kita berbeda dan apa yang dapat dilakukan mengenai perbedaan ini.

Namun, di tengah ideologi pecah-belah yang makin marak di tanahair, konsep penglasifikasian ini kehilangan manfaatnya dan dianggap lebih banyak keburukannya. Setiap perbedaan digunakan untuk menjustifikasi tindakan pembelaan diri dan prasangka buruk. Orang dipaksa memilih antara dua dikotomi yang keliru; jika kamu tidak setuju dengan saya, maka kamu pasti setuju dengan mereka. Kamu tidak mau dianggap munafik? Jangan bersikap seperti orang-orang yang kami anggap munafik. Konyol sekali.

Belanja jaket dan celana untuk suami saya di antara ukuran Eropa ini sebuah contoh ketika kita tidak bisa memaksakan keragaman manusia untuk menjadi homogen. Saya tak mungkin memaksakan ukuran badan Eropa untuk suami saya; walau bisa dikecilkan/dibesarkan, pada akhirnya ia dikecilkan/dibesarkan. Bisa dipakai, namun tetap harus disesuaikan. Selalu lebih nyaman memakai celana dan jaket dalam ukuran yang sesuai dan tidak memaksakan diri memakai ukuran yang tidak sesuai.

Lalu, jika kita bisa menerima manusia berbeda ukuran jaket dan celana, harusnya kita juga bisa menerima bahwa manusia saling berbeda untuk hal yang lain.

Ada Apa dengan Perhimpunan Pelajar Kita?

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan teman saya yang kecewa dengan Simposium Internasional PPI Dunia tahun ini. Dia mengecewakan kondisi simposium yang tidak kondusif dan kurang luaran jelas. Tulisannya sempat viral di kalangan pelajar Indonesia luar negeri beberapa hari belakangan dan menambah ramai sentimen negatif beberapa golongan terhadap pelajar Indonesia yang berkuliah ke luar negeri dengan uang beasiswa. Kegiatan dalam tulisan ini diklarifikasi oleh PPI UK sebagai tuan rumah kegiatan tersebut; mereka tidak bertanggung jawab terhadap kelakuan delegasi ketika simposium. Seakan itu tak cukup, PPI Belanda turut menyatakan sikap dengan menarik diri dari keanggotaan PPI Dunia hingga tuntutan mereka terpenuhi. Ada apa ini?

Sebelum PPI Belanda, PPI Jerman, dan PPI UK walk out dari simposium internasional PPI Dunia, saya sudah lama walk out dari kegiatan keorganisasian semacam ini. Sebagian besar hidup saya tidak saya habiskan sebagai anggota aktif di organisasi kemahasiswaan atau kesiswaan dalam semua institusi pendidikan yang saya ikuti. Himpunan mahasiswa, OSIS, Perkumpulan Pelajar, sebutlah. CV saya tidak banyak berisi pengalaman keorganisasian. Karena itu, mungkin saya bisa sedikit bicara tentang mengapa seorang anggota memutuskan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam sebuah organisasi.

Mengapa Pelajar Butuh Berorganisasi

Saya sesungguhnya menyesalkan kepasifan saya dalam banyak organisasi kesiswaan dan kemahasiswaan selama saya menjadi pelajar. Akademisi sering mengalami masalah karena kemampuan manajerial mereka yang rendah: mampu menemukan sesuatu, tak mampu memasarkannya. Ketidakmampuan akademisi untuk mengomunikasikan hasil penelitian mereka kepada masyarakat juga berujung kepada jurnalisme-jurnalisme setengah matang yang berakibat salah paham. Karena itu, tak heran kalau dosen wali saya terus menyuruh saya aktif di organisasi kemahasiswaan dan LPDP selaku sponsor S2 saya terus mengompori awardeenya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan berorganisasi: selain sains, kita butuh belajar juga tentang cara berinteraksi dengan sesama manusia.

Kita semua boleh mengaku tidak suka politik, namun kita perlu mengakui bahwa kita melakukannya tanpa sadar dalam kehidupan sosial kita. Dalam kelas, rukun tetangga, maupun kelompok pengajian, mau tak mau kita perlu mengakui ada “politik” yang dimainkan. Bagaimana caranya supaya saya bisa ikut ini dan itu, mengadakan program ini dan itu? Kapan saya boleh bilang begini atau begitu? Setiap kata dan tindakan mengandung konsekuensi untuk diri kita ke depan. Ada tokoh dan suasana yang harus diidentifikasi untuk mendapatkan apa yang penting bagi kita. Jadi, ketika saya gagal memahami “politik” ini, saya memutuskan untuk tidak bergabung dalam suatu organisasi.

Kecerdasaan interpersonal minim dan tidak suka berorganisasi mungkin alasan yang valid untuk tidak aktif. Saya merasa tuntutan untuk aktif di kegiatan keorganisasian cukup berat bagi saya. Saya sering berlindung di balik alasan “bukan tipe aktivis” atau “introvert” (tidak nyaman terlalu banyak berinteraksi dengan banyak jenis manusia)… sampai saya menyadari bahwa saya sesungguhnya aktif di organisasi-organisasi tertentu.

Menemukan Panggilan dan Memahami Sistem

Ketika saya memutuskan untuk lebih aktif di sebuah organisasi semasa S1, saya menyadari bahwa di organisasi tersebut ada kegiatan yang saya suka dan saya cukup ahli di sana relatif terhadap anggota lain. Saya membantu menyusun AD/ART organisasi yang saya ikuti, yang selama ini ternyata belum ada. Saya membantu melatih anggota baru, yang ternyata saya nikmati prosesnya lepas dari segala hiruk-pikuk di belakangnya. Saya mengeksplorasi diri saya dengan hal-hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya dan saya menikmati itu.

Lepas dari sekelumit keaktifan saya dalam kegiatan organisasi selama mahasiswa, saya masih lebih memilih membaca buku-buku kuliah dan mengerjakan sesuatu terkait keilmuan saya ketika saya masih S1. Kala itu saya berpikir, mungkin saya sekedar tidak cocok dengan sistem yang ada. Saya baru menikmati menjadi anggota organisasi ketika saya sudah lebih punya “kuasa” terhadap apa yang bisa saya lakukan: komunikasi lebih enak dengan yang bertanggung jawab atau tahu lebih banyak tentang sistem.

Saya kira saya akan lebih aktif dengan perkumpulan pelajar setempat ketika saya melanjutkan studi S2 di Jerman, namun ternyata tidak. Entah saya merasa kurang cocok dengan atmosfer anggota yang ada, entah saya terlalu fokus kepada studi yang memang makin sulit. Namun, saya menyadari bahwa saya masih bisa sedikit aktif di komunitas pengajian di kota saya studi. Saya juga mencoba membantu teman sejurusan ketika kuliah menyelesaikan masalah seputar keuangan jurusan saya. Himpunan kemahasiswaan di Jerman kuasanya besar sekali; mereka bisa menentukan anggaran fakultas macam apa yang mereka anggap layak disetujui. Berbeda dengan kebutuhan aktualisasi diri sebelumnya, kali ini saya berkegiatan karena merasa apa yang saya lakukan bermanfaat bagi orang lain.

Meminjam skema dari TED, menurut saya ada tiga hal yang membuat seseorang mau aktif dalam suatu perkumpulan atau organisasi: ahli dalam suatu hal yang menjadi visi misi organisasi, merasa dibutuhkan dan diapresiasi ketika melakukan hal tersebut, dan hal ini bermanfaat bagi orang lain ketika dilakukan.

Hasil gambar untuk your calling diagram

Mungkin hal-hal ini sepintas terdengar sebagai sesuatu yang nyaman. Ironisnya, saya menemukan tiga hal ini justru ketika saya keluar dari zona nyaman saya. Saya mencoba mengambil tanggung jawab lebih banyak, saya mencoba melakukan hal lain yang saya belum pernah lakukan, dan lain-lain. Bahkan sampai sekarang, ketiga lingkaran ini masih terus berubah ukuran dan posisi untuk saya karena saya terus mencoba mengeksplorasi hal baru.

Selain menemukan panggilan, saya hanya aktif ketika saya memahami sistem yang berlangsung. Memahami sistem ini dalam tiga lingkaran tersebut dapat dimasukkan ke dalam “merasa diapresiasi” (feeling appreciated) karena mampu terlibat sampai merasa diapresiasi merupakan bagian dari memahami sistem.

PPI Dunia: Cermin Negeri?

Bisa jadi, ketika ketiga PPI memutuskan untuk walk out, mereka tidak merasakan ketiga lingkaran itu dalam simposium internasional. Hemat saya, lebih ke lingkaran “bermanfaat bagi orang lain”. Ini saya ambil dari poin kelima pernyataan sikap PPI Belanda: “…kami juga beranggapan bahwa dana yang dikeluarkan dalam pelaksanaan simposium-simposium PPI Dunia setiap tahunnya tidak sebanding dengan output yang dihasilkan dari simposium-simposium tersebut. Contoh nyata adalah, perumusan rencana aksi yang dilakukan hanya dalam waktu kurang dari 30 menit pada saat Sidang Internasional 2017.” Poin-poin lain juga menunjukkan betapa PPI Belanda tidak menerima sistem yang berlangsung dalam simposium tersebut.

Hal semacam ini tidak asing saya amati selama berada dalam organisasi kemahasiswaan selama S1: anggota tidak puas dengan sistem dan memilih tidak aktif. Terdengar familier?

Ya, Indonesia juga seperti itu ketika ada golongan masyarakat yang memutuskan untuk tidak membayar pajak, ogah taat aturan, dan paling puncaknya: pindah kewarganegaraan jika punya uang, anarkis jika tidak. Ada yang bertindak sejauh ingin mengganti ideologi negara. Seperti halnya PPI Dunia tidak berhasil mengakomodir PPI Belanda, dan himpunan kemahasiswaan tidak mampu memenuhi kebutuhan aktualisasi diri anggotanya, Indonesia tidak berhasil mengakomodir kebutuhan rakyatnya yang ingin merasa diapresiasi dan bermanfaat. WNA baru ini kemudian memilih tinggal dan berkarir di negara lain yang mampu mempertemukan ketiga lingkaran panggilan diri tersebut.

Saya tak pernah aktif di PPI Dunia atau bahkan PPI kota saya sendiri selama berkuliah di Jerman, namun saya tidak jarang mendengar curahan hati “sesepuh” tentang kondisi organisasi-organisasi pelajar Indonesia yang cenderung status quo.  Mungkin ada masalah yang lebih kompleks dari sekedar menemukan panggilan dan memahami sistem dalam banyak kasus. Mungkin ada budaya yang sulit berubah.

Saya sendiri tidak banyak tahu menahu perihal PPI Dunia sampai ketika saya sendiri berada di luar negeri pada pertengahan 2015. Itu pun saya baru mengenal PPI Dunia sekitar akhir 2016 ketika muncul isu “bully” terhadap Billy Mambrasar Tim Kajian Papua PPI Dunia. Billy Mambrasar merasa bahwa anggota PPI Dunia dalam tim kajian tersebut merundung dirinya dan menolak memerhatikan masukan dari dirinya sebagai anak Papua. Tulisan Billy Mambrasar sudah lenyap, namun bekasnya masih ada tercetak dalam pernyataan sikap PPI Dunia dan pernyataan sikap salah satu anggota kajian. Lebih dari itu, tidak banyak dokumentasi berita nasional tentang PPI Dunia. Hasil pencarian lewat Google hanya mendapati tulisan dari blog (kayak saya ini hahaha) dan tulisan dari situs web resmi PPI. Setelah menelusuri sedikit, tahun 2015, PPI Swedia memuat tulisan yang mengritisi butir rekomendasi simposium internasional tahun itu dan tarik ulur pemilihan koordinator PPI Dunia yang terjadi. Setelah simposium tahun 2016 berlangsung tanpa “isu”, dinamika yang terjadi tahun 2017 mungkin masih bisa dianggap wajar. Apa yang sekarang sedang terjadi dengan perhimpunan pelajar kita di luar sana menurut saya hanya bagian dari dinamika berorganisasi, mungkin bagian dari usia PPI Dunia yang masih sangat muda dan turnover anggota yang cepat karena berisi pelajar.

Dinamika dan gangguan seperti yang terjadi sekarang penting untuk membuat organisasi lebih matang. Berada di luar negeri tak semata membuat seorang pelajar lebih dari pelajar lain; penyelesaian masalah berkisar kepada pengalaman. Dengan kondisi negeri yang semakin kompleks, kita perlu maklum jika banyak diaspora Indonesia yang makin gelisah. Menurut saya, jika perhimpunan kita masih ingin memperkuat posisi diri dalam wacana pembangunan Indonesia, mereka perlu meragamkan anggota mereka dengan membuat anggota mereka merasakan terutama dua dari tiga faktor panggilan itu: merasa diapresiasi dan merasa bermanfaat bagi orang lain.

Kasus semacam ini juga penting untuk menjadi ajang refleksi para pelajar Indonesia semua yang sedang berdiaspora: apa sesungguhnya tujuan kita berkuliah di luar negeri dan masih berhimpun dengan sesama pelajar Indonesia?

Atau lebih dalam lagi, mengapa kita ingin ke luar negeri?