Wajah Baru Nasionalisme

Saya dan kebanyakan lingkar pertemanan saya begitu muak dengan istilah “pribumi” yang begitu diumbar tahun ini sehingga mungkin akan ada yang menganggap yang kayak kami begini “pengkhianat”. Dengan globalisasi dan masyarakat ekonomi ASEAN kita masih mau bersaing pake nasionalisme? Ngga banget. Belum lagi capres usungan oposisi untuk pilpres 2019 menggaungkan “anti-impor”. Apa mungkin?

Nasionalisme yang menjadi narasi pemersatu bangsa Indonesia saat ini sedang dieksploitasi habis-habisan dalam rangka pemilu. Banyak gagasan tentang kemandirian negeri berujung kepada proteksionisme. Anti-asing. Anti-impor. Make Indonesia Great Again. Waw. Mungkin kita bisa mundur sejenak dan melihat ulang makna nasionalisme dari hari kemerdekaan kita sendiri, dikomparasikan dengan negeri lain yang trauma dengan nasionalisme, Jerman.

Tentang Kemerdekaan Kita

Dua tahun lamanya saya tinggal di Jerman, tidak ada “Hari Kemerdekaan”. Rakyat Jerman memperingati hari bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur pada 3 Oktober 1990, “Tag der Deutschen Einheit“. Saya ingat ketika itu seluruh toko di kota tutup kecuali toko 24 jam dekat pompa bensin di sisi jalan utama. Karena saya baru tiba dan tidak tahu kalau seluruh pusat perbelanjaan tutup total selama hari Minggu dan hari libur nasional, jadilah saya kelaparan selama dua hari ketika tiba di München tanggal 1 Oktober. Pada “hari kemerdekaan”nya, Jerman hening dan kosong, tak ada lomba di gang perumahan maupun gegap gempita lagu-lagu kebangsaan.

“Kapan kamu biasa menyanyikan lagu nasional Jerman?” tanyaku pada salah seorang teman sejurusanku yang berkebangsaan Jerman.

“Umm… pertandingan sepak bola? Entahlah, tidak sering lagu nasional dinyanyikan. Rasanya aneh…”

Heningnya Jerman ketika “hari ulang tahun” mereka sangat kontras dengan dekorasi merah putih di setiap pusat keramaian di Indonesia dan latar lagu-lagu perjuangan yang diputar di mana-mana. Nasionalisme atau paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri disemarakkan dalam segala ekstrem mulai dari diskon a la tujuhbelasan sampai propaganda arti kemerdekaan. Bagi orang Indonesia, bangga menjadi orang Indonesia adalah hal yang harus diyakini setiap warga negara Indonesia dan merupakan salah satu nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat kita. Sebagai kontras, heningnya rakyat Jerman terhadap hari besar negaranya sendiri relatif terhadap Indonesia menunjukkan sikap sebagian besar penduduk Jerman yang kontra terhadap nasionalisme. Jadi, tak hanya cukup lama saya hidup tanpa hari-hari nasional, saya juga hidup dengan orang-orang yang menganggap nasionalisme itu tabu. Mungkin agak menjelaskan “gegar kepala” yang terjadi ketika bangun pada tanggal 17 Agustus 2017 yang membuat saya agak lupa kalau itu hari ulang tahun Indonesia yang ke-72.

Hari “Kemerdekaan” di Jerman

Tidak tepat mengatakan tanggal 3 Oktober sebagai hari kemerdekaan karena Jerman tidak dijajah siapa pun. Namun, jika pada tahun 2016 kemarin Jerman memperingati hari bersatunya Jerman Barat dan Timur yang ke-26, artinya negara Jerman yang sekarang dikenal dunia memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengan generasi 90an?

Umm… ya dan tidak. Ya karena sebagian wilayah Jerman saat ini sudah bersatu dalam satu negara sejak 1871, tidak karena format Bundesrepublik Deutschland yang dipegang Jerman sekarang memang baru disetujui tanggal 3 Oktober 1990. Jerman sudah beberapa kali mengganti tanggal “ulang tahun”nya karena memang ada beberapa kali pergantian bentuk kekuasaan. Sebelum 1871, Jerman terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil seperti semua negara di Eropa yang lain; beberapa bangsawan menguasai teritori tertentu dan saling tukar/klaim wilayah.

Jerman sempat sangat bangga dengan identitas mereka sebagai orang Jerman. Kapan persisnya? Ketika Adolf Hitler menjabat sebagai kanselor. Lihat saja nama partainya, “Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei”, atau mungkin lebih terkenal dengan singkatan bahasa Inggrisnya, “Nazi”. Jelas-jelas ada kata “nasional” di nama partai itu. Seperti yang diimplikasikan oleh nama partainya, Hitler berupaya membuat rakyat Jerman percaya bahwa mereka harus bangga lahir sebagai ras Aryan (kulit putih) dan sebagai penduduk asli Jerman mereka berhak mendapat kesetaraan dalam hidup bernegara. Hanya saja, kebanggaan ini berkelanjutan sampai ke menganggap ras lain lebih rendah. Pembantaian besar-besaran ras non-Aryan tercatat oleh sejarah Jerman dan anak-anak Jerman diajarkan untuk “malu” kepada sejarah mereka. Partai Nazi dengan segala bagian ideologinya adalah tabu.

Dosa Nasionalisme

Berbeda memang ketika kita melihat tempat kita bertumbuh dari luar melalui sudut pandang orang lain dengan ketika melihatnya dari sudut pandang sendiri yang terbangun karena lingkungan. Supervisor lab saya bercerita melihat orang Vietnam di tram yang bertanya ke seseorang apakah dia juga berasal dari Vietnam hanya karena wajahnya mirip orang-orang yang ada di Vietnam. “Aku tidak akan tiba-tiba menanyakan seseorang berkulit putih di Asia apakah mereka berasal dari Jerman!” ujarnya terheran.

“Untuk apa bangga hanya karena kamu terlahir Jerman?”

Sentimen ini dibagi oleh hampir semua teman Jerman yang saya tanyai apakah mereka tidak bangga menjadi orang Jerman. Teman sekamar saya bahkan berencana tinggal di Selandia Baru setelah studinya usai. “Kamu tidak merasa harus berbuat sesuatu untuk negaramu?” tanyaku polos, yang dijawab dengan sorot mata heran.

Tidak seluruh penduduk Indonesia berbagi sentimen yang sama tentang Indonesia atau sama tidak nasionalisnya dengan sebagian besar orang Jerman. Namun, lebih banyak yang “NKRI harga mati” dan memuja nasionalisme dan cinta tanah air. Semua dilakukan untuk mengekspresikan kecintaan terhadap tanahair mulai dari membeli produk-produk dalam negeri sampai membatasi usaha dengan warga negara asing. Namun, apakah kita perlu sampai menghina ras lain?

Ada dosa yang diberikan nasionalisme kepada mereka yang tidak mengerti bagaimana cara mencintai sesuatu dengan benar. Menghina rakyat negara lain atau berprasangka buruk kepada mereka sampai menghina ras mereka merupakan beberapa dosa yang diberikan nasionalisme buta ini. “Nasionalisme lokal” juga kerap terjadi ketika pendukung tim sepak bola kota asal bertindak anarkis hanya karena tim yang mereka dukung menang. Hingga beberapa waktu lalu, tidak jarang saya mendengar berita kerusuhan yang ditimbulkan pendukung tim sepak bola yang kalah seusai permainan.

Kita berhak marah dan kecewa ketika identitas kita direndahkan orang. Itu manusiawi… manusia memiliki ego. Wajar.

Namun, sejauh apa sesuatu bisa dibiarkan karena itu wajar? Sejauh apa sesuatu bisa dikatakan wajar? Ketika nasionalisme itu berubah menjadi rasisme, kita harus bertanya, untuk apa aku bangga terhadap sesuatu yang aku tidak melakukan sesuatu tentangnya?

Berkat kampanye nasionalisme yang berlebihan, banyak hal bisa berlangsung keliru. Jerman, Italia, dan Jepang sudah memberi contoh ketika Perang Dunia II. Mereka adalah kasus-kasus berbahaya terlalu lama menganggap diri sendiri spesial dan mendemonisasi ras yang tampak asing dari mereka. Indonesia memiliki potensi yang berbahaya untuk berakhir demikian jika tidak terus disadarkan tentang ideologi keragaman yang dibangun oleh pendiri bangsa. 

Mungkin, rasa nasionalisme yang berlebih ini muncul karena sebagian besar dari kira merasa inferior untuk waktu yang cukup lama. Kita takut dibilang jelek karena hidup selama ini percaya bahwa dirinya jelek. Video-video satir Sacha Stevenson yang banyak mengritisi kehidupan sebagai orang Indonesia sering memanen komen cacian dari akun yang mengaku orang Indonesia karena ini. Padahal tanda move on yang ultimat adalah bisa menertawakan kebodohan masa lalu sambil bergerak maju; jika kita memang tidak sejelek yang dikatakan orang, buktikan!

Lain Ladang Lain Belalang

Sejarah Indonesia dan Jerman tidak sama. Namun, bukan berarti kita tidak bisa mengambil beberapa hikmah penting dari sejarah negara lain. Menurut saya, sejarah Indonesia telah banyak disusun sedemikian rupa untuk membangkitkan rasa cinta kepada tanahair karena Indonesia sedang butuh itu. Namun, rasa cinta kepada apa pun, jika berlebihan dan hanya memuat emosi, tetap membutakan. Membuat kita lupa bahwa mencintai sesuatu tidak bisa dengan cara kita sendiri, misalnya dengan memaksakan sistem khilafah versi sendiri.

Indonesia memerlukan nasionalisme gaya baru. Nasionalisme yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan global, mengusahakan kesejahteraan penduduknya sambil menggaungkan kolaborasi dengan berbagai suku dan bangsa.

Advertisements

Menjadi Peneliti di Indonesia

Pada suatu ketika, suami saya cerita bahwa dia diajak orang tua salah satu anak bimbingnya makan di sebuah gerai makanan cepat saji. Suami saya membimbing beberapa anak yang ingin belajar lebih tentang Biologi, kebanyakan untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional. Kedua orang tua ini ingin saran tentang prospek kuliah dan kerja anak mereka.

“Tergantung anaknya juga sih maunya ngapain, siapa tahu malah mau masuk STAN,” sahutku sembarangan.

“Anak sih mau Bioteknologi, emang udah suka. Sama mau double major sama bisnis katanya, biar jadi duit. Terutama setelah tahu peneliti gajinya kecil.”

Bahkan di luar negeri, kisaran gaji seorang peneliti merupakan angka yang relatif paria dibanding profesi lain. Yang membuat menjadi peneliti di luar Indonesia lebih menggiurkan adalah fasilitas dan sistem laboratorium dan pendanaan yang lebih stabil. Namun, gaji peneliti di Jerman relatif terhadap gaji pegawai suatu perusahaan otomotif di Jerman sama jaraknya seperti gaji peneliti Indonesia relatif terhadap pegawai perusahaan otomotif di Indonesia. Tidak heran jika banyak penduduk Indonesia yang sesungguhnya antusias ingin melanjutkan sekolah atau berkutat di bidang sains mengurungkan niatnya dan memilih profesi yang fokus kepada uang.

Sementara itu, bidang sains tidak menjadi fokus pembangunan pemerintah dan riset selalu menjadi bidang yang dinomorsekiankan APBN. Ini pertanyaan saya seumur hidup: “Haruskah saya ikhlas dengan kondisi sains sekarang dan menyadari negara ‘berkembang’ macam Indonesia tidak akan pernah memfokuskan dirinya ke sains sampai ekonomi cukup kuat atau saya harus mencoba melakukan sesuatu tentang ini?”

Inferioritas dan Arogansi

Kondisi semacam ini, menurut saya, sedikit banyak memengaruhi karakter peneliti yang sudah ada di Indonesia. Teman-teman Indonesia yang pertama kali berkuliah di luar negeri mengalami apa yang namanya impostor syndrome atau merasa segala pencapaiannya hingga kini keberuntungan semata dan dirinya tak benar-benar punya kapasitas untuk itu.

Saya mengalami ini di akhir semester kedua ketika mengambil kuliah yang cukup sulit sembari melihat teman-teman sekelas yang berasal bukan dari “negara berkembang” tampak tak kesulitan, bahkan mendapat skor nyaris sempurna di ujian. Saya pun berpikir, “Apa saya tidak dirancang untuk sains?” Semacam renungan mini dari pertanyaan sebelumnya tentang apakah saya harus ikhlas Indonesia “begini-begini saja” dalam hal penelitian.

Banyak yang menganggap kemudahan orang Indonesia untuk merasa rendah diri berasal dari inferiority complex hasil kolonialisasi berbagai bangsa dahulu kala. Kita pernah kedatangan Gujarat, Arab, India, Cina, Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, Jepang; puluhan bangsa mungkin ada dalam sejarah terbentuknya budaya Indonesia. Kedatangan yang paling membekas mungkin adalah ketika J. P. Coen memutuskan bahwa perdagangan akan lebih menguntungkan ketika mereka memegang kedaulatan tempat dagang (saya simpulkan dari buku Van Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia). Setelah itu, apa yang disebut perdagangan sedikit banyak menjadi penjajahan. Istilah “pribumi” keluar di masa itu untuk memosisikan kaum penduduk asli dalam status sosial yang tidak menguntungkan. Alhasil, dari sejak zaman kakek-nenek generasi saya (mungkin) tertanam kondisi bawah sadar bahwa orang Indonesia, atau “pribumi”, tidak lebih baik dari orang kulit putih.

Namun, saya merasa ini tak sepenuhnya benar. Kerendahan diri orang Indonesia secara umum sedikit banyak berasal dari kultur dan ajaran yang dianut sebagian besar bangsa Indonesia. Salah satu peribahasa jawa, “Adigang, Adigung, Adiguna” termasuk ajaran untuk tidak terlalu menonjolkan keunggulan diri. Ajaran Islam juga setahu saya mengajarkan bahwa generasi terbaik umat adalah generasi ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kualitas umat menurun seiring waktu setelah itu. Teman-teman saya yang merupakan pengikut Kristus juga sering membagikan ajaran tentang menjadi rendah hati. Menulis motivation letter atau surat motivasi untuk mendaftar perguruan tinggi tersohor di luar negeri tentu sulit dengan paham-paham semacam ini. (Yah, ini sangat bias Jawa-Islam; mohon tambahi/koreksi saya.)

Selain itu, saya merasa kurangnya rasa telah mencapai sesuatu adalah karena penduduk Indonesia terlalu lama disuapi; kita tidak menemukan jati diri kita sendiri. Kita disuapi pemerintah, pemerintah mengadopsi hukum Belanda, bahasa kita merupakan serapan banyak bahasa, dan masih banyak lagi fitur Indonesia yang menunjukkan kita lebih banyak mendapatkan daripada memberikan.

Kerendahan diri yang terlalu lama bercokol di bawah sadar kita, secara ironis, memudahkan arogansi berkembang persis setelah kita mendapatkan ilmu. Tak sedikit narasi tentang lulusan universitas terkenal yang arogan, mulai dari stereotip yang sering diterima para pencari kerja sampai pengakuan keunggulan oleh individu itu sendiri. Ini tentu tidak terbatas pada negara berkembang; fenomena pasca-inferior ini cukup banyak teramati dalam peneliti-peneliti baru. Saya kesal terhadap orang-orang yang sembarangan bicara tentang apa yang sudah saya pelajari bertahun-tahun, tanpa mau tahu apa yang mendasari sudut pandang yang dapat berbeda. Lebih lanjut, para ilmuwan kita menjadi lebih reaktif menonjolkan otoritas keilmuan selama ada kesempatan. Mulai dari tersinggung ketika gelar tidak ditulis lengkap sampai dengan tidak mau mendengarkan pendapat multidisiplin.

Karakter-karakter macam ini, menurut saya, berpengaruh terhadap impresi profesi peneliti Indonesia itu sendiri. Jika kamu peneliti, kamu antara inferior atau arogan. Kamu antara mau mengomunikasikan hasil penelitianmu ke masyarakat awam atau lebih suka berdiskusi dengan rekan peneliti satu lingkar dalam menara gading. Tiba-tiba, menjadi peneliti bisa identik dengan masuk ke dalam kelas sosial tertentu. (Begitu juga jadi kuli bangunan atau pengusaha buah. Atau jadi PNS. Atau jadi konsultan limbah. Yah, tampaknya memiliki kelas-kelas dalam kehidupan bermasyarakat adalah keniscayaan.)

Menunggu atau Melakukan Sesuatu?

Sebagai salah satu penduduk Indonesia yang bercita-cita jadi peneliti, pertanyaan ini cukup sulit. Jika saya ingin melakukan sesuatu tentang menjadi peneliti di Indonesia, apa yang harus saya lakukan tak ada kaitannya dengan penelitian sama sekali. Jika saya ingin melakukan penelitian saja, saya harus menunggu sampai Indonesia cukup stabil untuk memikirkan pengembangan teknologi alih-alih sekedar transfer dari luar. Menunggu seluruh lapisan masyarakat tercerdaskan tentang pentingnya melakukan inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan datangnya kemauan politik ke arah sana sebagaimana awal mula pendanaan terhadap ekspedisi dan pengembangan senjata berpuluh tahun yang lalu.

Saat ini, saya memilih melakukan sesuatu. Saya mencoba mengoordinir sebuah proyek pengumpulan data keanekaragaman hayati Indonesia bernama Biodiverskripsi bersama Tambora Muda Indonesia. Harapan saya, jika proyek ini sukses, banyak anak muda Indonesia yang lebih terinspirasi untuk maju melakukan sesuatu tentang kondisi penelitian di Indonesia.

LGBT dalam Evolusi Manusia (2)

Entah kenapa, isu ini tidak pernah berhenti jadi topik panas di internet atau perbincangan komunitas. Akibat memproklamirkan diri sebagai sarjana Biologi, saya tidak lepas dari banyak pertanyaan yang mungkin ada di benak pembaca sekalian ketika memutuskan mengklik judul ini: Apa sesungguhnya LGBT? Jika Tuhan melarang mereka, mengapa mereka diciptakan? Apakah LGBT karena gen atau karena lingkungan? Apakah mereka menular? Apakah keuntungan mereka secara evolusi? Apakah mereka alami?

Karena saya bukan ahli agama, saya tidak bisa menjanjikan apa pun dari pertanyaan seputar Tuhan. Saya hanya bisa meyakinkan teman-teman sekalian sejauh ini: LGBT adalah hasil karya alam (artinya hasil karya Tuhan juga) dan mereka memiliki tempat dalam evolusi makhluk hidup. Konsekuensi dari memahami keberadaan mereka akan berbeda bagi setiap orang, dan mungkin paling menguntungkan bagi mereka yang memang mau belajar.

Sesungguhnya, saya tidak terlalu suka akronim LGBT karena kumpulan huruf ini menggabungkan dua hal yang sama sekali berbeda: konstruksi gender dan orientasi seksual. Eh, bentar, bukankah orientasi seksualmu sangat tergantung konstruksi gendermu? Ha-ha-ha. Ya dan tidak.

Sedikit Tentang Konstruksi Gender

Mari kita mulai dari konstruksi gender yang paling mudah dipahami sebagian besar orang: laki-laki dan perempuan. Kita mengidentifikasi seseorang sebagai laki-laki jika sel-sel tubuh mereka memiliki satu kromosom seks X dan satu kromosom seks Y sementara perempuan jika sel-sel tubuh mereka memiliki dua kromosom seks X. Kromosom-kromosom ini umumnya terdiri dari gen-gen yang bertanggung jawab dalam menghasilkan karakteristik jenis kelamin berupa perbedaan morfologi, semisal penis pada laki-laki dan vagina pada perempuan. (Tidak, saya tidak akan minta maaf karena telah mengedukasi pemakaian istilah organ tubuh yang benar)

Dalam Biologi, sayangnya, ada idiom yang selalu berlaku: jangan pernah bilang “selalu” dan “tidak pernah” (Never say never, never say always). Meskipun bukan mayoritas, bukan tidak mungkin ada perempuan yang memiliki kromosom Y (Swyer Syndrome) atau laki-laki dengan dua kromosom X (Klinefelter Syndrome). Kelainan kromosom semacam ini tentu mengubah anatomi dan morfologi tubuh manusia yang mengalami dan mengganggu sebagian besar fungsi tubuh sehingga digolongkan ke dalam kelainan genetik. Orang-orang yang digolongkan ke dalam salah satu dari huruf LGBT, menariknya, cenderung tidak memiliki kelainan dalam komposisi kromosom mereka, walau beberapa penelitian mengklaim adanya gen yang mengatur homoseksualitas.

Mungkin saya mulai dari “T” terlebih dahulu: transgender. Orang-orang transgender adalah mereka yang mengidentifikasi diri mereka dengan gender yang berbeda dengan kelamin mereka ketika lahir. Mayoritas manusia adalah cisgender: mengidentifikasi diri dalam konstruksi gender yang sama dengan kelamin mereka. Saya mengenali konsep ini pertama kali dari sebuah artikel di Scientific American tentang anak transgender yang lahir sebagai laki-laki namun merasa dirinya perempuan. Ia tidak suka mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki. Kebetulan, ia lahir dari orang tua yang cukup suportif; ia memilih menjadi perempuan hingga usia 10 tahun. Jika kisah ini terdengar familier, mungkin teman-teman teringat salah satu anak adopsi Brad Pitt dan Angelina Jolie, Shiloh, yang diizinkan memilih gendernya sendiri sebagai laki-laki di usia yang cukup muda ketika orang tuanya tahu ia transgender.

Terima kasih kepada Rick Riordan dalam bukunya Magnus Chase and The Hammer of Thor, saya jadi tahu satu istilah tambahan seputar gender: gender cair atau gender fluid. Salah satu karakternya, Alex, digambarkan mengidentifikasi dirinya dengan lebih dari satu gender di periode yang berbeda. Ini jauh lebih membingungkan karena membuat gender yang selama ini dikonstruksikan hanya dua menjadi sebuah spektrum. Lebih banyak tentang istilah seputar gender ada di sini. Penjelasan tentang gender cair dalam bahasa Indonesia bisa disimak di sini.

Perubahan gender semasa hidup adalah mungkin secara biologis, dan karena tidak mengganggu fungsi tubuh secara umum tidak dapat sepenuhnya digolongkan sebagai penyakit. Yah, saya bukan psikolog atau ahli patologi sehingga tidak bisa berdiskusi banyak tentang bagaimana sesuatu ditetapkan sebagai penyakit, sehingga saya menggunakan istilah evolusi. Ini pun dapat diperdebatkan.

Visualisasi gender dan seks sebagai spektrum; perubahan gender dapat terjadi di berbagai tahap mulai dari kromosomal, gen, atau hormon. (Sumber: SA Visual)

Oh iya, di sini saya membedakan “seks” dengan “gender” karena mereka memang berbeda. Seks merujuk kepada acuan biologis yaitu alat kelamin dan karakteristik tubuh sementara gender mengacu kepada konstruksi sosial masyarakat. Apa itu konstruksi sosial? Semisal laki-laki harus bisa angkat galon atau perempuan harus bisa masak. Hal-hal semacam ini dibentuk oleh masyarakat tempat kita tinggal dan akan berbeda dari satu suku dengan suku lain.

Nah, apakah orientasi seksual seorang yang transgender, gender cair, dan cisgender akan serupa dengan konstruksi gender mereka?

Saya punya seorang teman yang saya anggap laki-laki (yah, dia masuk ke toilet laki-laki) namun perilakunya sangat berbeda dari laki-laki kebanyakan yang saya tahu. Dia memiliki modal suara bariton namun memilih untuk bersuara sopran sepanjang memori percakapan saya dengannya. Setiap bahasa tubuhnya sangat lembut. Dia cukup nyambung dengan saya dan suami saya dalam banyak topik, kecuali tentang laki-laki. Dia tidak mengerti konsep pertemanan laki-laki.

Dalam kurun waktu saya mengenalnya, tak terbersit sama sekali kalau dia mungkin transgender. Dia pun tidak akan mengakui hal itu kalaupun dia menyadarinya, mengingat gelagat persekusi masyarakat saat ini. Entah mengapa, semesta memutuskan memberitahu saya dari sebuah sumber tak langsung kalau dia pernah menyukai salah seorang teman laki-lakinya. Dan dari sumber yang sama, keluarlah konfirmasi itu: dia merasa sebagai perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki.

Kisah ini mungkin akan memvalidasi sebagian pemikiran orang, “Hah! Tuh kan, orientasi seksual transgender sama dengan gender yang dia pilih!”

Berkaca kepada kasus transgender dan gender cair, saya percaya dunia tidak sesederhana itu.

Orientasi Seksual: Spektrum yang Lain?

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, orientasi seksual adalah “pola ketertarikan seksual, romantis, atau emosional (atau kombinasi dari keseluruhan) kepada orang-orang dari lawan jenis atau gender, jenis kelamin yang sama atau gender, atau untuk kedua jenis kelamin atau lebih dari satu gender”. Ada beberapa kategori orientasi seksual: heteroseksual jika menyukai jenis kelamin yang berbeda, homoseksual jika sama, dan, jika jenis kelamin atau gender ada dua, biseksual jika menyukai keduanya. Tak lupa aseksual jika tidak memiliki dorongan seksual/romantis/emosional sama sekali dengan jenis kelamin apa pun. Istilah-istilah ini hanyalah terminologi dan dunia lebih luas dari empat istilah. Situs kekinian favorit umat, hipwee, menemukan sembilan kategori (sila disimak untuk yang sudah cukup umur di sini).

Seseorang yang transgender bisa saja homoseksual atau heteroseksual, tergantung sekuat apa fisiologi yang memengaruhi persepsi identitas gendernya turut memengaruhi dorongan seksualnya. Entahlah. Jangan pernah bilang “selalu” dan “tidak pernah” dalam Biologi. Itulah bagian “L”, “G”, dan “B” dari akronim favorit kita, masing-masing berdiri untuk “lesbi”, “gay”, dan “biseksual”. Ketiga istilah ini bisa kita bahas bersama dengan bahasan seputar orientasi seksual, dengan “lesbi” dan “gay” dikelompokkan dalam homoseksual.

Sebagai seorang heteroseksual, rasanya tidak tepat saya banyak bicara tentang orientasi seksual yang lain karena saya tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya. Sebagai evolusionis, saya percaya makna keberadaan mereka terletak dalam keuntungan dari keberadaan mereka bagi spesies. Homoseksual cukup membingungkan karena orientasi seksual yang satu ini tidak menguntungkan reproduksi seksual dengan tidak menghasilkan keturunan. Ada beberapa hipotesis yang diajukan tentang keuntungan eksistensi homoseksual dalam komunitas, termasuk di antaranya sebagai perawat anak atau keberadaan gen fungsional yang terpaut gen yang mengatur orientasi seksual.

Fungsi perawatan disebut juga fungsi ikatan sosial; homoseksual membantu terbentuknya ikatan sosial karena mereka cenderung penyayang. Ikatan sosial diperlukan manusia ketika masih berada dalam tahapan berburu-mengumpulkan karena kerjasama lebih menguntungkan untuk meningkatkan kelulushidupan satu sama lain alih-alih bersaing.

Gen fungsional juga merupakan hipotesis yang masih terus diuji. Dalam suatu spesies lalat buah, gen yang mendukung perilaku homoseksual diduga ada dalam populasi karena meningkatkan fertilitas betina dalam kondisi resesif (hanya ada di satu dari dua set kromosom). Hal ini dikonfirmasi juga terjadi di manusia. Namun, penelitian tentang “gen gay” ini masih belum cukup kuat dan butuh lebih banyak eksplorasi.

Jadi, kehadiran orientasi seksual yang beragam ini divalidasi oleh alam.

Mengatur Cinta

Dikotomi jenis kelamin dan gender yang kita miliki saat ini membuat kita sulit menempatkan diri ketika dihadapkan dengan isu LGBT. Manusia tidak menyukai apa yang mereka tidak pahami. Sebagai penganut ajaran Islam, kehadiran spektrum yang berbeda ini cukup menguras otak saya: jika memang Allah melarang mereka, mengapa Allah menciptakan mereka? Saya pribadi berpikir ini adalah kekeliruan saya memahami perintah Allah: yang dilarang adalah perilaku seksualnya, bukan dorongannya.

Ketika saya menyukai suami saya sebelum kami dilegalkan oleh ikatan pernikahan, apakah saya berdosa hanya karena perasaan suka? Perilaku seksual sebelum nikah dilarang agama, baik itu dengan sesama jenis maupun tidak. Saya berdosa ketika saya berzina, dengan segala bentuknya. Islam membolehkan perilaku seksual dalam ikatan pernikahan. Apakah Islam mengakui pernikahan sesama jenis? Tidak, kisah Nabi Luth cukup jelas. Namun, apakah artinya mereka tidak dapat memeluk Islam karena perbedaan ini? Bukankah Islam adalah rahmat untuk semesta alam dan mereka adalah bagian dari alam?

Saya tidak bisa banyak bicara dari kacamata agama karena kurangnya wawasan saya, tapi saya percaya Islam punya banyak ruang untuk spektrum yang diciptakan Sang Pencipta. Dengan segala pengetahuan kita tentang alam dan teknologi, moral manusia perlu ikut berevolusi agar dapat beradaptasi. Perubahan zaman adalah keniscayaan sepanjang sejarah peradaban manusia; peradaban yang gagal beradaptasi dengan perubahan akan runtuh.


Tambahan:

Setelah membagi tulisan ini di akun Facebook, banyak teman-teman yang memberikan masukan seputar isu agama dan sosial yang saya masukkan ke paragraf akhir dan awal. Yang harus segera saya benahi adalah pernyataan “Perilaku seksual sebelum nikah dilarang agama, baik itu dengan sesama jenis maupun tidak.” yang keliru karena Islam mengatur kebolehan perilaku seksual dengan hamba sahaya atau budak (bukan pembantu). Ada bacaan menarik di Wikipedia bahasa Inggris seputar ayat Al-Qur’an tentang kepemilikan manusia.

Perdebatan filosofis yang menarik mungkin akan muncul terhadap anggapan saya bahwa variasi minor dalam kehidupan termasuk sesuatu yang sengaja Tuhan ciptakan alih-alih mengasumsikan Tuhan mengalami “trial and error” dalam mencipta, bahkan jika itu malfungsi genetik sekalipun. Memang jika saya harus mengangkat sudut pandang evolusi, hal ini cukup kontradiktif karena seleksi alam bertugas mengeliminir varian yang tidak berfungsi optimal dalam menghadapi lingkungan tempat organisme tinggal. Untuk apa malfungsi itu ada dan diciptakan hanya untuk mati? Tapi bukankah kita semua diciptakan hanya untuk mati? Tampaknya ini akan menjadi pekerjaan rumah saya selanjutnya dalam menghubungkan sains dengan ajaran Islam.

Bersama dengan pertanyaan seputar definisi karya atau ciptaan Tuhan, menurut saya menarik juga untuk membahas lebih lanjut bagaimana firman Allah tentang makhluk diciptakan berpasang-pasangan koheren dengan spektrum seks yang ada di alam. Dengan pengetahuan tafsir saya yang terbatas, mungkin saya bisa berargumen bahwa penciptaan pasangan dalam ayat tersebut tidak memberikan batasan waktu dan ruang sehingga keberadaan spektrum masih sesuai. Selain itu, jenis kelamin biner memang ada (ada kelamin jantan dan betina) meskipun beberapa spesies organisme tidak berada di kelamin yang sama sepanjang hidupnya tanpa harus melakukan operasi. Berikut ada gambar yang menarik untuk menjelaskan spektrum gender dan kelamin dengan lebih sederhana:

Spektrum gender dan kelamin dalam manusia (Sumber: The Genderbread Person)

Sudah Berhasilkah Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi?

Menurut ajaran agama saya, manusia diperintahkan Allah untuk menjadi khalifah di muka Bumi. Kata khalifah dalam bahasa Inggris satu ide dengan kata “representative” atau “successor”, yang punya konotasi “perwakilan”. Apa makna menjadi perwakilan Allah di Bumi? Banyak tafsir sepakat bahwa hal tersebut berarti kita ditugasi “mengurusi” Bumi dengan segala sumber dayanya, baik yang hidup maupun yang tidak. Dari sejak Nabi Adam alaihissalam diturunkan ke Bumi, apakah manusia sudah berhasil?

Alih-alih menuduh dan menunjuk sesama manusia, atau menyalahkan pemerintah yang korup, saya lebih ingin mengajak saudara-saudari seiman untuk berkaca terkait status khalifah manusia secara umum: “Apa yang sudah kamu lakukan?” Apakah kita sebagai manusia telah menjadi perwakilan yang baik? Apakah kita telah sungguh layak menjadi penerus? “Perwakilan Tuhan”? Ngetiknya saja saya merinding.

Belum pernah saya dengar khotbah tarawih atau Jumatan yang sungguh-sungguh menanyakan hal ini kepada para jamaah. Sementara itu, pertanyaan ini menggema di benak para pengamat alam di seluruh dunia. Para saintis menanyakan keberhasilan kita sebagai penduduk Bumi memberdayakan  ketika mereka membentuk Union of Concerned Scientists pada tahun 1992. Persis ketika saya lahir. Setelah 25 tahun, tentunya mereka ingin mengevaluasi apa yang sudah banyak berubah sejak peringatan pertama para saintis dilayangkan. Mari kita simak:

Tren isu lingkungan yang diidentifikasi pada tahun 1992 dalam peringatan saintis pertama terhadap kemanusiaan selama beberapa dekade terakhir. Tren sebelum 1992 ditunjukkan dengan garis abu-abu dan setelah 1992 ditunjukkan dengan garis hitam. Panel (a) menunjukkan emisi gas sumber halogen yang dapat menurunkan kadar ozon atmosfer, (b) sumber daya air tawar, (c) jumlah tangkapan ikan laut dalam megaton per tahun, (d) zona mati, (e) total luasan hutan, (f) kelimpahan spesies vertebrata, namun hanya sedikit data dari negara berkembang, (g) emisi salah satu gas rumah kaca, (h) perubahan temperatur, (i) ukuran populasi manusia dan hewan ternak. (Sumber: Ripple et al 2017, Bioscience)

Dengan tren yang begitu suram untuk banyak sumber daya, manusia mendapat peringatan kedua tahun ini dari Alliance of World Scientists (AWS), ditandatangani lebih dari 15.000 saintis dari seluruh belahan Bumi. Dengan membentuk manifesto dan petisi yang independen dari organisasi apapun, baik dari pemerintah maupun non-pemerintah, AWS berharap masyarakat mulai menanggapi serius tren sumber daya Bumi yang makin menurun dalam kualitas dan kuantitas karena laju pertumbuhan populasi manusia yang tak kunjung menurun.

Rangkuman dan evaluasi tren sumber daya selama beberapa dekade terakhir yang dibuat para inisiator AWS diharapkan dapat menyadarkan masyarakat untuk dapat lebih menekan pembuat kebijakan untuk mengambil langkah yang lebih serius. Berhenti mengangkat pejabat yang tidak kompeten dalam hal lingkungan dan memelihara hewan liar yang dilindungi peraturan perundangan, membuka analisis dampak mengenai lingkungan untuk setiap proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah, mendukung kebijakan yang dapat mereduksi konsumsi berlebihan sumber daya dan masih banyak lagi.

Manusia butuh menggunakan sumber daya alam yang disediakan di Bumi dan selayaknya hal tersebut dilakukan dengan menyadari tanggung jawab kita merawat Bumi. Alam diberi kemampuan untuk kembali ke kondisi awal (resilience) dalam waktu tertentu; ketika hal ini dilanggar, alam akan mengalami kesulitan untuk memulihkan diri. Sebuah penelitian yang berupaya untuk mendeteksi kapasitas Bumi mendukung dampak penggunaan sumber daya alam di sembilan batas planet (planetary boundary) menunjukkan ada dua batas yang telah dilampaui manusia hingga saintis tidak dapat menyimpulkan risikonya: keanekaragaman genetik dan aliran nitrogen.

Status terkini untuk tujuh dari sembilan batas planet: derajat keasaman laut (ocean adification), muatan aerosol dalam atmosfer (atmospheric aerosol loading), penurunan kadar ozon stratosfer (stratospheric ozone depletion), emisi zat kimia artifisial (novel entities), perubahan iklim (climate change), keutuhan biodiversitas (biodiversity integrity), perubahan sistem lahan (land system change), dan penggunaan air tawar (freshwater use). Kondisi Bumi cukup genting dalam hal keanekaragaman genetik spesies dan aliran nitrogen. Nitrogen adalah unsur yang umum ada dalam pupuk buatan manusia. (Sumber: Steffen et al. 2015)

Padahal, Allah berfirman agar kita tidak berbuat kerusakan di muka Bumi setelah Allah memperbaikinya. Saya yakin ajakan untuk tidak melampaui batas tidak hanya berlaku untuk ajakan beragama melainkan juga batas-batas Bumi dalam mengatasi kelakuan manusia. “…Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” (Mohon koreksi saya jika saya salah paham).

 

Di tengah tren penurunan kualitas sumber daya Bumi, saintis sadar bahwa kita butuh terobosan ilmu, teknologi, dan sistem. Melihat tren pengurangan gas pemusnah ozon selama dua dekade terakhir, bukan tak mungkin kita mengembalikan kondisi Bumi yang kacau balau jika kita memang ingin berusaha. Hal ini tak lepas dari implementasi kebijakan terkait pengurangan CFC sebagai gas yang dapat mengurangi kadar ozon; dengan kata lain, peran aktif pemerintah. Selain itu, saat ini banyak beredat teknologi energi terbarukan terus bermunculan, skema donasi yang makin canggih dan efektif untuk mengatasi ketidakmerataan sumber daya, dan masyarakat mulai sadar untuk hidup dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Namun, dengan tren kerusakan yang tidak berubah, terobosan-terobosan ini tidak akan cukup jika perilaku dan mental masyarakat tidak berubah. Mubazir lah segala akses informasi berlimpah untuk mengikuti gunjingan terbaru semata. Tak ada guna peningkatan produksi pertanian jika separuh isi piring berakhir di tempat sampah. Tak mungkin pemerintah melakukan semuanya sendirian; tempat sampah berlimpah tak ada gunanya jika masyarakat mengabaikan mereka. Sudah waktunya kita melihat perintah Tuhan dalam lingkup yang lebih besar.

Jadi, sudah berhasilkah manusia saat ini sebagai khalifah di Bumi?

Menurut saya, kita masih jauh dari berhasil. Mungkin akan ada yang setuju dengan saya, ada yang tidak. Sains berada di tengah-tengah untuk memberikan pandangan berbasis data. Mungkin perumahan tempat tinggal kita sekarang tidak terasa semakin panas atau kota tempatmu tinggal tidak mengalami banjir gletser atau badai. Mungkin hutan dan laut tidak tampak mengeluhkan langsung apa yang tanpa sadar kita lakukan untuk mengganggu keseimbangan mereka. Karena itu, kita perlu melihat alam dengan skala yang lebih besar: apakah kita sungguh yakin ketika motor/mobil digas ke kantor/kampus kita tidak menyumbang gas rumah kaca yang menyebabkan Bumi makin panas dan banjir gletser di tempat lain? Yakinkah kita sampah plastik yang tak sengaja tertinggal di jalan tak ikut mengalir bersama sungai ketika hujan dan banjir sehingga menyekik seekor kura-kura di samudera terdekat? Apakah kita sungguh tidak sedang menzolimi generasi selanjutnya dengan meninggalkan Bumi yang lebih buruk untuk mereka?

Saya tidak percaya bahwa perintah menjadi khalifah di muka Bumi tidak termasuk bertanggung jawab terhadap tren-tren penurunan kualitas Bumi. Allah Mahabesar; rencanaNya tak mungkin sesempit ideologi politik semata. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar surga sehingga mengabaikan surga yang telah Allah berikan kepada kita di Bumi.

Tidak Setuju Itu (Kadang) Penting

Saya suka mengaji banyak isu di media sosial. Kadang banyak orang setuju, kadang banyak yang tidak setuju. Jika ada yang tidak setuju terhadap sesuatu, umumnya ia akan berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia benar dengan mempertanyakan pendapat saya. Hal ini bisa berujung ke dua hal: debat kusir atau diskusi. Yang terakhir hanya bisa dicapai jika keduanya punya semangat yang sama untuk mencapai kebenaran; ini bisa terlihat dari bahasa dan konten diskusi.

Lepas dari ketidaknyamanan yang saya rasakan ketika ada yang tidak setuju dengan saya, saya mensyukuri setiap perbedaan pendapat yang pernah mampir. Satu yang paling kaya bahkan sukses menjadi tulisan di blog ini.

Pentingnya Menjadi “Destruktif”

Selama saya kuliah, ada beberapa orang di kampus saya yang terkenal selalu memiliki pendapat yang berlawanan dari orang pada umumnya. Walau terkadang cara mereka berpikir membuat sebagian besar orang tidak nyaman, mereka adalah orang-orang yang sering dimintai pendapat tentang isu-isu penting seputar organisasi, pekerjaan, proyek, gagasan, atau hal-hal lain yang mereka tidak sepakati. Orang-orang semacam ini penting: mereka membantu membangun pemikiran baru.

Saya mendiskusikan hal ini dengan suami ketika melihat teka-teki kopi yang diulas situs ifuckinglovescience.com. Dalam teka-teki itu, ditanyakan mana bejana yang lebih dulu terisi penuh.

Untuk mereka yang belajar sifat air, akan mudah menjawab bahwa yang lebih dulu terisi adalah cangkir nomor 4 dengan asumsi bahwa seluruh pipa penyalur berdiameter sama. Namun, jika melihat ulasan yang ditulis ifuckinglovescience.com, mungkin akan banyak yang heran mengapa banyak yang begitu kesulitan. Mungkin juga tidak. Yang ingin saya tekankan adalah, ada orang-orang yang berpikir dengan cara yang begitu berbeda di luar sana sehingga apa yang bagi kita begitu alami tampak supernatural. Sama seperti kamu tidak bisa menertawakan orang yang bicara Inggris patah-patah, kamu tak bisa juga meremehkan mereka yang kesulitan mengerjakan teka-teki ini. Mereka ahli di hal yang lain. Ini menurut saya berlaku untuk segala hal.

Dengan mengritisi celah argumen dan melihat suatu hal dengan cara yang berbeda, mereka menghancurkan bangunan argumen yang ada sehingga bangunan ini dapat dibangun dengan lebih kuat.

Hal ini telah banyak terjadi dalam sains. Meminjam sebuah paragraf dalam tulisan Raphael Scholl tentang bagaimana menemukan pikiran baru, sains berkutat dalam dua hal: (1) bagaimana kita bisa tahu bahwa suatu hipotesis mungkin benar (“pembenaran”) dan (2) bagaimana kita bisa mensintesis suatu hipotesis untuk “dibenarkan” (“penemuan”). Dua hal ini sama-sama krusial; seseorang yang jago menguji hipotesis tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak ada yang diuji sementara hipotesis paling kreatif yang bisa kita buat tidak ada artinya kalau kita tidak bisa menguji kebenarannya.

Mendapatkan pemikiran baru untuk dijadikan hipotesis tidak mudah. Sebagian besar hipotesis yang ada di Ekologi berasal dari hipotesis yang sudah lama ada sebelumnya yang dikembangkan dalam konteks yang berbeda. Namun, kecenderungan para peneliti untuk setuju satu sama lain menyebabkan suatu asumsi begitu lama diterima sampai ketidakcocokan terhadap asumsi tersebut dibebankan kepada data. Hal ini terjadi dalam banyak hal: pengaruh fragmentasi habitat terhadap biodiversitas, teori biogeografi pulau, dan lain-lain

The most serious errors in science don’t arise from ignorance of what’s true, they arise from believing what’s false.
Jeremy Fox

Saya sejujurnya kaget mendapati hal-hal ini karena selama S1, mata kuliah selalu mengajarkan kita untuk percaya suatu konsep. Bahkan Pak Adi Pancoro, dosen Genetika di ITB, mengatakan bahwa DNA menjadi RNA menjadi protein adalah dogma, “Ingat itu, nanti kalau ditanya malaikat, katakan protein berasal dari RNA dan RNA berasal dari DNA.” Mungkin memang kurikulum sarjana bertujuan untuk menanamkan konsep-konsep dasar sementara kritis sekedar bonus, namun budaya berpikir kritis yang kurang diaplikasikan dalam lingkungan akademis perguruan tinggi kala saya masih kuliah lumayan membuat saya keteteran dalam banyak sesi diskusi dengan teman-teman di S2.

Menjadi kritis disebut juga menjadi devil’s advocate, pengacara setan. Mungkin tidak akan seganteng Keanu Reeves, tapi membangun argumen oposisi adalah sehat dalam sebuah diskusi ilmiah. Contoh kasus yang produktif di mana banyak saintis yang tidak saling setuju berdiskusi tentang hipotesis yang tepat untuk diuji muncul ketika Homo florensis ditemukan di Flores waktu silam, dan yang belakangan agak populer di kalangan kawan-kawan ekologi-evolusi adalah apakah kita sungguh punya spesies orang utan baru. (Baca kegalauan salah seorang penelitinya di sini dan respon lanjut media di sini jika kalian tertarik).

Tak Selamanya Berbeda Itu Indah

Saya akui, membangun pemikiran baru tidak selamanya berujung manis. Banyak gerakan-gerakan negatif berasal dari pemikiran baru semisal teori konspirasi dan “fakta alternatif”; mereka adalah upaya menjadi tidak setuju. Perbedaannya dalam konteks yang saya bawa adalah mereka sudah ada dalam konteks kebenarannya sendiri. Hal ini tidak semata ada dalam debat seputar agama dan politik. Sains juga tidak lepas dari dogma yang membuat orang tidak berhasil menerima perbedaan pendapat (Saya bersama Thomas Kuhn dalam hal ini).

Karena itu, saya menyesalkan teman-teman pendukung Teori Evolusi yang langsung tidak mau mendengarkan hipotesis apa pun dari pendukung Irreducible Complexity dengan langsung mengatakan “itu bukan hipotesis karena memang tidak ada”. Padahal sudut pandang dan cara pikir yang berbeda dari teori lawan ini bisa dipakai untuk memperkaya penemuan dalam evolusi. Peneliti yang malas langsung sekedar mengatakan bahwa teori ini tidak masuk akal; peneliti yang rajin akan langsung bersemangat mencari desain penelitian yang mematahkan teori lawan.

Namun, menjadi objektif itu melelahkan. Lebih mudah menjadi bias karena lebih sedikit informasi yang harus dicari dan dikonfirmasi. Jadi, aku tidak menyalahkan mereka yang bersikeras dengan pendapat mereka tentang Irreducible Complexity. Seperti halnya gambar berikut, orang berbeda pendapat masing-masing karena kurang informasi.

Salah satu dari mereka pasti ada yang salah; seseorang bermaksud menggambar angka 6 atau 9, tidak mungkin keduanya. Mereka perlu tambahan data dan mencari orientasi yang tepat, cari apakah ada angka lain yang sejajar dan dapat memberi informasi orientasi. Mungkin ada jalanan atau bangunan di sekitar situ yang mereka representasikan, atau mereka bisa tanya seseorang yang benar-benar tahu. (Sumber: https://imgur.com/gallery/OJkuk). 

Dan seperti yang gambar tersebut implikasikan, orang memiliki opini tanpa dukungan informasi tentang sesuatu yang dia tidak ketahui dan mengklaim opini mereka sama validnya dengan fakta adalah apa yang menghancurkan dunia. Ketika hal ini terjadi, artinya tidak ada yang benar-benar menginginkan kebenaran. Tidak ada yang ingin benar-benar tahu; mereka hanya ingin menjadi benar.

Manusiawi. Menjadi benar itu menyenangkan. Namun perdebatan yang tak sehat karena kurang data semacam itu bukanlah yang memajukan ilmu pengetahuan. Tak ada penemuan baru dari saling ngotot tentang apa yang benar. Akhirnya, kita harus kembali lagi ke tujuan awal adu argumentasi.

Hal lain yang menghalangi perkembangan penemuan baru adalah kelemahan komunikasi. Ketika seseorang gagal menyampaikan gagasan kontranya, orang akan cenderung tidak setuju. Hal ini juga terjadi dalam teori evolusi ketika Lamarck kalah dari Cuvier dalam hal publikasi gagasannya dan di masa kini ketika Mark Vellend gagal mempublikasikan sebuah artikel di Nature tentang biodiversitas global yang tidak menurun.

Sekali lagi, menjadi tidak setuju hanya bermanfaat jika dilakukan dengan semangat yang sama: mencari kebenaran. Hal ini tidak akan terjadi, tentu, kalau masing-masing merasa sudah mendapatkan kebenaran masing-masing. Meminjam paparan Gus Mus,

“Nabi itu bersabda, selama orang itu masih belajar, orang itu pandai. Ketika orang itu berhenti belajar karena merasa pandai, mulailah dia menjadi bodoh.”

Jadi, dengan tulisan ini, saya ingin mendukung teman-teman mengemukakan pendapatnya tentang suatu isu, seaneh apa pun itu. Tentu saja dengan cara yang beradab. Kecuali jika kamu ingin membuat orang lain kesal dan tidak mengejar kebenaran, seperti yang lebih mudah dilakukan kebanyakan orang di dunia maya.

Belajar tentang Perubahan dari Pertarungan Lamarck vs Cuvier

Bagi saya, menilik sejarah sains berguna untuk memahami bagaimana sains selama ini dilakukan dan bagaimana peradaban ikut berevolusi bersama perubahan paradigma. Dalam kasus Teori Evolusi, saya mendapati bahwa gagasan-gagasan dalam teori tersebut berubah seiring waktu bersama dengan pemahaman dan penemuan yang terus berlangsung sepanjang zaman. Satu fragmen dalam sejarah Teori Evolusi yang kita kenal sekarang yang paling menarik perhatian saya adalah jaman abad ke-18 ketika Lamarck dan Cuvier hidup. Pertarungan mereka merupakan contoh menarik dialog antar-paradigma yang sehat sekaligus tidak sehat.

Lamarck dianggap sebagai salah seorang naturalis yang pertama mengusulkan kerangka pemikiran yang koheren tentang perubahan spesies sampai On the Origin of Species terbit. Namun, di masanya, teori ini selalu dipandang sebelah mata oleh mereka yang menganggap spesies tak mungkin berubah. Hal ini sedikit-banyak saya pahami sebagai ulah salah seorang naturalis pada masa itu yang sangat pintar menjual temuannya: Cuvier.


Image resultJean-Baptiste Lamarck adalah seorang naturalis Prancis pada era Revolusi Prancis yang mengajukan gagasan bahwa spesies dapat berubah bersama perubahan lingkungan. Ia dikenal dengan teorinya bahwa spesies akan mengalami perubahan struktur seiring dengan penggunaan struktur tersebut dan perubahan ini akan diturunkan ke generasi selanjutnya. Contoh yang dia pakai dalah tikus tanah yang buta atau ketiadaan gigi dalam paruh burung.

Georges Cuvier.pngGeorges Cuvier juga seorang naturalis Prancis; ia hidup di masa yang sama dengan Lamarck. Lain halnya dengan rekan naturalisnya, ia tidak suka dengan gagasan bahwa spesies dapat berubah seiring waktu. Latar belakangnya sebagai paleontolog membuatnya melihat bahwa spesies tak mungkin begitu saja mengubah fitur yang sudah sangat cocok dengan habitat mereka tanpa menurunkan kelulushidupan spesies tersebut.


Bermula dari membaca tulisan Elizabeth Kolbert dalam bukunya The Sixth Mass Extinction: An Unnatural History, saya melihat dari berbagai sumber bahwa Lamarck begitu disalahpahami oleh sebagian besar evolusionis karena elegi yang ditulis Cuvier untuk Lamarck ketika sang naturalis wafat. Cuvier lebih banyak mengritisi pekerjaan Lamarck alih-alih mengenang hidupnya. Karena Cuvier merupakan saintis yang sangat “menjual” di zamannya, tulisan Cuvier menggema sepeninggal Lamarck dan tidak ada lagi yang berusaha mengerjakan teori Lamarck hingga buku Darwin keluar.

Pertarungan Lamarck vs Cuvier

Untuk memahami bagaimana Cuvier melakukannya, kita perlu pahami dulu bahwa Lamarck punya dua ide besar untuk menjelaskan perubahan spesies: spesies beradaptasi dan spesies berubah ke bentuk yang semakin kompleks. Idenya berbasiskan kepada penemuan Spallanzani yang mendukung teori generatio spontanea; makhluk hidup dapat muncul dari substansi tak hidup. Menurut Lamarck,

“Pergerakan cairan yang sangat cepat akan mengukir kanal-kanal di antara jaringan-jaringan yang rapuh. Kemudian, aliran ini akan makin bervariasi, membentuk organ-organ yang berbeda. Cairan ini, sekarang semakin kompleks, menjadi sumber varian sekresi yang lebih bervariasi dan berbagai substansi yang menyusun suatu organ.” (Histoire naturelle des animaux sans vertebres, 1815)

Lamarck menggunakan prinsip kimia dan fisika sepenuhnya untuk menjelaskan perubahan spesies dari sederhana menjadi kompleks. Karena prinsip fisika dan kimia yang demikian, biologi juga semestinya demikian. Sebagai konsekuensinya, organisme dapat berubah ketika menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penggunaan sutau organ secara berkelanjutan akan membantu perkembangan organ dan memberi organ tersebut kekuatan yang sebanding dengan lama penggunaannya. Ketika suatu organ tidak digunakan, tentu saja, kondisi organ tersebut akan memburuk dan lama-lama menghilang dari suatu spesies. Kadar penggunaan organ ini diatur oleh lingkungan dan akan diturunkan ke generasi selanjutnya oleh individu yang mengalami perubahan tersebut.

Cuvier menganggap penjelasan Lamarck tidak cukup untuk membuktikan bahwa spesies dapat berubah seiring waktu. Menurut Cuvier dalam eleginya teori Lamarck bergantung kepada dua hal yang sangat arbitrer dan tak dapat dibuktikan: suatu cairan yang dapat berubah dan organ dapat berubah sesuai keinginan. Lebih lanjut dia membawa kritiknya ad hominem,

“Sebuah sistem yang dibangun berdasarkan fondasi yang demikian dapat menawan imajinasi seorang penyair; seorang ahli metafisika dapat menurunkan sistem yang sama sekali baru darinya; namun sistem ini sama sekali tak dapat lolos dari pengujian seseorang yang telah membedah sebuah tangan, sebuah organ internal, atau bahkan sehelai bulu.” (Éloge de M. de Lamarck)

Cuvier menolak kedua ide ini berdasarkan hasil observasinya terhadap fosil-fosil yang tak pernah ia lihat mengalami perubahan transisional dalam anatomi. Spesies mengalami apa yang disebut “punctuated equilibrium” ketika strata fosil yang lebih muda menghasilkan bentuk yang sama sekali berbeda dari strata fosil yang lebih tua. Ia berusaha mengacu kepada bencana-bencana alam dalam Alkitab yang memusnahkan hewan-hewan ini. Lamarck melawan dengan menyatakan bahwa perubahan yang dia maksudkan terjadi dalam waktu yang sangat lama sehingga tak dapat diobservasi dalam satu generasi manusia. Pelik ‘kan?

Dengan apa yang sains bisa lakukan saat itu, Cuvier tampak lebih meyakinkan dari Lamarck dan ia lebih dipercaya sepeninggal Lamarck. Bersama dengan wafatnya Lamarck dan terbitnya elegi buatan Cuvier (1836), gagasan bahwa spesies dapat berubah tak lagi banyak dibahas hingga buku Darwin terbit (1859). Sebegitu hebatnya pengaruh seorang saintis yang pintar menjual idenya sampai bisa mengubur sebuah teori selama satu generasi.

Menurut saya, Lamarck kala itu tak dianggap serius (bahkan hingga sekarang) karena dia berusaha menghasilkan teori dari sesuatu yang tak dapat benar-benar diobservasi. Cuvier, sebagai lawannya, menarik lebih banyak perhatian melalui keahliannya mengidentifikasi fitur anatomi hewan masa kini dalam tiap fosil yang ditemukan. Mereka berdua, walau sama-sama melihat apa yang orang lain tidak lihat, berbeda dalam menjelaskan satu hal yang sama. Semacam dialog beda frekuensi. Cuvier membicarakan level makro sementara Lamarck membicarakan level mikro.

Lamarck dianggap keliru oleh sebagian besar evolusionis karena hipotesisnya dipandang dalam skala makro ala Cuvier. Tentu saja binaragawan yang banyak menggunakan ototnya tidak memiliki anak yang langsung beroto pula. Tentu saja tikus yang dipotong ekornya tidak akan pernah memiliki keturunan yang terputus ekornya. Lamarck punya ide yang bagus, tapi tidak mempunyai cara yang bagus untuk menjelaskan mekanismenya. Secara konsep, ia adalah pionir; secara eksekusi, Darwin adalah pionir.

Bersama dengan revolusi biologi molekuler, para ilmuwan melihat lebih dalam ke “cairan” yang dimaksud Lamarck. Protein, DNA, dan berbagai molekul yang dapat mengatur penampakan organisme lambat laun ditemukan. Konsep hereditas pun terbentuk: DNA sebagai molekul yang diwariskan dari generasi ke generasi merupakan kunci dari prinsi penurunan sifat. Apa yang ada dalam DNA suatu individu akan ada dalam DNA keturunan individu tersebut. Namun, penemuan konsep ini justru membuat teori Lamarck “bid’ah” di kalangan evolusionis. Karena dogma bahwa segala sesuatu yang diturunkan ke generasi selanjutnya harus berasal dari apa yang ada dalam DNA, segala sesuatu yang tidak tampak berasal dari DNA dianggap tak dapat diturunkan ke generasi selanjutnya. Perubahan fisik akibat pengaruh lingkungan tak mungkin mengubah DNA, dan DNA yang berubah seringkali berbahaya untuk tubuh. Ini adalah pahan Neo-Darwinisme yang mulai menemukan bentuknya pasca ditemukannya mekanisme replikasi DNA.

Namun, perlahan ilmuwan menemukan konsep epigenetik: DNA memang tidak berubah, tapi regulasi ekspresi DNA dapat berubah. Sebagai cetak-biru protein dalam tubuh, DNA dapat diatur seberapa banyak ia dapat diaktifkan atau justru didiamkan agar protein-protein tertentu disintesis lebih banyak atau lebih sedikit. Para regulator inilah yang dapat berubah dan perubahan mereka dapat diwariskan ke generasi selanjutnya. Melalui penemuan-penemuan epigenetik, konsep “modifikasi yang diturunkan” mungkin terjadi dalam DNA. Dogma utama konsep hereditas tidak dilanggar, namun bagaimana, kapan, dan seberapa banyak DNA diekspresikan menjadi protein inilah yang berubah dan dapat diturunkan ke generasi selanjutnya.

Pada akhirnya, Lamarck tidak sepenuhnya salah. Namun, ini membuat konsep penurunan sifat menjadi lebih rumit. Jablonska dan Lamb dalam bukunya Evolution in Four Dimension menganggap bahwa konsep ini tidak banyak beredar di kalangan evolusionis karena sulitnya menyusun ulang konsep hereditas jika kita harus memasukkan ide bahwa perubahan yang dipengaruhi lingkungan dapat diturunkan. Menolak sebuah paradigma dan menggantinya dengan paradigma baru lebih mudah daripada mengintegrasikan dua paradigma.

Cuvier? Argumennya bahwa spesies tidak berubah karena mumi kucing dari ribuan tahun sebelum masehi tidak menunjukkan morfologi yang berbeda dari kucing masa kini juga tidak salah. Namun, tidak semua hewan mengalami hal yang sama dengan kucing. Lamarck juga mengajukan argumen tandingan bahwa spesies butuh waktu yang lebih lama lagi untuk berubah. Sayangnya, fosil transisi sangat sedikit dan menemukan fosil tidak mudah. Hewan yang tinggal di lingkungan tropis cenderung lebih mudah membusuk hingga ke tulang belulang dibandingkan hewan arktik. Para oposisi teori evolusi kerap menggunakan argumen tentang ketiadaan fosil transisi untuk melawan konsep perubahan spesies. Kelemahan rekaman fosil untuk secara utuh menjelaskan masa lalu masih menjadi senjata dari para oposisi makroevolusi atau pembentukan spesies baru. Tidak ada perubahan organ yang begitu tajam semisal rambut menjadi bulu atau gigi menjadi paruh yang bisa kita amati di alam dalam masa umur manusia.

Perubahan Persepsi tentang Spesies

Cuvier tidak sepenuhnya keliru, sementara teori Lamarck bekerja dalam dimensi yang berbeda. Dimensi yang dikerjakan evolusionis masa kini. Sampai saat ini, apa yang dilihat para evolusionis baru mikroevolusi atau perubahan frekuensi alel dalam gen. Makroevolusi atau pembentukan spesies baru masih sulit diamati langsung prosesnya di alam; kita hanya melihat hasil berjuta-juta tahun mikroevolusi. Namun, makroevolusi bukan lagi pertanyaan yang dikerjakan evolusi.

Semakin dalam pengetahuan para peneliti seputar Biologi molekuler, perkembangan organisme, dan konsep hereditas, konsep spesies itu sendiri makin dipertanyakan. Manusia punya begitu banyak kesamaan sekuens DNA dengan simpanse. Kita punya struktur tulang yang sama dengan kucing atau sistem ekskresi yang mirip dengan tikus. Jika tidak, untuk apa obat-obatan dan zat kimia diujikan dulu ke hewan sebelum manusia? Seberapa berbeda suatu organisme dari organisme lain sampai mereka disebut spesies yang berbeda? Apalagi jika kriteria spesies bahkan ditentukan oleh manusia, apakah relevan membahas pembentukan spesies?

Karena itu, saat ini kebanyakan evolusionis tidak lagi meributkan apakah spesies berubah atau tidak. Spesies adalah hipotesis, bukan entitas yang sungguh-sungguh ada. Ia adalah nama yang kita berikan kepada organisme untuk memudahkan pembelajaran kita terhadap mereka. Saat ini, yang lebih mudah tampak adalah bagaimana suatu gen muncul dan bertahan di alam, bagaimana hal ini dapat memengaruhi kelulushidupan suatu populasi, dan lain sebagainya. Hal ini dibawa Darwin dalam contohnya tentang domestifikasi hewan dan tumbuhan. Jagung yang kita makan saat ini bulirnya dahulu tak sebesar itu. Kucing yang tinggal bersama kita saat ini mewarisi perilaku kucing liar ketika mereka memindahkan anaknya secara berkala setelah melahirkan.

Sains bekerja mengubah paradigma manusia seiring waktu dengan cara yang berbeda di tiap zaman. Berbeda dengan masa kini misalnya, Lamarck dan Cuvier adalah penganut ajaran Alkitab walaupun keduanya berbeda pandangan tentang bagaimana spesies ada. Saat ini, mungkin seorang Lamarck akan dianggap ateis atau minimal agnostik karena percaya bahwa tak perlu intervensi Tuhan dalam pembentukan spesies. Cuvier akan dianggap kreasionis karena tak percaya bahwa spesies dapat berubah seiring waktu. Kubu yang sama akan tetap ada, hanya berbeda nama dan alasan. Tapi, saya yakin kedua naturalis ini tidak akan suka dengan nama kubu masa-kini yang disematkan ke masing-masing.

Sampai Semesta menyusut, saya kira perdebatan antar-paradigma ini dan perubahan persepsi yang terjadi selanjutnya adalah niscaya. Saat ini Lamarck dan Cuvier hanyalah bagian dari sejarah perdebatan panjang; pada akhirnya tidak ada yang paling tepat di antara keduanya dalam menjelaskan mekanisme alam. Belajar dari pertarungan mereka dalam sejarah teori evolusi, apa gunanya tegang otot jika apa yang kita tahu selama ini belum final dan masih akan terus berubah?

Bagaimana Cara Memulai Menulis Skripsi, Tesis, dan Apa Pun

Sudah dua kali berturut-turut saya menjalani dunia akademik yang membutuhkan pelaporan proyek di akhir studi: S1 dan S2. Dua kali berturut-turut juga saya mengalami masalah dengan penulisan laporannya: harus mulai dari mana?

Ketika saya menulis skripsi, saya dengan mudah mengikuti petunjuk yang dulu ada sejak dikuliahi penulisan teks akademik, academic writing, dan teknik komunikasi ilmiah. Ketiga kuliah ini berprogres seiring waktu, mulai dari sekedar mementingkan pakem ejaan dan format resmi karya tulis ilmiah (Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, dst.) sampai dengan memoles teknik menyampaikan sebuah argumen. Karena memang saya suka membaca dan menulis, ditambah kuliah gratis tentang menulis dari ibu sendiri yang notabene dosen, proses menulis skripsi tidak terlalu susah. Saya masukkan saja semua yang saya tahu di Tinjauan Pustaka, berusaha membela alasan meneliti di Pendahuluan, menjabarkan apa yang saya lakukan di Metode, lalu mencerocos di Hasil dan Pembahasan. Simpulan tinggal menjawab poin-poin tujuan di Pendahuluan.

Saya sesungguhnya tak terlalu suka skripsi yang saya tulis kala itu. Saya merasa kurang berkontribusi ke keilmuan yang sedang saya pelajari dan melakukan sesuatu hanya karena itu tampak keren. Ibu saya kemudian mengatakan bahwa S1 memang hanya belajar meneliti; S2 baru kamu melakukan penelitian dan S3 kamu melakukan sesuatu yang baru. Karena itu, saya membiarkan skripsi saya seperti itu. Dosen pembimbing saya yang suka saya tengkari kala itu tentang filosofi penelitian saya juga tidak banyak memberikan koreksi krusial. Untuk standar S1, tampaknya saya sudah cukup memuaskan sistem yang berlangsung di jurusan dan fakultas saya. Namun saya sendiri kurang puas.

Lalu saya mengenyam S2 di Jerman, tepatnya di Ludwig-Maximilians-Universität München.

Ada yang menarik dengan budaya menulis laporan akhir studi sarjana di Jerman. Skripsi dan tesis sama-sama disebut “thesis” sementara hanya studi doktoral yang berbeda dengan menyebut laporan akhirnya “dissertation“. Kita dapat belajar budaya dari bahasa dan usut punya usut, perbedaan penyebutan ini yang membuat tradisi menulis di Indonesia berbeda dengan di Jerman. Dari kata “thesis” ini, mahasiswa diharapkan untuk membuat tesis dari penelitiannya atau pernyataan inti tentang apa hal baru yang dia temukan dari penelitiannya. Dengan demikian, akan mudah untuk menulis sebuah artikel sebagai satu unit yang kohesif.

Kurikulum tentang cara menulis sebuah karya ilmiah sesungguhnya sudah dirancang dengan baik oleh perguruan tinggi tempat saya mengenyam S1 dulu: kuasai detil tentang cara menulis lalu mulai pikirkan tulisan kita sebagai sebuah cerita. Namun, saya merasa kurang berhasil menuliskan skripsi saya sebagai sebuah cerita karena mungkin dosen pembimbing saya kala itu tidak fokus ke sana. Meskipun demikian, beliau menyuruh saya menulis ulang skripsi saya dalam bentuk artikel ilmiah yang bisa dipublikasikan di jurnal internasional. Penolakan pertama saya sudah terjadi dan mungkin hal ini terjadi karena beberapa hal yang tidak saya pahami untuk menulis artikel ilmiah dengan baik.

skrptes
Skripsi dan tesis saya berdampingan. Perlu diketahui bahwa format sampul tesis di sini tidak baku; yang penting ada judul, nama penulis, nama laporan dan identitas fakultas dan staf TU akan senang.

 

Sekarang, setelah mengalami dua kali menulis teks akademik, saya mulai memahami apa yang membuat memulai menulis lebih mudah.

Mulai dengan pertanyaan

Penelitian umumnya berupaya menemukan sesuatu entah itu menguji hipotesis tertentu atau mengeksplorasi kemungkinan. Saat ini, Ekologi dan Evolusi yang mulai dipahami sebagai disiplin yang memuat multicausality (satu fenomena disebabkan oleh banyak hal yang saling berkaitan), menguji hipotesis tak lagi menjadi satu-satunya cara meneliti/membingkai jalan cerita penelitian. Eksplorasi seluruh data hingga ke pencilan-pencilannya merupakan penelitian tersendiri, terutama jika memang tak ada data lain tentang hal yang ingin dieksplor. Jangan memaksa diri untuk menulis pengujian hipotesis; ketika hipotesis yang ditulis tidak dapat difalsifikasi/diuji, hilang kita dibantai para profesor!

Mulai dengan pernyataan

Ini adalah aliran lain dalam menulis tulisan ilmiah. Jika sebelumnya (dan yang lebih umum) adalah menemukan pertanyaan, menemukan pernyataan atau sebuah tesis dalam penelitianmu juga merupakan cara mudah memulai tulisan: apa yang akan kamu katakan jika kamu harus menulis penelitianmu dalam satu kalimat? Setelah itu jelaskan bagaimana tepatnya kamu melakukan itu, mengapa itu penting, dan apa dampak dari hasil yang kamu temukan.

Mulai dari artikel kecil untuk mendapatkan struktur

Tulisan awal ini tidak harus langsung seluruh tesis; bisa artikel kecil yang mengenalkan tentang penelitian kita. Mengemas ringkas penelitian kita dalam bahasa yang umum dan mudah dimengerti akan memudahkan kita mendapatkan struktur yang diperlukan. Selain itu, tulisan perlu dibuat seolah sedang menulis cerita fiksi; pikirkan alur dan karakter. Subjek penelitian harus dikenalkan dengan konsisten dan diceritakan dengan bertahap.

Segera tulis!

Menulis membantu kita menata pikiran. Jangan terlalu lama dipikir akan ditulis seperti apa; tulis! Menulis mengaktifkan otak kita dan membantu kita mengonkritkan gagasan yang selama ini berkabut di kepala. Ketika kita menulis, jutaan sinaps menyala sembari berusaha menghubungkan segala informasi yang kita punya terkait topik yang sedang ingin kita tulis. Inspirasi akan datang bersama proses menulis.

Menulis dan menyebarkan hasil penelitian juga menjadi salah satu alasan kemajuan penelitian suatu kelompok. Dengan tulisan, lebih mudah untuk mengomunikasikan metode baru yang kita temukan atau hasil penelitian yang kita dapatkan dan mendapatkan masukan dari rekan peneliti atau masyarakat awam. Lalu, suatu topik penelitian akan berkembang makin pesat seiring berjalannya diskursus.

***

Ada hal-hal lain juga yang mungkin akan mendorong “memulai” menulis lebih mudah semisal perasaan kompetitif melihat kawan lain sudah pada lulus (#uhuk) atau malah sudah publikasi, tenggat waktu yang makin dekat, atau kerewelan rekan sejawat karena ia ingin segera punya poin publikasi. Mungkin juga alasan yang lebih besar semisal menyebarkan ilmu yang bermanfaat atau mendokumentasikan proses mencari ilmu. Ambil saja alasan memulai yang paling produktif dan segera menulis.


Untuk yang tertarik dengan sumber-sumber tentang tips menulis, bisa cek beberapa tautan menarik berikut:

Curzan, Anne. 2017. “Why I Don’t Ask Students to Write the Thesis Statement First“. The Chronicle of Higher Education.

McGill, Brian, 2012. “Some well-known tricks for clear writing” Dynamic Ecology.

McGill, Brian. 2014. “How to write a great journal article – act like a fiction author” Dynamic Ecology.

McGill, Brian. 2016. “The 5 pivotal paragraphs in a paper“. Dynamic Ecology.

Sila tambahkan di komentar jika ada yang punya tambahan ilmu!