Memahami Evolusi Manusia Melalui Ukuran Jaket

Sebagai seorang istri yang sangat ketat dalam anggaran, saya tentu saja menanggapi keinginan suami akan jaket lapangan dan celana lapangan dengan mencari (sebisa saya) tempat di mana barang-barang itu dijual dengan harga semurah-murahnya. Di Jerman, tidak mudah mencari yang demikian di luar portal daring. Pasar barang bekas juga tidak selalu memiliki kedua jenis barang tersebut. Seakan tingkat kesulitan mencari barang yang sesuai anggaran belum cukup, tantangan berikutnya adalah mencari celana dan jaket dengan ukuran yang sesuai dengan badan-tipikal-Asia suami saya di antara ukuran-ukuran raksasa yang didiskon. Ketika saya sibuk mencari-cari konversi ukuran celana dan jaket Eropa ke Asia, saya menyadari hal yang menarik: betapa besarnya interval ukuran tubuh spesies yang kita kenal dengan nama Homo sapiens.

Kebesaran interval tentu relatif terhadap spesies lain. Jika di Eropa ukuran jaket untuk pria dewasa didasarkan kepada lingkar dada dan pinggang, penentuan satu spesies codot di Indonesia didasarkan kepada panjang lengan depan (fore arm) yang umumnya 57-63 mm (Cynopterus brachyotis). Bayangkan interval tersebut untuk satu spesies codot, sementara untuk seluruh manusia yang dianggap satu spesies (Homo sapiens), lingkar dada saja bisa berkisar dari 76-125 cm (dari XXS sampai XXL)! Jika menggunakan sudut pandang codot buah, laki-laki Indonesia usia 20an ke atas (n = 5) yang memiliki lingkar dada rata-rata 85 cm bisa dianggap spesies yang berbeda dari laki-laki Eropa pada rentang usia yang sama (n = 3) dengan lingkar dada rata-rata 105 cm. Ketika menemukan tengkorak manusia, bagaimana kamu menentukan itu masih satu spesies atau bukan? Ini belum lagi mempertimbangkan usia dan penyakit.

Image result for europe jacket size
Salah satu contoh konversi ukuran jaket Eropa ke ukuran internasional dalam inci. Karena satu inci sama dengan 2,54 cm, maka 30″ dalam tabel sama dengan 76,2 cm; rata-rata orang Indonesia di Eropa membeli jaket ukuran S atau M.

Isu ini juga dibawa oleh salah satu profesor antropologi LMU ketika membawakan salah satu kuliahnya yang saya ikuti. Menentukan spesies berdasarkan morfologi itu absurd.  Manusia memiliki morfologi yang sangat bervariasi. Dalam kaitannya dengan studi bukti-bukti evolusi, sulit menentukan apakah kita berbeda dari manusia purba lain hanya dari ukuran tengkorak dengan rentang variasi morfologi setinggi itu. Dengan kemajuan teknologi saat ini, peneliti lebih suka menentukan perbedaan spesies dari komposisi genetiknya. Namun, berdasarkan komposisi genetik, Homo sapiens tidak seberbeda itu dari manusia-manusia purba yang paling berkerabat dengan mereka, Denisovan dan Neanderthal. Beberapa sekuen DNA Neanderthal dan Denisovan ternyata juga dimiliki Homo sapiens pada era ini dan bermanfaat bagi adaptasi manusia terhadap lingkungan. Ketika hingga level molekuler seperti itu saja kita masih menemukan kesamaan dengan manusia purba yang dianggap berbeda spesies, bagaimana dengan sesama manusia yang berbeda suku, ras, etnis, dan agama masa kini?

Perbedaan dan kesamaan yang kita lihat antara satu entitas dengan yang lain, entah itu ras, etnis, atau spesies manusia purba, tak lain dan tak bukan adalah ilusi tentang kenyataan yang diberikan oleh otak kita. Memahami sesuatu sebagai kumpulan dari koneksi adalah sulit sehingga kita cenderung mengelompokkan dan mereduksi sesuatu ke unit-unit paling sederhana yang bisa kita pahami. Unit-unit ini, pada akhirnya lebih kompleks dari yang kita kira, tidak sesederhana yang kita bayangkan sebelumnya karena memiliki keterkaitan dengan unit lain. Pada akhirnya, unit-unit sederhana ini menjadi unit-kompleks-paling-sederhana. Tetap kompleks.

Konsep spesies dan pemisahan identitas hanyalah cara mudah memahami fenomena biologis dengan mereduksi bagian-bagian alam menjadi unit kompleks paling sederhana. Menglasifikasikan kelompok manusia kemudian juga menjadi sebuah upaya untuk memahami bagaimana dinamika sosial-politik-ekonomi dari suatu masyarakat/bangsa terjadi pada masa kini. Pengelompokan ini bermanfaat per se untuk memahami sesama manusia. Memahami mengapa kita berbeda dan apa yang dapat dilakukan mengenai perbedaan ini.

Namun, di tengah ideologi pecah-belah yang makin marak di tanahair, konsep penglasifikasian ini kehilangan manfaatnya dan dianggap lebih banyak keburukannya. Setiap perbedaan digunakan untuk menjustifikasi tindakan pembelaan diri dan prasangka buruk. Orang dipaksa memilih antara dua dikotomi yang keliru; jika kamu tidak setuju dengan saya, maka kamu pasti setuju dengan mereka. Kamu tidak mau dianggap munafik? Jangan bersikap seperti orang-orang yang kami anggap munafik. Konyol sekali.

Belanja jaket dan celana untuk suami saya di antara ukuran Eropa ini sebuah contoh ketika kita tidak bisa memaksakan keragaman manusia untuk menjadi homogen. Saya tak mungkin memaksakan ukuran badan Eropa untuk suami saya; walau bisa dikecilkan/dibesarkan, pada akhirnya ia dikecilkan/dibesarkan. Bisa dipakai, namun tetap harus disesuaikan. Selalu lebih nyaman memakai celana dan jaket dalam ukuran yang sesuai dan tidak memaksakan diri memakai ukuran yang tidak sesuai.

Lalu, jika kita bisa menerima manusia berbeda ukuran jaket dan celana, harusnya kita juga bisa menerima bahwa manusia saling berbeda untuk hal yang lain.

Advertisements

Ada Apa dengan Perhimpunan Pelajar Kita?

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan teman saya yang kecewa dengan Simposium Internasional PPI Dunia tahun ini. Dia mengecewakan kondisi simposium yang tidak kondusif dan kurang luaran jelas. Tulisannya sempat viral di kalangan pelajar Indonesia luar negeri beberapa hari belakangan dan menambah ramai sentimen negatif beberapa golongan terhadap pelajar Indonesia yang berkuliah ke luar negeri dengan uang beasiswa. Kegiatan dalam tulisan ini diklarifikasi oleh PPI UK sebagai tuan rumah kegiatan tersebut; mereka tidak bertanggung jawab terhadap kelakuan delegasi ketika simposium. Seakan itu tak cukup, PPI Belanda turut menyatakan sikap dengan menarik diri dari keanggotaan PPI Dunia hingga tuntutan mereka terpenuhi. Ada apa ini?

Sebelum PPI Belanda, PPI Jerman, dan PPI UK walk out dari simposium internasional PPI Dunia, saya sudah lama walk out dari kegiatan keorganisasian semacam ini. Sebagian besar hidup saya tidak saya habiskan sebagai anggota aktif di organisasi kemahasiswaan atau kesiswaan dalam semua institusi pendidikan yang saya ikuti. Himpunan mahasiswa, OSIS, Perkumpulan Pelajar, sebutlah. CV saya tidak banyak berisi pengalaman keorganisasian. Karena itu, mungkin saya bisa sedikit bicara tentang mengapa seorang anggota memutuskan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam sebuah organisasi.

Mengapa Pelajar Butuh Berorganisasi

Saya sesungguhnya menyesalkan kepasifan saya dalam banyak organisasi kesiswaan dan kemahasiswaan selama saya menjadi pelajar. Akademisi sering mengalami masalah karena kemampuan manajerial mereka yang rendah: mampu menemukan sesuatu, tak mampu memasarkannya. Ketidakmampuan akademisi untuk mengomunikasikan hasil penelitian mereka kepada masyarakat juga berujung kepada jurnalisme-jurnalisme setengah matang yang berakibat salah paham. Karena itu, tak heran kalau dosen wali saya terus menyuruh saya aktif di organisasi kemahasiswaan dan LPDP selaku sponsor S2 saya terus mengompori awardeenya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan berorganisasi: selain sains, kita butuh belajar juga tentang cara berinteraksi dengan sesama manusia.

Kita semua boleh mengaku tidak suka politik, namun kita perlu mengakui bahwa kita melakukannya tanpa sadar dalam kehidupan sosial kita. Dalam kelas, rukun tetangga, maupun kelompok pengajian, mau tak mau kita perlu mengakui ada “politik” yang dimainkan. Bagaimana caranya supaya saya bisa ikut ini dan itu, mengadakan program ini dan itu? Kapan saya boleh bilang begini atau begitu? Setiap kata dan tindakan mengandung konsekuensi untuk diri kita ke depan. Ada tokoh dan suasana yang harus diidentifikasi untuk mendapatkan apa yang penting bagi kita. Jadi, ketika saya gagal memahami “politik” ini, saya memutuskan untuk tidak bergabung dalam suatu organisasi.

Kecerdasaan interpersonal minim dan tidak suka berorganisasi mungkin alasan yang valid untuk tidak aktif. Saya merasa tuntutan untuk aktif di kegiatan keorganisasian cukup berat bagi saya. Saya sering berlindung di balik alasan “bukan tipe aktivis” atau “introvert” (tidak nyaman terlalu banyak berinteraksi dengan banyak jenis manusia)… sampai saya menyadari bahwa saya sesungguhnya aktif di organisasi-organisasi tertentu.

Menemukan Panggilan dan Memahami Sistem

Ketika saya memutuskan untuk lebih aktif di sebuah organisasi semasa S1, saya menyadari bahwa di organisasi tersebut ada kegiatan yang saya suka dan saya cukup ahli di sana relatif terhadap anggota lain. Saya membantu menyusun AD/ART organisasi yang saya ikuti, yang selama ini ternyata belum ada. Saya membantu melatih anggota baru, yang ternyata saya nikmati prosesnya lepas dari segala hiruk-pikuk di belakangnya. Saya mengeksplorasi diri saya dengan hal-hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya dan saya menikmati itu.

Lepas dari sekelumit keaktifan saya dalam kegiatan organisasi selama mahasiswa, saya masih lebih memilih membaca buku-buku kuliah dan mengerjakan sesuatu terkait keilmuan saya ketika saya masih S1. Kala itu saya berpikir, mungkin saya sekedar tidak cocok dengan sistem yang ada. Saya baru menikmati menjadi anggota organisasi ketika saya sudah lebih punya “kuasa” terhadap apa yang bisa saya lakukan: komunikasi lebih enak dengan yang bertanggung jawab atau tahu lebih banyak tentang sistem.

Saya kira saya akan lebih aktif dengan perkumpulan pelajar setempat ketika saya melanjutkan studi S2 di Jerman, namun ternyata tidak. Entah saya merasa kurang cocok dengan atmosfer anggota yang ada, entah saya terlalu fokus kepada studi yang memang makin sulit. Namun, saya menyadari bahwa saya masih bisa sedikit aktif di komunitas pengajian di kota saya studi. Saya juga mencoba membantu teman sejurusan ketika kuliah menyelesaikan masalah seputar keuangan jurusan saya. Himpunan kemahasiswaan di Jerman kuasanya besar sekali; mereka bisa menentukan anggaran fakultas macam apa yang mereka anggap layak disetujui. Berbeda dengan kebutuhan aktualisasi diri sebelumnya, kali ini saya berkegiatan karena merasa apa yang saya lakukan bermanfaat bagi orang lain.

Meminjam skema dari TED, menurut saya ada tiga hal yang membuat seseorang mau aktif dalam suatu perkumpulan atau organisasi: ahli dalam suatu hal yang menjadi visi misi organisasi, merasa dibutuhkan dan diapresiasi ketika melakukan hal tersebut, dan hal ini bermanfaat bagi orang lain ketika dilakukan.

Hasil gambar untuk your calling diagram

Mungkin hal-hal ini sepintas terdengar sebagai sesuatu yang nyaman. Ironisnya, saya menemukan tiga hal ini justru ketika saya keluar dari zona nyaman saya. Saya mencoba mengambil tanggung jawab lebih banyak, saya mencoba melakukan hal lain yang saya belum pernah lakukan, dan lain-lain. Bahkan sampai sekarang, ketiga lingkaran ini masih terus berubah ukuran dan posisi untuk saya karena saya terus mencoba mengeksplorasi hal baru.

Selain menemukan panggilan, saya hanya aktif ketika saya memahami sistem yang berlangsung. Memahami sistem ini dalam tiga lingkaran tersebut dapat dimasukkan ke dalam “merasa diapresiasi” (feeling appreciated) karena mampu terlibat sampai merasa diapresiasi merupakan bagian dari memahami sistem.

PPI Dunia: Cermin Negeri?

Bisa jadi, ketika ketiga PPI memutuskan untuk walk out, mereka tidak merasakan ketiga lingkaran itu dalam simposium internasional. Hemat saya, lebih ke lingkaran “bermanfaat bagi orang lain”. Ini saya ambil dari poin kelima pernyataan sikap PPI Belanda: “…kami juga beranggapan bahwa dana yang dikeluarkan dalam pelaksanaan simposium-simposium PPI Dunia setiap tahunnya tidak sebanding dengan output yang dihasilkan dari simposium-simposium tersebut. Contoh nyata adalah, perumusan rencana aksi yang dilakukan hanya dalam waktu kurang dari 30 menit pada saat Sidang Internasional 2017.” Poin-poin lain juga menunjukkan betapa PPI Belanda tidak menerima sistem yang berlangsung dalam simposium tersebut.

Hal semacam ini tidak asing saya amati selama berada dalam organisasi kemahasiswaan selama S1: anggota tidak puas dengan sistem dan memilih tidak aktif. Terdengar familier?

Ya, Indonesia juga seperti itu ketika ada golongan masyarakat yang memutuskan untuk tidak membayar pajak, ogah taat aturan, dan paling puncaknya: pindah kewarganegaraan jika punya uang, anarkis jika tidak. Ada yang bertindak sejauh ingin mengganti ideologi negara. Seperti halnya PPI Dunia tidak berhasil mengakomodir PPI Belanda, dan himpunan kemahasiswaan tidak mampu memenuhi kebutuhan aktualisasi diri anggotanya, Indonesia tidak berhasil mengakomodir kebutuhan rakyatnya yang ingin merasa diapresiasi dan bermanfaat. WNA baru ini kemudian memilih tinggal dan berkarir di negara lain yang mampu mempertemukan ketiga lingkaran panggilan diri tersebut.

Saya tak pernah aktif di PPI Dunia atau bahkan PPI kota saya sendiri selama berkuliah di Jerman, namun saya tidak jarang mendengar curahan hati “sesepuh” tentang kondisi organisasi-organisasi pelajar Indonesia yang cenderung status quo.  Mungkin ada masalah yang lebih kompleks dari sekedar menemukan panggilan dan memahami sistem dalam banyak kasus. Mungkin ada budaya yang sulit berubah.

Saya sendiri tidak banyak tahu menahu perihal PPI Dunia sampai ketika saya sendiri berada di luar negeri pada pertengahan 2015. Itu pun saya baru mengenal PPI Dunia sekitar akhir 2016 ketika muncul isu “bully” terhadap Billy Mambrasar Tim Kajian Papua PPI Dunia. Billy Mambrasar merasa bahwa anggota PPI Dunia dalam tim kajian tersebut merundung dirinya dan menolak memerhatikan masukan dari dirinya sebagai anak Papua. Tulisan Billy Mambrasar sudah lenyap, namun bekasnya masih ada tercetak dalam pernyataan sikap PPI Dunia dan pernyataan sikap salah satu anggota kajian. Lebih dari itu, tidak banyak dokumentasi berita nasional tentang PPI Dunia. Hasil pencarian lewat Google hanya mendapati tulisan dari blog (kayak saya ini hahaha) dan tulisan dari situs web resmi PPI. Setelah menelusuri sedikit, tahun 2015, PPI Swedia memuat tulisan yang mengritisi butir rekomendasi simposium internasional tahun itu dan tarik ulur pemilihan koordinator PPI Dunia yang terjadi. Setelah simposium tahun 2016 berlangsung tanpa “isu”, dinamika yang terjadi tahun 2017 mungkin masih bisa dianggap wajar. Apa yang sekarang sedang terjadi dengan perhimpunan pelajar kita di luar sana menurut saya hanya bagian dari dinamika berorganisasi, mungkin bagian dari usia PPI Dunia yang masih sangat muda dan turnover anggota yang cepat karena berisi pelajar.

Dinamika dan gangguan seperti yang terjadi sekarang penting untuk membuat organisasi lebih matang. Berada di luar negeri tak semata membuat seorang pelajar lebih dari pelajar lain; penyelesaian masalah berkisar kepada pengalaman. Dengan kondisi negeri yang semakin kompleks, kita perlu maklum jika banyak diaspora Indonesia yang makin gelisah. Menurut saya, jika perhimpunan kita masih ingin memperkuat posisi diri dalam wacana pembangunan Indonesia, mereka perlu meragamkan anggota mereka dengan membuat anggota mereka merasakan terutama dua dari tiga faktor panggilan itu: merasa diapresiasi dan merasa bermanfaat bagi orang lain.

Kasus semacam ini juga penting untuk menjadi ajang refleksi para pelajar Indonesia semua yang sedang berdiaspora: apa sesungguhnya tujuan kita berkuliah di luar negeri dan masih berhimpun dengan sesama pelajar Indonesia?

Atau lebih dalam lagi, mengapa kita ingin ke luar negeri?

Bacaan Musim Kering

Sebagai pecinta literasi, saya menyambut hangat budaya memiliki bacaan musim panas yang kerap dilakukan orang barat. Sayangnya Indonesia hanya punya musim basah dan musim kering sehingga saya menamai daftar rekomendasi saya “Bacaan Musim Kering”. Dalam artian lain, ini bacaan yang dapat dibaca ketika saya lagi “kering” ide dan “kering” proyek *uhuk*. Budaya barat menamai tren mereka “bacaan musim panas” karena di musim panas mereka berlibut dari pekerjaan mereka dan punya lebih banyak waktu luang untuk membaca. Daripada emosi baca news feed medsos dan nganggur lebih baik baca buku ‘kan?

Beberapa pekan lalu saat pertengahan musim semi, news feed Facebook saya banjir dengan tautan tentang rekomendasi buku bacaan dari sesama bibliophile. TED memiliki rekomendasi yang berasal dari pelajar untuk pelajar dan 50 buku yang direkomendasikan pembicara TED. Jika rekomendasi mereka dirasa terlalu “barat”, TED juga punya daftar buku-buku yang menjadi bacaan wajib pelajar di 28 negara termasuk Indonesia. Mereka yang sudah akrab dengan video-video TED akan tahu buku macam apa yang bisa diharapkan dari daftar-daftar tersebut. TED mengeluarkan rekomendasi semacam ini setiap tahun yang bisa dibaca ideas.ted.com. Situs ini ditampung dalam server WordPress jadi mereka yang punya WordPress bisa mengikuti situs ini untuk mendapatkan notifikasi langsung tulisan baru.

“Tidak pernah uangmu habis untuk beli buku!” adalah kata mutiara yang saya dengar dari Ibu sejak SMP dan terus saya pegang teguh sampai sekarang.

Karena itu, saya tidak pernah kesulitan menghabiskan uang untuk buku.

Yeah.

Setelah lama hanya membaca buku fiksi, saya mencoba menghabiskan dua tahun terakhir melahap bacaan nonfiksi. Berikut buku-buku non-fiksi yang banyak mengusik pikiran saya ketika saya membacanya, sekaligus memberi saya kebaruan sudut pandang lebih banyak dibanding buku-buku non-fiksi lain yang saya baca:

1. If The Oceans Were Ink, ditulis oleh Carla Power

Dalam upayanya mengubah cara barat memandang Islam, Carla Power berhasil juga mengubah cara pandang saya terhadap Islam. Buku ini merupakan hasil dialog antara Carla Power dengan Sheikh Mohammad Akram Nadwi, seorang ulama asal India yang mengajar di Oxford Centre of Islamic Studies. Membaca buku ini sama dengan membaca buku-buku fiksi yang selama ini saya baca karena format naratif dan nuansa dialog yang dibawakan Carla Power. Power sendiri seorang jurnalis yang memiliki spesialisasi dengan isu-isu Timur Tengah dan terus memerjuangkan narasi alternatif ketika menuliskan kisah tentang Islam di media-media barat.

Karena keilmuan Syekh Akram yang sangat luas berkat sejarah pembelajarannya di berbagai bahasa dan berbagai tempat, buku ini tak hanya memuat dialog tentang apa yang sudah saya tahu tentang Islam tapi juga lebih banyak lagi. Syekh Akram mengajarkan Power tentang Al Qur’an, konten, cara baca, dan sejarahnya juga pandangan beliau perempuan dalam Islam dan beberapa kisah Al Qur’an yang bertabrakan dengan kisah dalam Alkitab penganut ajaran Kristus. Dari semua hal baru yang saya pelajari dari Syekh Akram Nadwi, yang paling saya kagumi adalah kenyataan bahwa dahulu kala banyak sekali ulama perempuan dengan Aisyah binti Abu Bakar merupakan yang pertama. Namun, ulama-ulama perempuan ini tak banyak dibahas juga sedikit-banyak karena kebiasaan perempuan Islam sendiri untuk tidak menjadi terlalu menonjol kala itu. Banyak sekali ‘kan hadis riwayat Aisyah? Tak ada alasan bagi perempuan untuk tidak menuntut ilmu; istri Nabi adalah ulama perempuan paling diacu!

2. Destiny Disrupted, ditulis oleh Tamim Ansary

Karena The Lost Islamic History habis dan Sirah Nabawiyah hanya dijual di Indonesia, saya memutuskan mencoba mempelajari ulang sejarah Islam melalui buku Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History of The World Through Islamic Eyes. Mirip-mirip dengan Carla Power, motivasinya adalah berusaha memberikan narasi alternatif namun dengan fokus ada di sejarah peradaban. Di tengah banyaknya pengaruh Barat dalam literasi internasional, banyak yang masyarakat global tidak tahu tentang sejarah peradaban dari sudut pandang muslim. Ansary berupaya mengisi kekosongan sejarah Islam yang selalu dipandang barat “clash of civilizations“, padahal di mata peradabah Islam tidak demikian cara mereka memandang sejarah mereka. Buku ini menarik karena pengetahuan sejarah Ansary yang sangat luas dan upayanya untuk tidak terlalu mengglorifikasi sisi Muslim dengan literatur yang berimbang dari berbagai sisi.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah gaya bahasa Ansary yang kocak, membuat saya tidak merasa sedang membaca buku sejarah tapi buku novel. Sentuhan humornya dalam beberapa kejadian khas Amerika, mirip gaya menulis Rick Riordan dalam serial fiksi fantasi Heroes of Olympus atau Percy Jackson. Sentuhan personalnya terasa sekali ketika dia mengungkapkan kejengkelannya secara implisit kepada Mu’awiyah ketika kekhalifahan mulai terpecah pasca wafatnya Usman bin Affan. Tentang perang yang sempat berlangsung antara Mu’awiyah dan Ali, dia menulis,

“… The slaughter led to calls that both armies pull back and let the two leaders settle the dispute with hand-to-hand combat. Ali, who was fifty-eight years old but still a fearsome physical specimen, eagerly accepted the challenge. Mu’awiya, who was about the same age as Ali, but dissipated and fat, said no.”

3. Thank You for Being Late, ditulis oleh Thomas L. Friedman

Thomas L. Friedman adalah seorang kolumnis di New York Times yang banyak menulis tentang perkembangan peradaban abad ke-21. Dalam Thank You for Being Late, dia merefleksikan bagaimana roda penggerak dunia tiba-tiba bergerak sangat cepat: kemajuan teknologi, globalisasi, dan kepunahan massal. Tahun lalu bakteri dapat diubah menjadi baterai dan tahun ini bakteri bisa diubah menjadi rol film, kira-kira kapan flash disk kita nanti tidak berisi logam tapi jutaan sel bakteri? Sementara itu, dunia sedang berputar terhadap isu suku dan ras dengan ramainya Brexit dan terpilihnya presiden Amerika Serikat yang ingin membatasi imigrasi.

Masalah timbul ketika manusia tidak mengadaptasikan kode moralnya cukup baik terhadap teknologi yang makin kompleks. Pertanyaan mulai timbul tentang kemungkinan manusia ada dalam dunia simulasi semisal The Matrix dan apakah Tuhan ada dalam cyberspace. Thomas memberi kita banyak sudut pandang untuk dipikirkan; terlalu kaya untuk dirangkum dalam satu kalimat. Buku ini relatif tebal dibanding buku non-fiksi lain dengan jumlah sekitar 470 halaman; memang butuh wadah sebanyak itu untuk isu yang dia bahas.

4. Collapse, ditulis oleh Jared Diamond

Saya suka ketiga buku Jared Diamond tentang bagaimana peradaban bisa menjadi seperti sekarang: Guns, Germs, and Steel, Collapse, dan The World Until Yesterday. Saya sudah baca ketiganya; yang terakhir baru separuh jalan. Namun, Collapse adalah yang paling berkesan untuk saya. Dalam Collapse, Diamond terdengar lebih kontemplatif. Lepas dari kisahnya yang menurut saya terlalu Amerika-sentris, saya suka bagaimana dia selalu bisa memberikan kajian empirik melalui perbandingan-perbandingan dan bagaimana dia selalu mengakui kelemahan dari cara dia berargumen. Saya suka Collapse terutama karena di edisi kedua ada lebih banyak tentang bangsa-bangsa di Asia semisal Cina, Jepang, dan Kamboja.

Dia menceritakan bagaimana berbagai peradaban agung yang dulu pernah ada tidak bertahan hingga sekarang; mulai dari yang dipengaruhi lingkungan secara umum sampai yang dipengaruhi pula oleh tetangga dan gaya hidup peradaban. Dari semua itu, ia tak hanya mengisahkan kegagalan namun juga kesuksesan; kalau semua gagal mana ada manusia sekarang? Pada intinya [spoiler alert], saya merasa bahwa seluruh Collapse dirangkum dalam salah satu bagian dari satu ayat Al Qur’an, Ar Ra’du ayat 11, “… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. …”, dengan catatan terjemahannya tidak mengandung makna tambahan.

5. Evolution in Four Dimensions, ditulis oleh Eva Jablonka dan Marion J. Lamb

Sebagai mahasiswa jurusan Evolusi, Ekologi, dan Sistematik, mengikuti perkembangan terbaru seputar teori evolusi merupakan bacaan wajib. Kebetulan ada teman yang membawa buku ini ke kampus ketika kuliah sedang ramai membahas epigenetik, mekanisme pengaturan ekspresi gen yang diturunkan. Dalam teori evolusi sekarang, mayoritas menganut paham bahwa segala kelakuan dan karakter makhluk hidup diatur gen. Selesai. Jablonka dan Lamb berusaha mengatakan bahwa ada lebih dari sekedar DNA dalam mekanisme pewarisan sifat. Mereka berargumen bahwa evolusi tidak hanya diatur variasi dalam gen, melainkan juga perilaku, epigenetik, dan simbolik. Buku ini sudah dicetak dua kali, yang terakhir (revised edition) menambahkan lebih banyak contoh empirik terbaru dari argumen mereka.

Mereka menggunakan bahasa berkisah yang enak dibaca, sebelas-dua belas dengan Jared Diamond. Analogi dan cara berdialektika dengan tokoh devil’s advocate dalam buku ini juga membuat buku ini menguras otak dengan cara yang menyenangkan. Saya baru tahu banyak tentang perkembangan teori evolusi sekarang; Darwinisme yang sekarang tidak sama dengan yang dulu. Kajian mereka yang lengkap dan penuh pertimbangan membuat buku ini layak dikoleksi untuk referensi mendatang. Apalagi, saat ini saintis sedang berusaha memasukkan penemuan-penemuan empirik terbaru untuk memperbarui teori evolusi.

Saya sempat berpikir bahwa interaksi antara empat dimensi yang disebutkan Jablonka dan Lamb bisa diulik untuk mengarah ke irreducible complexity yang menjadi bahasan Intelligent Design. Siapa tahu? Untuk perkembangan kajian saintifik, saya suka mengikuti segala teori yang ada alih-alih membatasi diri dengan satu dogma saja. Menarik melihat mereka saling melengkapi satu sama lain ketika memungkinkan. Untuk yang tertarik tentang bahasan saintifik lain yang mengkritisi teori evolusi yang ada sekarang, bisa coba baca Darwin’s Black Box yang ditulis Michael Behe. Kritik terhadap buku ini berimbang karena dia berhasil memberikan argumen yang valid tentang kelemahan teori evolusi. Dia membahas betapa sulitnya memberikan penjelasan Darwinian untuk menjelaskan permulaan metabolisme seluler yang kompleks, semisal pembekuan darah.


Dari sekian banyak buku yang saya baca, saya sesali bahwa belum ada buku non-fiksi yang saya baca dari penulis Indonesia selain buku diktat kuliah dosen dan Ibu saya. Tampaknya ilmiah populer bukan genre yang terlalu menarik untuk pembaca Indonesia saat ini; waktu saya tanya teman-teman Facebook di status, kebanyakan rekomendasi berkisar di ilmu sosial dan sejarah. Mungkin karena penulis ilmiah populer Indonesia juga nyaris tak ada. Namun, saya yakin ini lebih karena minat saya ke dunia non-fiksi yang cenderung baru sehingga tak banyak tau tentang literasi ilmiah populer Indonesia sekarang.

Saya tidak banyak bermain di Goodreads karena tidak nyaman dengan desain medianya. Jika ada yang punya rekomendasi non-fiksi yang saya lewatkan, jangan ragu untuk mengabari!

Bagaimana Saya Mencintai Buku

Dari sekian banyak pengalaman saya dengan literasi yang saya lupakan, saya ingat dua ajaran dari Ibu saya: uang tidak habis untuk beli buku dan buku adalah jendela dunia.

Ketika Ibu bilang jendela dunia, Ibu tidak main-main. Tak hanya saya boleh beli seluruh serial Harry Potter bahkan yang bahasa Inggris (Ibu tidak sabar menunggu terjemahan), Ibu juga mengiyakan permintaan saya untuk beli Babad Tanah Jawi dan ide saya untuk beli Primbon Jawa dan sejarah Nyi Roro Kidul. Kata Ibu, “Kamu nggak harus percaya. Kamu cukup tahu. Semakin banyak pengetahuanmu, semakin banyak macam orang yang bisa kamu ajak bersosialisasi.”

Pada akhirnya saya tetap orang yang socially-awkward dan hanya bisa akrab dengan sedikit jenis orang, tapi saya tidak menyesal mengikuti saran Ibu.

Ibu melihat kesukaan saya membaca sejak kecil karena banyaknya komik yang saya ingin beli kala itu. Dimulai dari serial Doraemon dan Paman Gober, Ibu melatih saya mencoba membaca buku dengan gambar yang lebih sedikit dan tulisan yang lebih banyak melalui buku-buku karangan Enid Blyton semisal serial Lima Sekawan dan cerita tentang sekolah asrama Malory Towers dan St. Claire. Buku-buku ini tak hanya bagus dalam segi gaya bahasa dan plot cerita; pesan moralnya juga cukup banyak dan saya rasa membantu saya membangun banyak pola pikir yang saya punya kala itu. Saking sukanya dengan buku-buku Enid Blyton, saya baca serial Malory Towers dan St. Claire bisa sampai tiga kali dalam dua bulan.

Setelah menikmati membaca buku dengan ilustrasi minimal, saya bergeser ke buku fiksi dengan ilustrasi yang jauh lebih sedikit, semisal buku-buku Karl May atau penulis petualangan lainnya. Tulisan Karl May (terjemahannya, red.) kaya deskripsi dan menuntut saya menggunakan logika abstrak saya untuk yang pertama kalinya. Bagaimana membayangkan Amerika di abad ke-18 dengan latar padang rumput dan badan air yang tidak pernah saya lihat di Indonesia, bagaimana membayangkan ras Amerika asli dan wajah Winnetou dan Old Shatterhand, dan masih banyak lagi. Mengingat sekarang buku-buku ini sudah berharga puluhan ribu rupiah, saya bersyukur Ibu saya mengoleksi buku-buku Karl May ketika harganya masih beberapa ratus perak ketika Ibu saya masih SMA.

Ibu saya tidak berhenti sampai menyodori saya koleksi pribadinya. Seperti yang saya sebutkan di awal, Ibu saya terbuka terhadap genre buku baru, terutama yang berbalut narasi fiksi fantasi. Ketika Harry Potter terkenal di Indonesia, Ibu membeli buku-bukunya bahkan langsung bahasa Inggris karena beliau tidak sabar menunggu terjemahannya keluar. Langsung terasa kisah aslinya juga kadang-kadang. Saya juga masih ingat ketika Ibu pertama kali menyodori saya Eragon di toko buku, kisah fantasi tentang penunggang naga.

“Kayaknya bagus,” kata Ibu sambil memasukkan buku itu ke antrian kasir.

Ibu juga melakukan hal yang sama kepada The Golden Compass ketika pertama melihat buku itu di toko buku. Sinopsisnya menunjukkan genre fantasi dan Ibu suka; cukup alasan untuk mengeluarkan uang. (Baru belakangan saya tahu bahwa serial His Dark Material yang menjadi indukan The Golden Compass sempat bersitegang dengan suatu organisasi Katolik karena dianggap mengadung ajaran anti-Katolik dengan kisahnya seputar “membunuh Tuhan”.) Ketika serial Twilight keluar, tentu tak sulit membuat ibuku membeli keempat bukunya sekaligus. Selera Ibu juga bagus; biasanya buku-buku yang Ibu kepikiran untuk membeli diangkat ke layar lebar. (Saya cukup bangga sudah selesai baca The Hobbit jauh sebelum dia diangkat ke layar lebar)

Namun ketika kuliah, mentalitas buku-bagus-ayo-beli itu tak ada di saya karena saya tak punya cukup uang untuk membeli buku yang ketika itu seharga nyaris separuh uang saku saya. Namun, saya tak sungkan mencoba membaca buku baru dari dari perpustakaan atau dari teman yang beli. Dari sinilah saya tahu buku baru semisal serial Percy Jackson yang dikarang Rick Riordan dan buku-buku Dan Brown.

Fiksi Indonesia tidak banyak memuat kisah fantasi; tak ada rekomendasi tertentu dari Ibu saya tentang ini. Saya mencoba buku karangan penulis Indonesia hanya karena saya menyukai tulisan penulisnya di koran, semisal kolom Ayu Utami dan Goenawan Moehammad yang sering ada di koran nasional. Ketika ada teman yang menyukai tulisan Ayu Utami dan punya bukunya, dari sanalah saya tahu penulis lain yang saya tahu akan suka juga bukunya, misalnya Laksmi Pamuntjak dengan bukunya Amba yang berlatar peristiwa di tahun ’65. Amba menang Liberaturpreis di Jerman dan disebut sebagai karya internasional terbaik paruh tahun ke-dua yang telah diterjemahkan ke bahasa Jerman, menurut daftar sastra Weltempfaenger.

Saya sempat berpikir ketika saya menikah, saya tidak mengalami dukungan yang sama terhadap buku seperti yang saya alami dari ibu saya sehingga saya giat bekerja dan menabung dari sejak kuliah. Saya membeli buku saya sendiri baru setelah saya usai melakukan pekerjaan pertama saya mengajar anak SMA untuk mengikuti seleksi Olimpiade Sains Nasional. Tidak banyak buku baru yang saya beli ketika kuliah selain yang berkaitan dengan studi; dari sinilah saya mulai berkenalan dengan buku non-fiksi.

Ternyata, suami saya sekarang lebih boros dari saya tentang beli buku. Dia bahkan tidak sungkan memesan buku dari luar negeri jika di Indonesia tidak ada. Hadiah ulang tahun saya dari suami adalah buku. Saya juga jadi ikut membaca buku-buku yang dibaca suami dan memperlebar selera non-fiksi saya: sejarah dan sains. Justru suami yang membelikan saya buku non-fiksi pertama dan kedua saya, Penghancuran Buku: Dari Masa ke Masa yang ditulis Fernando Báez dan Dunia Hingga Kemarin yang ditulis Jared Diamond. Lumayan ekstrem untuk permulaan.

Saya menikmati pengalaman intelektual dan emosional yang saya dapatkan ketika membaca buku. Dengan membaca buku dari ragam penulis yang berbeda, kita menjadi terbuka dengan sudut pandang baru dan mudah belajar hal baru. Buku fiksi, terutama yang ditulis dengan sudut pandang orang pertama atau sudut pandang orang ketiga serba tahu, membuat kita mengerti jalan pikiran seorang manusia ketika menghadapi sebuah masalah dan melatih kita memahami orang lain.

Selain itu, saya mencintai buku karena didukung lingkungan yang juga mencintai buku. Saya selalu berduka cita setiap mendengar keluhan teman yang ingin beli buku tapi dibatasi orang tuanya.

“Kata orang tuaku, ‘buat apa buku banyak-banyak’, coba,” salah satu curahan hati seorang teman yang saya ingat ketika dia ingin beli serial Harry Potter yang terbaru sewaktu SMA.

Saya ingin berargumen bahwa membaca buku banyak manfaatnya untuk kita; bukan sekedar hobi yang tak dapat dipahami mereka yang tak memiliki hobi yang sama. Saya ingin memberitahu mereka bahwa uang tidak habis untuk beli buku, karena kekayaan materiil itu berpindah menjadi kekayaan intelektual ketika buku habis terbaca. Apalagi ketika kamu membaca buku yang sama untuk yang kedua kalinya, kadang kamu menemukan hal yang sebelumnya tak kamu temukan, tergantung kondisi hidup dan sudut pandangmu kala itu.

Namun entah sejak kapan, toko buku kita sekarang dipenuhi buku-buku yang… aneh. Pada waktu musim pemilu, toko buku penuh dengan buku biografi calon presiden, berisi kisah-kisah propagandis tentang tokoh-tokoh tersebut. Sekarang, mengumpulkan status Facebook dan Twitter bisa jadi buku. Buku-buku yang laris sekarang seputar tips sukses cepat instan menumpuk kekayaan materiil. Saya merasa “empati” dan “kekayaan intelektual” yang saya gaungkan ketika promosi buku tidak terlalu berlaku untuk buku-buku semacam ini. Kualitas buku sangat terlihat berbanding lurus dengan kualitas usaha yang dilakukan demi buku itu.

Buku-buku ini masih mengantarkan kita ke keragaman sudut pandang dan pemikiran, tentu. Keberadaan mereka tidak mengherankan. Lagipula, buku sudah dari sejak dahulu kala digunakan untuk memengaruhi pemikiran orang lain sehingga rezim pemerintahan tertentu sangat takut dengan beredarnya buku tentang ideologi tertentu yang bertentangan dengan ideologi pemerintahan yang berlangsung. Seperti saya yang kawatir dengan buku-buku macam itu, pemerintah Indonesia sekarang masih tidak nyaman dengan peredaran buku-buku dengan ideologi gerakan akar rumput.

Namun, mengutip istri Hokage pertama dan ibunda Naruto, pengaruh buruk dari sumber ilmu mana pun tidak akan mudah masuk ketika kita mengisi diri kita terlebih dahulu dengan cinta. Karena mentalitas cinta dan rasa suka yang dari awal Ibu saya ajarkan juga mungkin, saya menjadi mencintai buku.

Mau mulai membaca buku? Simak infografis berikut untuk lebih banyak motivasi.

 

Apakah Hidupmu Plagiat?

Tampaknya peningkatan pemahaman publik terhadap penjiplakan atau plagiarisme meningkat berkat akun Facebook Afi Nihaya Faradisa. Perempuan dengan latar pendidikan SMA ini dikabarkan menggemparkan jagat Facebook dengan tulisan-tulisannya yang salah satunya belakangan diketahui berasal dari tulisan orang lain. Tiba-tiba semua orang mengutip, atau setidaknya mempelajari, Hukum Kekayaan Intelektual atau HaKI.

Kasus Afi membuat saya berusaha melihat kembali bagaimana suatu tulisan dikatakan plagiat. Saya memahami plagiarisme sejak SMA juga karena ibu saya yang berprofesi sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri, “Selalu beri sitasi untuk gagasan yang tidak berasal dari dirimu sendiri,” kata Ibu. Tidak banyak anak SMA yang tahu tentang plagiarisme di kala itu kecuali yang memang berkutat dengan karya tulis baik ilmiah maupun fiksi. Plagiarisme memang cenderung hanya ramai dibahas di lingkungan sastra dan akademik saja, atau komunitas-komunitas lain yang banyak menggunakan proses kreatif.

Mungkin banyak yang akan berpikir bahwa menghindari plagiarisme lebih mudah bagi mereka yang berkutat di bidang non-fiksi; penemuan atau teori berbasis fakta hanya bisa dibahasakan dengan sedikit cara sehingga menulis sesuatu persis dengan yang terbaca di sumber selama mencantumkan sumber tulisan tidak termasuk plagiat. Apalagi akademia umumnya hanya berkutat di tulisan, berbeda dari profesi kreatif lain yang harus mempertimbangkan apakah baris notasi lagu yang atau lekuk gambar yang ia gunakan melanggar hak kekayaan intelektual orang lain atau tidak.

Salah besar.

(Sulitnya) Menghindari Plagiasi

Ada dua cara kita dapat menggunakan tulisan dari sumber lain: kutipan dan parafrase. Jika kalimat yang kita tulis sama persis dengan sumber, kalimat tersebut harus diberi tanda kutip (“) dan disertakan sumbernya. Cara menulis kutipan juga tidak sembarangan; biasanya cara menulis kutipan diajarkan ketika pelajaran bahasa Indonesia atau mata kuliah penulisan teks akademik. Parafrase, lebih susah karena kita harus menuliskan kembali ide dasar dari sumber yang kita acu dengan bahasa kita sendiri. Ketika kita gagal melakukan parafrase, umumnya akan langsung terlihat dari gaya bahasa tulisan kita. Saya pribadi malu sendiri ketika berhasil menemukan kegagalan saya memparafrase; kenapa kalimat yang satu ini keren sendiri di sini?

Hidup saya sebagai mahasiswa Biologi membuat saya harus menulis tentang diskusi hasil praktikum dan tugas kelas. Penjelasan, atau diskusi, lebih enak dilakukan dengan parafrase. Terlalu banyak mengutip atau ketidakberadaan yang signifikan dari kalimat kita sendiri akan membuat tulisan kita tidak koheren karena setiap kutipan ditujukan untuk kasus khusus dalam tulisan tempat kutipan tersebut berasal. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dengan “ya” untuk mengetahui apakah kita telah melakukan plagiasi atau tidak dalam tulisan kita:

  1. Apakah ide yang Anda tulis sungguh milik kita atau sebuah fakta umum yang semua orang tahu (Bumi bulat, eh, lupakan…) sehingga tidak perlu sitasi?
  2. Apakah Anda sudah mencantumkan semua penulis asli dari tulisan yang Anda kutip dalam tulisan Anda?
  3. Apakah Anda sudah mencantumkan semua penulis asli dari ide yang telah Anda tulis dalam bentuk parafrase bahkan ketika Anda telah mengubah seluruh kata?
  4. Apakah Anda mencantumkan asal gambar/ilustrasi/foto dalam tulisan Anda?
  5. Apakah Anda yakin Anda tidak mendistorsi atau menyalahartikan pesan asli penulis ketika Anda menggunakan tulisannya?
  6. Apakah Anda yakin susunan dan gaya dari tulisan Anda merupakan milik Anda sendiri dan Anda tidak sedang meniru susunan atau gaya orang lain?
  7. Apakah Anda menggunakan metode sitasi yang tepat dan memberikan informasi yang cukup sehingga pembaca dapat menemukan sumber tulisan yang Anda gunakan tanpa harus bertanya kepada Anda?

Ketika saya tahu lebih banyak hal tentang plagiarisme, saya menduduki bangku kuliah. Saya baru sungguh-sungguh menyadari betapa beratnya proses kreatif sehingga sejak saat itu saya berupaya hijrah ke dunia tanpa barang bajakan dan pelanggaran hak cipta.

Lalu, apakah mengakui suatu tulisan Facebook sebagai tulisan sendiri termasuk plagiarisme? Menurut Rhenald Kasali, tulisan Facebook tidak bisa diberlakukan hukum plagiasi yang sama dengan di tulisan akademik. Facebook sudah berusaha melindungi konten akun kita dengan Privacy Settings dan mengakui bahwa semua yang kita bagi di Facebook merupakan hak kekayaan intelektual kita. Lagipula, kita telah menyetujui aturan penggunaan Facebook sebagai ganti jasa yang Facebook berikan kepada kita. Ramai-ramai membuat status tentang bahwa status kita adalah hak kekayaan intelektual kita beberapa waktu lalu sebagai respon terhadap kasus Afi tidak mengubah apa pun; kontrak kita dengan Facebook sudah legal ketika kita mencentang “I accept the Terms and Conditions“. Berdasarkan ketentuan jasa Facebook, Facebook memiliki hak atas konten kita selama konten itu ada di Facebook, baik itu di akun orang lain (dibagikan) atau di akun kita sendiri. Karena itu, banyak organisasi atau penulis lebih memilih membagikan tautan ke tulisan mereka alih-alih membuat tulisan di Facebook langsung. Kurator sebuah museum sejarah alam di Jerman juga mewanti-wanti saya ketika saya mengambil gambar koleksi privat mereka menggunakan kamera smartphone saya: jangan diunggah ke Facebook karena foto yang diunggah ke Facebook menjadi hak milik Facebook!

Secara legal-formal, Afi tidak memiliki kesalahan. Secara moral-sosial, masyarakat yang menentukan. Namun, cukuplah hujatan kepada anak malang itu dan mari pastikan hal semacam ini tak terulang kembali.

Mencerabut Akar Plagiasi

Ketika mata kuliah Bioetika, saya ingat ada sebuah kelompok yang mempresentasikan tentang jenis-jenis plagiarisme. Itulah saat saya memahami mengapa daftar pertanyaan yang saya sebutkan sebelumnya itu dibutuhkan untuk menghindari plagiasi. Semua yang baru saja tahu tentu merasa kebebanan. Seorang adik jurusan kemudian bertanya kepada kelompok itu bagaimana kita bisa menghindari plagiarisme kalau ternyata memakai kalimat yang ada di jurnal walau memberikan sitasinya saja masih dianggap penjiplakan.

Saran saya dalam diskusi ketika itu: banyak membaca dan menulis.

Saya mendapat saran ini dari Austin Kleon ketika membaca bukunya,  Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Told You About Being Creative:

“If you steal from one author, it’s plagiarism; if you steal from many, it’s research.”
— Wilson Mizner

Dia mengumpulkan banyak kutipan lain yang menurut saya cukup membantu untuk berkarya kreatif. Pada intinya, plagiarisme ada karena kita tidak terbiasa berkarya. Otak kita tidak terbiasa mencipta. Latihan parafrase yang diberikan ketika kita masih berada di bangku Sekolah Dasar cenderung sulit karena otak anak seusia itu tidak sanggup menerima beban mata pelajaran dan lama sekolah yang makin gila saat ini. Bagaimana saya bisa dengan enak mengerjakan latihan parafrase dan sinopsis buku di mata pelajaran bahasa Indonesia kalau di kepala saya ada tuntutuan untuk segera lulus remidi Matematika dan IPS?

Padahal, banyak membaca dan membuat parafrase membantu otak kita terbiasa dengan proses penciptaan karya. Membaca membuka pikiran kita ke banyak konsep, bahasa, dan kata baru yang bisa kita gunakan. Lalu, otak kita baru benar-benar mencipta ketika kita mencoba menulis dengan bahasa kita sendiri. Menulis dengan bahasa sendiri terasa berat terutama bagi yang belum terbiasa karena memang proses sintesis kata adalah proses yang paling banyak memakan energi dalam otak.

Proses kreatif otak sekarang menjadi semakin penting untuk dilatih mengingat proses berlogika otak sudah dilakukan oleh kecerdasan artifisial dengan lebih baik dari manusia. Di tengah dunia yang makin terotomatisasi ini, membangun fungsi otak yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak bisa diotomatisasi semisal empati dan kreativitas semakin penting untuk menjaga kemanusiaan. Menjaga diri dengan bacaan dan ilmu tambahan dalam rangka mempertahankan proses kreatif dalam otak itu sendiri juga membantu mencegah otak dari penyakit yang neurodegeneratif semisal Alzheimer. Penyakit neurodegeneratif atau penyakit penurunan fungsi sel saraf merupakan momok bagi mereka yang suka berpikir.

Bagi komunitas yang mengutamakan kemampuan berpikir dan menghasilkan pemikiran, mengambil hasil pemikiran orang lain dan mengakuinya sebagai pemikiran diri sendiri merupakan tindakan paling rendah yang bisa dilakukan terhadap otak manusia. Hukuman sosial plagiasi dalam lingkungan akademia cukup berat karena hal itu, dan juga dalam lingkungan profesional lain yang banyak membutuhkan proses berpikir kreatif semisal literasi dan seni rupa. Tak heran kalau plagiasi disambar ganas oleh mereka yang mendalami isu proses kreatif. Membuat kalimat bagus itu sulit; mereka yang sudah mengalami revisi beruntun dari dosen pembimbing pasti mengerti hal ini. Namun, reaksi ganas publik secara umum terhadap plagiasi cenderung baru.

Ketika Hidup Kita Plagiat

Mereka yang lingkaran pertemanannya penuh dicekoki isu Afi Nihaya Faradisa tidak sulit menemukan status/tulisan yang mengungkapkan betapa kelirunya mengiyakan pemikiran anak yang menggunakan tulisan orang lain sebagai tulisannya. Reaksi mencela dan memaki ini tidak jauh berbeda dengan reaksi penduduk Amerika Serikat kepada Melania Trump, ibu negara Amerika Serikat periode ini, ketika mereka mengetahui naskah pidatonya memiliki banyak kalimat yang sama dengan salah satu naskah pidato Michelle Obama, ibu negara Amerika Serikat periode sebelumnya. Orang tiba-tiba latah dan “memplagiasi” reaksi orang lain hanya karena secara sosial hal tersebut dapat dilakukan.

Reaksi ganas yang “plagiat” ini menurut saya tidak berimbang dibandingkan dengan ketika isu yang sama terjadi kepada orang lain di waktu yang lebih silam. Ketika media sosial belum populer, banyak tokoh penting Indonesia termasuk akademisi Indonesia sendiri punya masalah dengan pencantuman referensi dan parafrase dan publik tidak ramai menghujat tokoh-tokoh ini. Disertasi doktoral Martin Luther King, Jr. juga ternyata mengandung plagiarisme dan dunia secara umum tetap tidak kehilangan rasa hormat kepada tokoh ini. Tiba-tiba, seonggok status Facebook seorang anak SMA terdeteksi plagiat dan jagat maya Indonesia menghujat. Tak sulit untuk membuat saya percaya bahwa reaksi ganas publik kali ini hanya pemanfaatan anak ini untuk mendiskreditkan suatu ideologi atau paham politik.

Lepas dari latar belakang reaksi ganas publik, saya sesungguhnya bersyukur makin banyak orang yang kini mengerti prinsip hak cipta. Sembari menelisik tindakan Afi, saya pikir mereka yang mengritik Afi tentunya introspeksi apakah dia lebih baik dalam hal penghormatan hak cipta. Apakah saya pernah copy-paste sesuatu dari grup chat sebelah tanpa tahu sumber kontennya? Apakah perangkat lunak di laptop saya masih bajakan? Apakah film yang saya tonton masih unduhan dari situs yang tidak memiliki perlindungan hak cipta yang jelas? Seberapa sering saya meniru gaya hidup orang lain sementara saya tidak mampu?

Plagiasi dalam hidup menurut saya bisa diartikan lebih luas sebagai proses meniru mentah-mentah tanpa mengerti makna di balik apa yang dia tiru. Hal inilah yang sesungguhnya terjadi dalam plagiasi tulisan: suatu kalimat ditulis begitu saja tanpa parafrase karena tidak mengerti ide dasarnya. Tidak sedikit pengguna media sosial membagi suatu tautan atau gagasan tertulis di media sosial tanpa mengerti maksud penulis atau mengerti dari mana hal tersebut berasal. Padahal, sekedar mencantumkan sitasi tidak cukup untuk menghindari dakwaan plagiasi. Kita perlu memahami ide dari tulisan yang ingin kita bagi agar kita tahu kapan harus menggunakan kutipan atau parafrase. Sitasi adalah satu bagian sementara pemahaman terhadap ide adalah bagian yang lain. Jika semua orang memahami hal ini, tak ada lagi perilaku clicking-monkeys atau orang-orang yang sekedar sebar sesuatu di media sosial tanpa mengerti konsekuensinya.

Menurut saya, untuk menghindari plagiasi secara umum, masalah yang ada lebih dari sekedar sitasi, kutipan, dan parafrase. Menelisik gagasan dalam diri dan bangga dengan keunikan diri sendiri merupakan faktor penting. Agar percaya diri untuk menulis dengan kalimat sendiri, seseorang harus bangga dengan gagasannya sendiri. Agar ingat untuk mencantumkan sumber, seseorang harus paham betapa berharganya buah pikir seseorang. Hal ini menurut saya cukup berat mengingat kurikulum pendidikan yang makin kacau. Berkaca kepada kasus Afi, kementrian pendidikan dalam upayanya mencegah plagiasi sebaiknya tidak terlalu berfokus kepada perguruan tinggi namun juga pendidikan dasar. Mungkin lebih banyak soal ujian yang memancing nalar siswa supaya kreativitas anak-anak tersalurkan. Bayangkan apa yang terjadi kalau pikiran-pikiran orisinil seorang bocah dengan rasa ingin tahu yang murni dapat dieksplorasi dengan baik dan dibiarkan memperkaya kajian dalam kehidupan sehari-hari!

Anak-anak semacam ini tentu bisa memperkaya khasanah keilmuan kita jika kreativitas mereka dalam hal apa pun diarahkan dengan baik.

 

Pledoi untuk Ngontrak

Tulisan berikut merupakan status Facebook saya yang saya tulis awal 2016 lalu setelah mendalami tren kepemilikan tempat tinggal di Jerman.

Barusan liat postingan temen tentang promo beli rumah tanpa KPR (baca: riba). Menurutku ini penting karena jaman sekarang, ketika Islam makin asing, orang yang mentingin hidup tanpa riba malah dibilang rebek. Yang menarik dari postingan itu adalah, seperti biasa, komen2nya. Semuanya adalah puluhan orang Indonesia yang kepengen PUNYA rumah sendiri. Dulu aku mengerti, sekarang aku heran.

Hidup di kota besar macam Munich dengan penduduk yang lumayan padat juga (masih menang Jakarta btw kalo masalah kepadatan penduduk), aku sangat bersyukur dapet tempat tinggal hanya dengan NGONTRAK. Aku bisa tinggal, tidur, makan, masak, dan yang paling penting: boker, dengan nyaman (karena rumah adalah tempat di mana kamu boker paling enak yeah).

Menariknya, aku mendapati bahwa yang melakukan hal semacam ini gak cuma pelajar tapi juga orang2 yang udah berkeluarga. Mereka milih ngontrak apartemen keluarga, terus kalo penghasilan nambah mereka gak beli rumah. Mereka PINDAH ke tempat yang lebih bagus sesuai penghasilan mereka. Kita bicara Jerman, one of the world leading powers dan sebagian besar penduduknya terima tinggal NGONTRAK. Gak ada bedanya selain keleluasaan dekorasi dan pembangunan. Butuh halaman rumah? Ada kok yang nyewain hunian pake halaman.

Ada lah pasti yang beli tanah dan rumah sendiri dan mahalnya edan. Tapi kamu punya tanah juga gak bisa semenamena e e: hanya sekian persen luas tanah yang boleh dijadiin bangunan menurut aturan pemerintah. Kalo mau bisnis ya bikin ruko sekalian atau nyewa cart streetfood dan jualan di pusat kota, jangan bikin warung padang di rumah.

Kembali lagi, di sini yang mau aku tekankan adalah gak ada yang memalukan dari tinggal di kontrakan. Kita dijejali pola pikir oleh masyarakat bahwa udah umur sekian dan berkeluarga itu harus punya rumah sendiri. Sendiri banget dan harus banget. Sadar ngga sadar ini budaya neonatal dari barat: udah gede ya tinggal pisah dari orang tua (makanya di sini ada satu perumahan yang bisa isinya lansia semua) dan separasi ini dilakukan dengan punya rumah sendiri. Nggak ada yang salah dengan itu sih, cuma apakah segitu harusnya ampe pada rame ambil KPR yang bikin total harga rumah mungkin nyampe dua kali lipat?

Aku ngga mau menghakimi yang punya pilihan hidup berlawanan, cuma kataku kalo mau ngindarin KPR buat beli rumah, ngubah pola pikir ini yang kita perlukan. Dan kita punya modal yang bagus lho. Misalnya, dibanding temen2 Jerman, aku bisa makan selama dua minggu dengan uang yang kata mereka cuma cukup buat tiga hari (orang-orang gila ini makan apa sih).

Gak ada salahnya sama sekali beli rumah, dan gak ada salahnya sama sekali untuk ngontrak. Situasi ekonomi Indonesia saat ini mungkin membuat KPR tampak menguntungkan. Bagi yang tidak punya masalah dengan riba, ada baiknya mempertimbangkan niat yang lurus ketika mau beli rumah: kebutuhan atau tuntutan sosial? Jika tidak ada perencanaan keuangan yang jelas atau pemasukan yang memadai, kupikir tidak ada gunanya membeli kenyamanan dengan cara yang tidak nyaman, apalagi hanya karena masalah gengsi. Bagi yang ingin menghindari riba, jangan malu ngontrak atau ngekos sampe ada cukup cash untuk beli langsung. Nikmat Allah itu nyata. Apa pun caranya, pastikan rumahmu tidak egois; ia harus menjadi berkah bagi sekelilingnya alias ramah lingkungan, dalam makna sosial maupun ekologis.

Kita bangsa yang efisien, dan sebaiknya kita tetap demikian. Semoga Allah memudahkan kita menempuh jalanNya.

Disclaimer: “ngontrak” di Jerman (“miete”) tidak persis sama teknisnya dengan “ngontrak” di Indonesia.

(Diapdet sekenanya berdasarkan komen teman2)

Ateis Pertama Saya dan Setelahnya

Berada di negara dengan mayoritas penduduk tidak mempercayai keberadaan sesosok Tuhan, penampilan saya yang berkerudung tentu mencolok. Apalagi di sini saya mendalami bidang S2 yang cukup “kontroversial” di kalangan akademia barat maupun umat Islam dalam berbagai arti: Evolusi, Ekologi, dan Sistematik. Bukan sesuatu yang kamu harapkan sedang dipelajari seorang perempuan yang memutuskan menutup seluruh tubuhnya sembari menolak minuman beralkohol dan makan babi.

Saya sesungguhnya sudah siap mendapat stereotip yang mungkin akan saya dapatkan karena pengaruh media dalam memberitakan Islam, dan saya “tidak dikecewakan”.

Dalam sebuah acara makan siang bersama yang diadakan teman sejurusan saya, saya berkenalan dengan seorang perempuan dari Bulgaria yang sedang melanjutkan studi di bidang Kimia medis. Dia sangat penasaran dengan saya, menanyakan segala hal yang dia dengar tentang Islam: ritual solat lima kali sehari (“bagaimana kalian bisa terus melakukan semua itu bahkan ketika sendirian sementara tidak ada yang mengawasi?”), posisi perempuan dalam Islam (“perempuan harus melayani laki-laki?”), dan masih banyak lagi.

Ada sedikit latar belakang yang perlu diketahui lebih dulu tentang perempuan yang saya samarkan identitasnya ini: dia penggemar surealis. Dia jauh-jauh datang ke Barcelona, Spanyol, tidak semata untuk jalan-jalan tapi khusus ingin melihat pameran Pablo Picasso dan Salvador Dalí yang walau berbeda era terkenal untuk hal yang sama: karya mereka yang… sureal. Di Barcelona, dia juga menyukai karya arsitek nyentrik Antoni Gaudí. Salah satu yang dia kunjungi dan dia ceritakan dengan sangat bersemangat adalah Casa Vicens, bangunan pertama Gaudí yang memuat dekorasi keramik yang unik dan memuat pengaruh Islam di masa itu.

Wajah Casa Vicens, langsung menampakkan pengaruh arsitektur oriental melalui desain menara-menara kecil di pojok gedung (Sumber: casavicens.org)

Di sini dia masuk.

Ketika dia mendatangi pameran yang dia kunjungi itu, dia tertarik melihat pojok kecil seni tentang Arab dan Islam. Dia menceritakan pojok kecil itu kepadaku sambil menanyakan hal-hal yang sebelumnya kusebutkan. Menurutnya pojok itu menarik karena selama ini Arab tidak pernah terlalu terkenal untuk seni. Desain geometrik Islam yang dipakai Gaudí pun hanya terkenal di masanya dan setelah itu tidak banyak dipakai lagi. Pertanyaannya dimulai dari ritual Islam yang dia dengar secara umum.

“Apakah benar kalian harus melakukan itu (solat, red.) lima kali sehari? Kapan saja itu?”

“Iya, ketika matahari hendak terbit, ketika matahari di atas ubun-ubun, lalu sekitar seperempat jalan matahari menuju terbenam, ketika matahari terbenam, dan ketika malam tiba.”

“Kalian sungguh-sungguh melakukannya meskipun tidak ada orang yang melihat?”

“Allah Maha Melihat.”

“Luar biasa. Aku selalu penasaran apa yang membuat orang bisa taat kepada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.”

Aku hanya bisa tersenyum karena hal itu sungguh sulit untuk dijelaskan.

“Apakah benar perempuan harus menuruti laki-laki setelah menikah?” lanjutnya.

“Iya, kami diperintahkan untuk taat kepada suami.”

“Tidakkah itu membuatmu merasa rendah?”

“Hmm… kamu bisa melihatnya seperti itu, atau kamu bisa melihat itu sebagai ‘ingin membuat orang yang kamu sayangi senang’.”

“Kamu bisa memilih orang yang kamu sayangi untuk menikah?”

“Tidak sah sebuah pernikahan dalam Islam ketika perempuan tidak menyukai mempelai laki-laki yang dipilihkan orang tuanya untuknya. Iya, perempuan dalam Islam bebas memilih menikahi siapa selama seiman.”

“Wah, aku tidak tahu itu!”

“Bahkan, sesungguhnya suamilah yang berkewajiban ‘melayani’ istri jika mengacu kepada perintah agama. Nabi kami rajin membantu pekerjaan rumah tangga di rumahnya. Suami juga berkewajiban memberi nafkah kepada istri namun jika istri dapat menghasilkan uangnya sendiri, uang itu milik istri. Mungkin kasarannya, ‘uangmu uangku, uangku uangku’. Jadi, para istri sesungguhnya melakukan apa yang mereka tampak ‘harus’ lakukan murni karena ingin menyayangi suami mereka dan ingin menyenangkan mereka.”

“Hahaha… aku suka itu. Ini cara yang menyenangkan untuk melihat konsep ‘melayani’. Aku tidak menyangka Islam feminis.”

Obrolan berlanjut mengupas banyak hal lain. Aku belajar banyak tentang seni rupa dari dia, dia merasa belajar banyak sudut pandang dariku juga. Kukira, memiliki minat terhadap hal seperti seni rupa, apalagi surealis, membuatmu cukup terbuka dengan hal baru. Meskipun dia tidak menyukai konsep bahwa hidup ada yang mengatur, dia mengakui bahwa cara hidup yang sedang berusaha kubawa ini “hangat” dan “indah”.

Perempuan ini adalah “ateis” pertamaku. Dia orang pertama yang menantang cara berpikirku selama ini dengan cara yang menurutku… menyenangkan. Dia tidak berusaha menghakimi. Dia murni penasaran dan ingin tahu. Dia tidak takut menyinggungku karena selama berkenalan aku pun banyak bercerita tentang dari mana aku berasal dan mengapa aku di sini. Teman-teman lain yang kala itu bersama kami tampak tidak terlalu nyaman, namun membiarkan.

Mengapa aku memberi tanda kutip kepada “ateis”? Karena sesungguhnya kata “ateis” itu sendiri tidak tepat digunakan. Seseorang mendapat label “ateis” sangat bergantung kepada siapa “teis” atau Tuhan yang dibicarakan. Apakah kamu menuhankan alam? Apakah kamu menuhankan logika? Apakah kamu menuhankan poci teh raksasa tak kasatmata di luar angkasa sana?* Kamu bisa dikatakan ateis selama tidak mempercayai konsep teis yang sama.

Apalagi, saya termasuk orang yang percaya bahwa seseorang menuhankan sesuatu dalam hidupnya, seberapa pun dia mengaku dia tidak percaya keberadaan Tuhan atau konsep Tuhan. Menuhankan sesuatu di sini menurut saya adalah menjadikan diri subjek dari sesuatu yang dituhankan itu. Subjek logika. Subjek alam. Subjek kehendak Allah.

Mungkin konsep menuhankan sesuatu ini bisa saya ceritakan lagi dari pengalaman selanjutnya ketika teman-teman sekelas saya menanyakan tentang kerudung saya pada suatu waktu di mensa kampus yang sempat saya ringkas dalam sebuah status Facebook 2016 silam:

“Oke, jadi perempuan boleh liat rambutmu. Kalau perempuan itu lesbi, bagaimana?”

Aku baru tahu kalau teman-temanku banyak yang penasaran dengan kerudungku, tapi mereka baru berani bertanya setelah enam bulan masa pertemanan. Menurutku ini manis; mereka berusaha keras untuk tidak menyinggungku padahal aku senang mereka tanyai. Bagaimana lagi cara kamu tahu bahwa kamu paham sesuatu kalau tidak dengan diuji? Pertanyaan-pertanyaan mereka adalah ujianku memahami Islam, dan respon mereka adalah evaluasi yang baik.

Pertanyaan-pertanyaan mereka menarik, membuatku berpikir lebih jauh tentang aturan Islam yang satu ini, misalnya pertanyaan yang kutuliskan ini. Aku baru menyadari, banyak yang aku tidak tahu dari perintah menutup aurat. Ketika ditelusuri secara logika, ada banyak hal yang selama ini kuanggap alasan logis pakai kerudung berakhir tidak masuk akal. Menghindarkan pandangan laki-laki? Bercadar pun perempuan masih menarik pandangan laki-laki. Di sini paha dan dada di mana-mana gak ada laki-laki yang terus melototin. Apalagi kalo laki-lakinya gay dan tidak tertarik dengan perempuan. Malahan kalau alasannya syahwat, kita tidak pernah tahu kalau-kalau teman perempuan kita yang Islam sekalipun mungkin punya orientasi seksual terhadap perempuan.

Dari banyak pertanyaan dan berlapis-lapis argumen, aku pun menyadari bahwa ketika memang kita tidak berniat mendapatkan petunjukNya, kita ditarik semakin jauh dariNya.

Di dunia yang semakin gila ini, satu-satunya alasan paling logis menaati perintah Allah adalah mengakui diri kita sebagai hambaNya. Aku baru menyadari apa arti “hamba” justru ketika mendapatinya dalam bahasa Inggris sebagai “slave”, yang kuartikan “budak”. Apa arti menjadi budak Allah? Bahwa apa yang kita lakukan menyenangkan “tuan” kita, Allah, dan kita tidak melakukan apa pun yang akan membuatNya marah.

Mengakui Allah Mahasegalanya itu mudah. Menempatkan diri kita sebagai hambaNya? Aku yakin tidak semua orang mendapati ini lebih mudah.

Jadi, “menuhankan sesuatu” adalah menjadikan diri “hamba” dari apa yang mereka anggap “Tuhan”. Saya pribadi, sebagai sesosok manusia dengan segala keterbatasan seorang manusia memilih menjadikan Allah sebagai Tuhan saya dan satu-satunya dan ikhlas menjadi subjek kehendakNya. Allah, kata yang saya pilih untuk gunakan, menurut saya cukup tepat untuk mengacu kepada konsep Tuhan tunggal yang saya anut berdasarkan ajaran Islam. “Al” dalam bahasa Arab analog dengan “the” dalam bahasa Inggris yang memiliki fungsi untuk mengacu kepada sesuatu yang khusus sementara “lah” yang merupakan turunan dari “ilaah” atau “tuhan” (“god“) dalam bahasa Arab sehingga kata “Allah” mengacu kepada “Tuhan”**. Ini adalah ajaran inti dari Islam.

Sejak saat itu, saya mengalami interaksi yang menarik dengan teman-teman sejurusan saya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan postingan saya tentang ajaran Islam di Facebook ada yang membuatnya kesal sebagai “ateis”. Lepas dari itu, mereka mengakui mendapat lebih banyak informasi tentang Islam dari saya dan memahami lebih banyak tentang posisi Islam terhadap ajaran Abrahamik yang lain.

Tentu saja, saya selalu menerapkan catatan kepada mereka bahwa saya masih belajar dan mereka harus kroscek ke yang lebih tahu semisal ulama yang mengerti tafsir Al Qur’an. Salah seorang teman saya yang lain yang mengaku “ateis” kemudian bertanya apakah dia bisa mendapatkan Al Qur’an yang dia bisa baca untuk referensi karena dia ingin mengetahui sumber selain internet. Kala itu aku memberi tahu dia bahwa dia bisa bertanya kepadaku tentang ayat yang dia ingin pahami, namun tetap lebih baik jika dia datang ke semacam Islamic Center setempat yang memiliki ulama yang lebih berkapasitas untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif dan kontekstual dengan kondisi sosial budaya di tempat dia tinggal.

Dari interaksi saya dengan mereka selama ini, saya mendapati bahwa tak selalu mereka yang tidak beragama itu tidak lepas dari dogma. Ketika mereka mendebat saya, ada ketidaknyamanan yang bisa saya rasakan dari raut wajah mereka. Skeptisme mereka membuat mereka kesulitan menerima argumen saya tentang keberadaan Tuhan namun mereka tak mau membuat saya tak nyaman. Bagi mereka, mereka merasa bisa mendapatkan nilai moral universal tanpa perlu mengikuti ajaran agama tertentu karena mereka percaya kita sesungguhnya sudah tahu apa yang harus kita lakukan sebagai manusia. Ada-tidaknya Allah yang Tunggal bagi mereka kemudian mereduksi konsekuensi yang mereka anggap akan mereka alami hanya dalam kehidupan setelah kematian. Untuk mereka, kehidupan setelah kematian tidak penting untuk diributkan, namun tidak berarti mereka tak punya tujuan hidup yang visioner.

Image result for flying invisible teapot
*Russell’s teapot merupakan salah satu argumen terkenal untuk melawan ketidakmampuan manusia membuktikan Tuhan tidak ada; tidak ada yang akan percaya bahwa ada poci teh raksasa yang mengitari matahari karena tidak ada yang dapat membuktikan ketidakberadaan poci teh itu. Gambar ini merupakan visualisasi suatu grup musik progressive rock terhadap poci teh tersebut untuk cover album mereka (Sumber: discogs.com).

Saya tidak pernah repot-repot berusaha meyakinkan mereka bahwa Tuhan itu ada dengan logika. Sama seperti mereka yang memilih ajaran suatu agama, mereka yang memilih tidak mengikuti ajaran agama apa pun mengalami perjalanan spiritual dan pemikiran yang tidak sederhana dan itu bukan urusan kita. Banyak ustadz dan ustadzah yang saya tanyai tentang ini mengiyakan nalar berputar untuk menyimpulkan kebenaran mutlak: karena mereka sudah memiliki pola pikir dan asumsi awal bahwa Tuhan tidak ada, argumen yang berdasar bahwa Tuhan itu ada akan selalu terdengar absurd bagi mereka. Saya tak ambil pusing dengan tuntutan untuk lebih banyak mendalami ajaran lain dan dakwaan bahwa saya hanya menuruti kondisi sosial budaya saya dari kecil. Saya bahagia dengan jalan kebenaran saya; jenis kebahagiaan yang sama dengan yang dialami Mas Iqbal Aji Daryono.

Teman-teman yang memilih untuk ateis akan banyak tidak setuju dengan saya. Namun, itu urusan mereka dengan Sang Pencipta yang mereka percayai dengan versi mereka sendiri. Saya hanya mencoba melaksanakan perintah Nabi saya untuk menyampaikan keberadaan Sang Pencipta yang Maha Esa.

Catatan:
*lihat gambar poci teh hijau
**berasal dari pelajaran Arabic with Husna yang digagas Nouman Ali Khan dan tulisan Tamim Ansary dalam bukunya Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes, hal. 20.