Wakizashi

Bagi yang udah tahu sama yang namanya katana, itu adalah sebutan untuk pedang buatan Jepang berbentuk melengkung dengan panjang lebih dari 50 cm.

Yang aku punya itu namanya Wakizashi.

Wakizashi artinya “side arm“. Lebih pendek dari katana, antara 30-60 cm, tapi rata-rata 50 cm. Dibawa bersama dengan katana sebagai companion sword. Katana dibawa bersama dengan wakizashi sebagai sebuah pair yang disebut “daishou” (large and small, red.). Miyamoto Musashi, master of swordsman Jepang, menggunakan baik katana maupun wakizashi dalam pertarungan untuk serangan yang lebih menguntungkan.

Wakizashi digunakan sebagai backup weapons atau mem-“finish” musuh yang sudah di ambang kekalahan. Apabila seorang samurai terlepas pelindung kepalanya ketika bertarung, musuhnya, apabila sesama samurai lebih suka menggunakan wakizashi sebagai “final attack“. Final attack ini biasanya berupa serangan memotong kepala musuh yang sudah di ambang kekalahan. Para samurai lebih suka menggunakan wakizashi yang pendek daripada katana yang panjang. Untuk memotong hingga putus leher musuh, bilah katana dapat rusak karena katana memang tidak dirancang untuk itu. Wakizashi juga sering digunakan dalam ritual bunuh diri tertentu. Di kalangan orang asing, wakizashi juga dikenal sebagai “Honor Blade”.

Ritual bunuh diri yang dimaksud adalah “seppuku”. Ini adalah istilah yang lebih formal dipakai di kalangan samurai. Seppuku ditulis dengan kanji yang sama dengan harakiri, namun hanya berbeda pada cara baca. Untuk orang awam, harakiri lebih dikenal daripada seppuku. Artinya sama, “cutting the belly“. Jadi ini adalah gerakan membelah perut secara horizontal dengan tantou (belati Jepang. Orang Jepang percaya seppuku dilakukan dengan tantou, bukan dengan wakizashi). Para samurai melakukannya ketika mereka jatuh ke tangan musuh. Bagi mereka lebih baik mati dengan bunuh diri secara terhormat daripada harga diri mereka jatuh karena tertangkap musuh.

Bagi seorang samurai, wakizashi bagaikan side arm yang memang harus dipakai sepanjang waktu. Mulai dari hingga bangun tidur sampai dia tidur lagi dengan pedang itu di bawah bantalnya.

Advertisements

3 thoughts on “Wakizashi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s