Membandingkan Mantan dengan yang Sekarang

Jika pembaca sekalian melakukan apa yang saya tulis di judul, bisa dipastikan pembaca sedang tidak bahagia dengan “yang sekarang”. Mau itu mantan pacar, mantan suami, mantan presiden, mantan atasan, dan mantan-mantan lain dalam hidup.

Ketika atasan mulai menjejali hidup dengan tambahan kerja tanpa apresiasi, saya mulai memikirkan betapa indah bekerja dengan atasan sebelumnya. Ketika pacar sekarang tampak tidak perhatian dan kurang lihai dalam membaca perasaan, mulailah mantan pacar masuk ke dalam pikiran. Membandingkan pilihan-pilihan adalah hal yang sangat alami untuk dilakukan makhluk hidup. Kemampuan kita untuk mengidentifikasi hal-hal yang esensial dalam suatu pilihan membuat kita mampu mengambil keputusan yang paling baik dalam hidup. Karakter inilah yang memungkinkan kucing garong memilih pasar yang penjualnya tidak galak atau burung gereja langsung terbang ketika didekati.

Namun, makhluk hidup itu unik sehingga tidak bisa sembarang dibandingkan. Setiap individu memiliki komposisi genetik yang unik individu dan mengalami perjalanan hidup yang berbeda yang membentuk karakter mereka. Kalau saya harus membandingkan dua populasi tikus di kampung untuk melihat populasi mana yang paling banyak menggerogoti mie instan simpanan di loteng, saya tahu parameter apa saja yang harus dipisahkan. Namun bagaimana cara membandingkan mana dari dua manusia yang lebih baik dari yang lain, mengingat perbedaan sejarah hidup dari sejak lahir, budaya, dan paparan pengalaman?

Inilah yang membuat saya kerap kesal dengan upaya membanding-bandingkan satu rezim pemerintahan dengan yang lain.

Ambillah kasus Presiden Jokowi yang sekarang sedang sering dibandingkan dengan Presiden SBY atau bahkan Soeharto. Salah satu aspek yang dibandingkan termasuk hutang negara, harga barang, dan proyek infrastruktur. Pendukung Jokowi mengklaim bahwa di era Jokowi lebih banyak proyek pembangunan usai dibanding era SBY. Pendukung SBY mengklaim Jokowi hanya menumpang nama di proyek-proyek infrastruktur yang sudah dimulai SBY. Mengapa tidak ada yang dengan logis melihat bahwa kedua pemerintahan memang sedang fokus ke hal yang berbeda karena tantangan di era masing-masing juga berbeda? Sebagai tambahan, banyak proyek dan kontrak kerja yang memang memakan waktu beberapa masa kepresidenan.

Lalu muncul masalah kenaikan harga. Tidak sedikit yang berusaha menggeneralisasi tren ekonomi global dengan membandingkan jumlah utang dan nilai dolar di beberapa masa kepresidenan. Tidak adakah yang sadar bahwa di era globalisasi, masalahnya lebih kompleks dari sekedar menyalahkan pemerintah? Selama di Jerman, saya merasakan sendiri inflasi khas Jerman ketika biaya sewa kamar naik beberapa Euro setelah tahun baru. Harga uang semester juga ikut naik seiring waktu dan tiket transportasi regional juga naik beberapa Euro. Ada banyak hal yang menyebabkan inflasi, beberapa di antaranya buruk, beberapa di antaranya baik.

Sedang menulis ini saja, saya kelimpungan mencari data pasti dan penjelasan yang tepat tentang bagaimana sistem bekerja dari waktu ke waktu. Betapa jengkelnya saya ketika ada teman Facebook yang bilang suatu rezim lebih baik dari yang lain hanya karena dia merasa ketika rezim itu berjalan lebih baik.

Jadi, dia bawa perasaan alias baper. Bukan parameter yang terlalu meyakinkan untuk menilai sebuah rezim. Contoh, dulu kala, saya sekitar lima presiden sebelum sekarang, yang saya pedulikan adalah bisa menonton Xena dan Power Ranger setiap hari Minggu dan mendapatkan senjata Sailor Moon yang paling baru. Saya tidak mengerti kala itu mengapa orang tua tidak lagi bisa membelikan saya es krim B*skin R*bins atau mengapa merk susu di rumah ganti. Sekarang, ketika saya sudah cukup tua untuk mengatur uang saya sendiri dan tahu bahwa membeli es krim yang saya inginkan itu artinya mengganti menu makan siang di kampus, saya merasakan bahwa rezim kala itu menyedot penghidupan saya dengan harga-harga yang semakin mahal. Tentu saja rezim sekarang terasa lebih menyebalkan karena sekarang saya memikirkan darimana asal-usul uang sementara rezim dahulu terasa menyenangkan karena saya tinggal memasang muka manis di hadapan orang tua untuk beli es krim (Itu saja kadang tidak berhasil). Tak akan saya mencoba mempertimbangkan bahwa gaji juga ikut naik karena kalau daya beli konsumen makin rendah, ekonomi juga tidak akan bergerak. Yang penting es krim mahal.

Dengan usia yang berbeda, apa yang penting bagi kita berbeda sehingga membandingkan rezim dengan perasaan sungguh tidak masuk akal.

Namun, membandingkan manusia sebagai cerminan rezim itu sendiri juga menurut saya tidak valid. Dengan latar belakang militer, contohnya, Pak SBY punya pola pikir yang berbeda dari Pak Jokowi yang berlatar belakang wiraswasta lulusan Kehutanan. Dengan latar belakang yang berbeda itu, tantangan yang dihadapi pemerintahan mereka juga berbeda. Kalau saja Amerika memilih mengganti mekanisme kredit perumahannya lebih lambat atau lebih awal, niscaya efek krisis tahun 2008 tidak akan terjadi pada tahun tersebut dan Sri Mulyani tidak perlu dicecar.

Setelah lama belajar bahwa melakukan eksperimen komparasi atau common garden experiment itu membutuhkan pemisahan variabel yang sangat kompleks, upaya pembandingan yang kerap saya jumpai di propaganda macam-macam akun pendukung kedua sisi rezim ini sungguh membuat otak gatal. Ini kira-kira seperti melihat perbandingan sungai di Jakarta zaman Kerajaan Sunda Kelapa dengan zaman Ahok untuk menyimpulkan bahwa monarki dapat menjaga kelestarian lingkungan.

Pernah dengar istilah, “jangan membandingkan dirimu dengan orang lain karena kamu tak tahu apa yang mereka lalui”? Ini sangat logis karena kita tak pernah bisa menyamakan proses hidup kita dengan proses hidup orang lain. Selain itu, perbandingan di waktu yang berbeda selalu menjadi masalah studi jangka pendek. Mungkin toleransi di disiplin ilmu Sosial lebih besar terhadap perbandingan replikasi yang dilakukan di waktu yang berbeda. Namun, menyimpulkan bahwa kelelawar lebih banyak ada di perkebunan daripada di hutan tanpa memisah data dari musim buah dan musim kering sekaligus berpotensi memusnahkan sisa hutan kita yang tinggal sedikit. Kupikir hal yang kurang lebih sama berlaku dengan membandingkan mantan dengan yang sekarang.

Ibu saya pernah mengajarkan saya tentang hal ini ketika menanyakan mana di antara dua adik laki-laki saya yang paling baik. Pertanyaan berbahaya ini tidak saya jawab karena Ibu juga selalu mengajarkan bahwa keluarga itu penting. Ibu menjawab sendiri bahwa kedua adik saya spesial dengan cara mereka masing-masing dan tak bisa saling dibandingkan. Segregasi kromosom ketika meiosis menimbulkan perbedaan karakter bawaan di antara kami bertiga dan membuat kami masing-masing memilih cara yang berbeda untuk memutuskan banyak hal dalam hidup.

Pembandingan ini sesungguhnya manusiawi dan bebas untuk dilakukan. Kita membutuhkan penilaian singkat tentang karakter umum seseorang dari beberapa kali pertemuan untuk menentukan jodoh, partner kerja, atau kepala pemerintahan. Hanya saja, jangan sampai kita terlalu menyederhanakan hidup seseorang hanya dari beberapa aspek saja, apalagi yang tidak relevan dengan keperluan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s