Ateis Pertama Saya dan Setelahnya

Berada di negara dengan mayoritas penduduk tidak mempercayai keberadaan sesosok Tuhan, penampilan saya yang berkerudung tentu mencolok. Apalagi di sini saya mendalami bidang S2 yang cukup “kontroversial” di kalangan akademia barat maupun umat Islam dalam berbagai arti: Evolusi, Ekologi, dan Sistematik. Bukan sesuatu yang kamu harapkan sedang dipelajari seorang perempuan yang memutuskan menutup seluruh tubuhnya sembari menolak minuman beralkohol dan makan babi.

Saya sesungguhnya sudah siap mendapat stereotip yang mungkin akan saya dapatkan karena pengaruh media dalam memberitakan Islam, dan saya “tidak dikecewakan”.

Dalam sebuah acara makan siang bersama yang diadakan teman sejurusan saya, saya berkenalan dengan seorang perempuan dari Bulgaria yang sedang melanjutkan studi di bidang Kimia medis. Dia sangat penasaran dengan saya, menanyakan segala hal yang dia dengar tentang Islam: ritual solat lima kali sehari (“bagaimana kalian bisa terus melakukan semua itu bahkan ketika sendirian sementara tidak ada yang mengawasi?”), posisi perempuan dalam Islam (“perempuan harus melayani laki-laki?”), dan masih banyak lagi.

Ada sedikit latar belakang yang perlu diketahui lebih dulu tentang perempuan yang saya samarkan identitasnya ini: dia penggemar surealis. Dia jauh-jauh datang ke Barcelona, Spanyol, tidak semata untuk jalan-jalan tapi khusus ingin melihat pameran Pablo Picasso dan Salvador Dalí yang walau berbeda era terkenal untuk hal yang sama: karya mereka yang… sureal. Di Barcelona, dia juga menyukai karya arsitek nyentrik Antoni Gaudí. Salah satu yang dia kunjungi dan dia ceritakan dengan sangat bersemangat adalah Casa Vicens, bangunan pertama Gaudí yang memuat dekorasi keramik yang unik dan memuat pengaruh Islam di masa itu.

Wajah Casa Vicens, langsung menampakkan pengaruh arsitektur oriental melalui desain menara-menara kecil di pojok gedung (Sumber: casavicens.org)

Di sini dia masuk.

Ketika dia mendatangi pameran yang dia kunjungi itu, dia tertarik melihat pojok kecil seni tentang Arab dan Islam. Dia menceritakan pojok kecil itu kepadaku sambil menanyakan hal-hal yang sebelumnya kusebutkan. Menurutnya pojok itu menarik karena selama ini Arab tidak pernah terlalu terkenal untuk seni. Desain geometrik Islam yang dipakai Gaudí pun hanya terkenal di masanya dan setelah itu tidak banyak dipakai lagi. Pertanyaannya dimulai dari ritual Islam yang dia dengar secara umum.

“Apakah benar kalian harus melakukan itu (solat, red.) lima kali sehari? Kapan saja itu?”

“Iya, ketika matahari hendak terbit, ketika matahari di atas ubun-ubun, lalu sekitar seperempat jalan matahari menuju terbenam, ketika matahari terbenam, dan ketika malam tiba.”

“Kalian sungguh-sungguh melakukannya meskipun tidak ada orang yang melihat?”

“Allah Maha Melihat.”

“Luar biasa. Aku selalu penasaran apa yang membuat orang bisa taat kepada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.”

Aku hanya bisa tersenyum karena hal itu sungguh sulit untuk dijelaskan.

“Apakah benar perempuan harus menuruti laki-laki setelah menikah?” lanjutnya.

“Iya, kami diperintahkan untuk taat kepada suami.”

“Tidakkah itu membuatmu merasa rendah?”

“Hmm… kamu bisa melihatnya seperti itu, atau kamu bisa melihat itu sebagai ‘ingin membuat orang yang kamu sayangi senang’.”

“Kamu bisa memilih orang yang kamu sayangi untuk menikah?”

“Tidak sah sebuah pernikahan dalam Islam ketika perempuan tidak menyukai mempelai laki-laki yang dipilihkan orang tuanya untuknya. Iya, perempuan dalam Islam bebas memilih menikahi siapa selama seiman.”

“Wah, aku tidak tahu itu!”

“Bahkan, sesungguhnya suamilah yang berkewajiban ‘melayani’ istri jika mengacu kepada perintah agama. Nabi kami rajin membantu pekerjaan rumah tangga di rumahnya. Suami juga berkewajiban memberi nafkah kepada istri namun jika istri dapat menghasilkan uangnya sendiri, uang itu milik istri. Mungkin kasarannya, ‘uangmu uangku, uangku uangku’. Jadi, para istri sesungguhnya melakukan apa yang mereka tampak ‘harus’ lakukan murni karena ingin menyayangi suami mereka dan ingin menyenangkan mereka.”

“Hahaha… aku suka itu. Ini cara yang menyenangkan untuk melihat konsep ‘melayani’. Aku tidak menyangka Islam feminis.”

Obrolan berlanjut mengupas banyak hal lain. Aku belajar banyak tentang seni rupa dari dia, dia merasa belajar banyak sudut pandang dariku juga. Kukira, memiliki minat terhadap hal seperti seni rupa, apalagi surealis, membuatmu cukup terbuka dengan hal baru. Meskipun dia tidak menyukai konsep bahwa hidup ada yang mengatur, dia mengakui bahwa cara hidup yang sedang berusaha kubawa ini “hangat” dan “indah”.

Perempuan ini adalah “ateis” pertamaku. Dia orang pertama yang menantang cara berpikirku selama ini dengan cara yang menurutku… menyenangkan. Dia tidak berusaha menghakimi. Dia murni penasaran dan ingin tahu. Dia tidak takut menyinggungku karena selama berkenalan aku pun banyak bercerita tentang dari mana aku berasal dan mengapa aku di sini. Teman-teman lain yang kala itu bersama kami tampak tidak terlalu nyaman, namun membiarkan.

Mengapa aku memberi tanda kutip kepada “ateis”? Karena sesungguhnya kata “ateis” itu sendiri tidak tepat digunakan. Seseorang mendapat label “ateis” sangat bergantung kepada siapa “teis” atau Tuhan yang dibicarakan. Apakah kamu menuhankan alam? Apakah kamu menuhankan logika? Apakah kamu menuhankan poci teh raksasa tak kasatmata di luar angkasa sana?* Kamu bisa dikatakan ateis selama tidak mempercayai konsep teis yang sama.

Apalagi, saya termasuk orang yang percaya bahwa seseorang menuhankan sesuatu dalam hidupnya, seberapa pun dia mengaku dia tidak percaya keberadaan Tuhan atau konsep Tuhan. Menuhankan sesuatu di sini menurut saya adalah menjadikan diri subjek dari sesuatu yang dituhankan itu. Subjek logika. Subjek alam. Subjek kehendak Allah.

Mungkin konsep menuhankan sesuatu ini bisa saya ceritakan lagi dari pengalaman selanjutnya ketika teman-teman sekelas saya menanyakan tentang kerudung saya pada suatu waktu di mensa kampus yang sempat saya ringkas dalam sebuah status Facebook 2016 silam:

“Oke, jadi perempuan boleh liat rambutmu. Kalau perempuan itu lesbi, bagaimana?”

Aku baru tahu kalau teman-temanku banyak yang penasaran dengan kerudungku, tapi mereka baru berani bertanya setelah enam bulan masa pertemanan. Menurutku ini manis; mereka berusaha keras untuk tidak menyinggungku padahal aku senang mereka tanyai. Bagaimana lagi cara kamu tahu bahwa kamu paham sesuatu kalau tidak dengan diuji? Pertanyaan-pertanyaan mereka adalah ujianku memahami Islam, dan respon mereka adalah evaluasi yang baik.

Pertanyaan-pertanyaan mereka menarik, membuatku berpikir lebih jauh tentang aturan Islam yang satu ini, misalnya pertanyaan yang kutuliskan ini. Aku baru menyadari, banyak yang aku tidak tahu dari perintah menutup aurat. Ketika ditelusuri secara logika, ada banyak hal yang selama ini kuanggap alasan logis pakai kerudung berakhir tidak masuk akal. Menghindarkan pandangan laki-laki? Bercadar pun perempuan masih menarik pandangan laki-laki. Di sini paha dan dada di mana-mana gak ada laki-laki yang terus melototin. Apalagi kalo laki-lakinya gay dan tidak tertarik dengan perempuan. Malahan kalau alasannya syahwat, kita tidak pernah tahu kalau-kalau teman perempuan kita yang Islam sekalipun mungkin punya orientasi seksual terhadap perempuan.

Dari banyak pertanyaan dan berlapis-lapis argumen, aku pun menyadari bahwa ketika memang kita tidak berniat mendapatkan petunjukNya, kita ditarik semakin jauh dariNya.

Di dunia yang semakin gila ini, satu-satunya alasan paling logis menaati perintah Allah adalah mengakui diri kita sebagai hambaNya. Aku baru menyadari apa arti “hamba” justru ketika mendapatinya dalam bahasa Inggris sebagai “slave”, yang kuartikan “budak”. Apa arti menjadi budak Allah? Bahwa apa yang kita lakukan menyenangkan “tuan” kita, Allah, dan kita tidak melakukan apa pun yang akan membuatNya marah.

Mengakui Allah Mahasegalanya itu mudah. Menempatkan diri kita sebagai hambaNya? Aku yakin tidak semua orang mendapati ini lebih mudah.

Jadi, “menuhankan sesuatu” adalah menjadikan diri “hamba” dari apa yang mereka anggap “Tuhan”. Saya pribadi, sebagai sesosok manusia dengan segala keterbatasan seorang manusia memilih menjadikan Allah sebagai Tuhan saya dan satu-satunya dan ikhlas menjadi subjek kehendakNya. Allah, kata yang saya pilih untuk gunakan, menurut saya cukup tepat untuk mengacu kepada konsep Tuhan tunggal yang saya anut berdasarkan ajaran Islam. “Al” dalam bahasa Arab analog dengan “the” dalam bahasa Inggris yang memiliki fungsi untuk mengacu kepada sesuatu yang khusus sementara “lah” yang merupakan turunan dari “ilaah” atau “tuhan” (“god“) dalam bahasa Arab sehingga kata “Allah” mengacu kepada “Tuhan”**. Ini adalah ajaran inti dari Islam.

Sejak saat itu, saya mengalami interaksi yang menarik dengan teman-teman sejurusan saya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan postingan saya tentang ajaran Islam di Facebook ada yang membuatnya kesal sebagai “ateis”. Lepas dari itu, mereka mengakui mendapat lebih banyak informasi tentang Islam dari saya dan memahami lebih banyak tentang posisi Islam terhadap ajaran Abrahamik yang lain.

Tentu saja, saya selalu menerapkan catatan kepada mereka bahwa saya masih belajar dan mereka harus kroscek ke yang lebih tahu semisal ulama yang mengerti tafsir Al Qur’an. Salah seorang teman saya yang lain yang mengaku “ateis” kemudian bertanya apakah dia bisa mendapatkan Al Qur’an yang dia bisa baca untuk referensi karena dia ingin mengetahui sumber selain internet. Kala itu aku memberi tahu dia bahwa dia bisa bertanya kepadaku tentang ayat yang dia ingin pahami, namun tetap lebih baik jika dia datang ke semacam Islamic Center setempat yang memiliki ulama yang lebih berkapasitas untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif dan kontekstual dengan kondisi sosial budaya di tempat dia tinggal.

Dari interaksi saya dengan mereka selama ini, saya mendapati bahwa tak selalu mereka yang tidak beragama itu tidak lepas dari dogma. Ketika mereka mendebat saya, ada ketidaknyamanan yang bisa saya rasakan dari raut wajah mereka. Skeptisme mereka membuat mereka kesulitan menerima argumen saya tentang keberadaan Tuhan namun mereka tak mau membuat saya tak nyaman. Bagi mereka, mereka merasa bisa mendapatkan nilai moral universal tanpa perlu mengikuti ajaran agama tertentu karena mereka percaya kita sesungguhnya sudah tahu apa yang harus kita lakukan sebagai manusia. Ada-tidaknya Allah yang Tunggal bagi mereka kemudian mereduksi konsekuensi yang mereka anggap akan mereka alami hanya dalam kehidupan setelah kematian. Untuk mereka, kehidupan setelah kematian tidak penting untuk diributkan, namun tidak berarti mereka tak punya tujuan hidup yang visioner.

Image result for flying invisible teapot
*Russell’s teapot merupakan salah satu argumen terkenal untuk melawan ketidakmampuan manusia membuktikan Tuhan tidak ada; tidak ada yang akan percaya bahwa ada poci teh raksasa yang mengitari matahari karena tidak ada yang dapat membuktikan ketidakberadaan poci teh itu. Gambar ini merupakan visualisasi suatu grup musik progressive rock terhadap poci teh tersebut untuk cover album mereka (Sumber: discogs.com).

Saya tidak pernah repot-repot berusaha meyakinkan mereka bahwa Tuhan itu ada dengan logika. Sama seperti mereka yang memilih ajaran suatu agama, mereka yang memilih tidak mengikuti ajaran agama apa pun mengalami perjalanan spiritual dan pemikiran yang tidak sederhana dan itu bukan urusan kita. Banyak ustadz dan ustadzah yang saya tanyai tentang ini mengiyakan nalar berputar untuk menyimpulkan kebenaran mutlak: karena mereka sudah memiliki pola pikir dan asumsi awal bahwa Tuhan tidak ada, argumen yang berdasar bahwa Tuhan itu ada akan selalu terdengar absurd bagi mereka. Saya tak ambil pusing dengan tuntutan untuk lebih banyak mendalami ajaran lain dan dakwaan bahwa saya hanya menuruti kondisi sosial budaya saya dari kecil. Saya bahagia dengan jalan kebenaran saya; jenis kebahagiaan yang sama dengan yang dialami Mas Iqbal Aji Daryono.

Teman-teman yang memilih untuk ateis akan banyak tidak setuju dengan saya. Namun, itu urusan mereka dengan Sang Pencipta yang mereka percayai dengan versi mereka sendiri. Saya hanya mencoba melaksanakan perintah Nabi saya untuk menyampaikan keberadaan Sang Pencipta yang Maha Esa.

Catatan:
*lihat gambar poci teh hijau
**berasal dari pelajaran Arabic with Husna yang digagas Nouman Ali Khan dan tulisan Tamim Ansary dalam bukunya Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes, hal. 20.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s