Tentang Nalar Berputar dan Kebenaran Mutlak

Ketika heboh tulisan Afi Nihaya Faradisa tentang “agama warisan” orang beramai-ramai menulis kritik terhadap tulisannya. Salah satu yang terkenal dan dibagikan ribuan orang adalah tulisan Gilang Kazuya yang mengatakan Islam benar karena Al Quran bilang begitu dan Al Qur’an adalah kebenaran.

Apa yang dia tulis adalah salah satu kesalahan logika yang disebut “circular reasoning” atau mungkin bisa dibahasaindonesiakan menjadi “nalar berputar”. Kesalahan berlogika satu ini terjadi ketika seseorang menyatakan suatu pernyataan benar karena sumber pernyataan tersebut benar. Istilah lain dari nalar berputar adalah paradoks. Darimana datangnya cucu yang menggunakan mesin waktu untuk membunuh nenek?

Kalau kata teman-teman Fisika, asumsi yang paling membantu ketika mengerjakan soal teori adalah “asumsikan saya benar”.

Lalu, saya menemukan suatu tulisan yang berupaya membuat pernyataan “Islam benar karena Al Quran bilang begitu” ini tidak berputar lagi. Ia berargumen bahwa Al Qur’an merupakan mukjizat dari Allah karena tidak ada manusia yang mampu membuat sesuatu yang bahkan mendekati Al Qur’an. Karena Al Qur’an adalah mukjizat langsung dari Tuhan, Al Qur’an benar.

Sepintas saya menganggap argumen ini cukup logis karena secara teknis tidak ada perputaran kata dalam kalimat tersebut. Belum lagi saya mempercayai bahwa Islam merupakan kebenaran. Tentu tak sulit bagi saya menganggap kalimat ini tidak lagi mengandung nalar berputar. Saya membagikan tulisan itu di akun Facebook saya sendiri untuk membagikan cara pandang tersebut.

Namun, beda halnya dengan teman-teman saya yang menganut ajaran lain sebagai kebenaran. Mengutip salah satu argumen teman saya:

” ‘karena tidak ada yang bisa membuat demikian, maka artinya itu dari Tuhan’ itu sendiri sudah loncat logika jika tidak menyematkan klaim dari Alquran sendiri yang mengatakan demikian (end up circular lagi). Maksudku, claim langsung merujuk pada ‘therefore this must have been made by God’ itu not necessary karena bisa diargue ‘therefore this must not be from man, but other than man, not necessary from God’ “

Lebih lanjut, mengapa parameter mukjizat harus “sesuatu tidak bisa dibuat oleh manusia”? Diskusi lebih lanjut yang menggelitik otak ini berujung kepada simpulan bahwa untuk mengklaim kebenaran mutlak, orang tidak mungkin tidak menggunakan nalar berputar.

Ini sedikit membingungkan, memang.

Premis, atau pernyataan yang digunakan untuk merunut logika, harus diuji kebenarannya sebelum digunakan. Ketika premis ini ditujukan untuk menguji kebenaran mutlak itu sendiri, harus ada premis tentang kebenaran mutlak yang dapat digunakan untuk menguji. Premis yang digunakan untuk menguji ini harus memiliki nilai kebenaran universal. Dalam runutan “Islam agama paling benar” -karena- “Al-Quran menyatakan bahwa Islam paling benar”, premis penguji tidak dapat diacu sebagai kebenaran universal. Mengutip salah seorang teman yang lain,

Islam adalah agama yang mengacu pada Al-Quran. Seseorang percaya kalau Islam benar ya harus percaya Al-Quran benar. Nah akar dari masalah logika di sini adalah prinsip “benar”. Ketika seseorang ga mulai dengan posisi yang sama terkait kebenaran Islam -dan- Al-Quran, ya udah berhenti di situ.

Namun, tak ada logika yang akan sepakat tentang apa itu kebenaran mutlak. Kepercayaan tidak bersumber dari rasio. Kamu percaya karena melihat bukti-bukti untuk percaya, iya, namun bagaimana kamu berhipotesis tentang bagaimana bukti-bukti itu membentuk kebenaran mutlak, itulah yang membedakan satu agama dengan agama lain. Pada akhirnya, kembali mengutip teman yang pertama mengritisi nalar berputar tersebut:

Artinya kita harus bisa dewasa menerima fakta bahwa toleransi beragama itu bukan artinya bilang “agama kita sama-sama benar” tapi sama-sama menghargai keputusan orang lain menyatakan “ini yang benar, bukan yang itu”. And just let live.

Mungkin dengan lingkaran pertemanan yang berbeda, saya akan mendapatkan bahasan yang berbeda dan mungkin lebih dalam. Atau mungkin tidak mendapat masukan seperti ini.

Sebagai penganut ajaran Islam, saya tentu percaya bahwa Allah-lah kebenaran mutlak itu. Teman saya yang pengikut ajaran Kristus juga mempercayai dunia menurut ajaran Kristus. Namun, entah mengapa saya percaya bahwa kita semua mempercayai satu kebenaran mutlak yang sama jauh di dalam hati karena seperti yang saya percayai, kita semua bersumber dari sang Kebenaran Mutlak itu sendiri.

Advertisements

One thought on “Tentang Nalar Berputar dan Kebenaran Mutlak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s