Apakah Hidupmu Plagiat?

Tampaknya peningkatan pemahaman publik terhadap penjiplakan atau plagiarisme meningkat berkat akun Facebook Afi Nihaya Faradisa. Perempuan dengan latar pendidikan SMA ini dikabarkan menggemparkan jagat Facebook dengan tulisan-tulisannya yang salah satunya belakangan diketahui berasal dari tulisan orang lain. Tiba-tiba semua orang mengutip, atau setidaknya mempelajari, Hukum Kekayaan Intelektual atau HaKI.

Kasus Afi membuat saya berusaha melihat kembali bagaimana suatu tulisan dikatakan plagiat. Saya memahami plagiarisme sejak SMA juga karena ibu saya yang berprofesi sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri, “Selalu beri sitasi untuk gagasan yang tidak berasal dari dirimu sendiri,” kata Ibu. Tidak banyak anak SMA yang tahu tentang plagiarisme di kala itu kecuali yang memang berkutat dengan karya tulis baik ilmiah maupun fiksi. Plagiarisme memang cenderung hanya ramai dibahas di lingkungan sastra dan akademik saja, atau komunitas-komunitas lain yang banyak menggunakan proses kreatif.

Mungkin banyak yang akan berpikir bahwa menghindari plagiarisme lebih mudah bagi mereka yang berkutat di bidang non-fiksi; penemuan atau teori berbasis fakta hanya bisa dibahasakan dengan sedikit cara sehingga menulis sesuatu persis dengan yang terbaca di sumber selama mencantumkan sumber tulisan tidak termasuk plagiat. Apalagi akademia umumnya hanya berkutat di tulisan, berbeda dari profesi kreatif lain yang harus mempertimbangkan apakah baris notasi lagu yang atau lekuk gambar yang ia gunakan melanggar hak kekayaan intelektual orang lain atau tidak.

Salah besar.

(Sulitnya) Menghindari Plagiasi

Ada dua cara kita dapat menggunakan tulisan dari sumber lain: kutipan dan parafrase. Jika kalimat yang kita tulis sama persis dengan sumber, kalimat tersebut harus diberi tanda kutip (“) dan disertakan sumbernya. Cara menulis kutipan juga tidak sembarangan; biasanya cara menulis kutipan diajarkan ketika pelajaran bahasa Indonesia atau mata kuliah penulisan teks akademik. Parafrase, lebih susah karena kita harus menuliskan kembali ide dasar dari sumber yang kita acu dengan bahasa kita sendiri. Ketika kita gagal melakukan parafrase, umumnya akan langsung terlihat dari gaya bahasa tulisan kita. Saya pribadi malu sendiri ketika berhasil menemukan kegagalan saya memparafrase; kenapa kalimat yang satu ini keren sendiri di sini?

Hidup saya sebagai mahasiswa Biologi membuat saya harus menulis tentang diskusi hasil praktikum dan tugas kelas. Penjelasan, atau diskusi, lebih enak dilakukan dengan parafrase. Terlalu banyak mengutip atau ketidakberadaan yang signifikan dari kalimat kita sendiri akan membuat tulisan kita tidak koheren karena setiap kutipan ditujukan untuk kasus khusus dalam tulisan tempat kutipan tersebut berasal. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dengan “ya” untuk mengetahui apakah kita telah melakukan plagiasi atau tidak dalam tulisan kita:

  1. Apakah ide yang Anda tulis sungguh milik kita atau sebuah fakta umum yang semua orang tahu (Bumi bulat, eh, lupakan…) sehingga tidak perlu sitasi?
  2. Apakah Anda sudah mencantumkan semua penulis asli dari tulisan yang Anda kutip dalam tulisan Anda?
  3. Apakah Anda sudah mencantumkan semua penulis asli dari ide yang telah Anda tulis dalam bentuk parafrase bahkan ketika Anda telah mengubah seluruh kata?
  4. Apakah Anda mencantumkan asal gambar/ilustrasi/foto dalam tulisan Anda?
  5. Apakah Anda yakin Anda tidak mendistorsi atau menyalahartikan pesan asli penulis ketika Anda menggunakan tulisannya?
  6. Apakah Anda yakin susunan dan gaya dari tulisan Anda merupakan milik Anda sendiri dan Anda tidak sedang meniru susunan atau gaya orang lain?
  7. Apakah Anda menggunakan metode sitasi yang tepat dan memberikan informasi yang cukup sehingga pembaca dapat menemukan sumber tulisan yang Anda gunakan tanpa harus bertanya kepada Anda?

Ketika saya tahu lebih banyak hal tentang plagiarisme, saya menduduki bangku kuliah. Saya baru sungguh-sungguh menyadari betapa beratnya proses kreatif sehingga sejak saat itu saya berupaya hijrah ke dunia tanpa barang bajakan dan pelanggaran hak cipta.

Lalu, apakah mengakui suatu tulisan Facebook sebagai tulisan sendiri termasuk plagiarisme? Menurut Rhenald Kasali, tulisan Facebook tidak bisa diberlakukan hukum plagiasi yang sama dengan di tulisan akademik. Facebook sudah berusaha melindungi konten akun kita dengan Privacy Settings dan mengakui bahwa semua yang kita bagi di Facebook merupakan hak kekayaan intelektual kita. Lagipula, kita telah menyetujui aturan penggunaan Facebook sebagai ganti jasa yang Facebook berikan kepada kita. Ramai-ramai membuat status tentang bahwa status kita adalah hak kekayaan intelektual kita beberapa waktu lalu sebagai respon terhadap kasus Afi tidak mengubah apa pun; kontrak kita dengan Facebook sudah legal ketika kita mencentang “I accept the Terms and Conditions“. Berdasarkan ketentuan jasa Facebook, Facebook memiliki hak atas konten kita selama konten itu ada di Facebook, baik itu di akun orang lain (dibagikan) atau di akun kita sendiri. Karena itu, banyak organisasi atau penulis lebih memilih membagikan tautan ke tulisan mereka alih-alih membuat tulisan di Facebook langsung. Kurator sebuah museum sejarah alam di Jerman juga mewanti-wanti saya ketika saya mengambil gambar koleksi privat mereka menggunakan kamera smartphone saya: jangan diunggah ke Facebook karena foto yang diunggah ke Facebook menjadi hak milik Facebook!

Secara legal-formal, Afi tidak memiliki kesalahan. Secara moral-sosial, masyarakat yang menentukan. Namun, cukuplah hujatan kepada anak malang itu dan mari pastikan hal semacam ini tak terulang kembali.

Mencerabut Akar Plagiasi

Ketika mata kuliah Bioetika, saya ingat ada sebuah kelompok yang mempresentasikan tentang jenis-jenis plagiarisme. Itulah saat saya memahami mengapa daftar pertanyaan yang saya sebutkan sebelumnya itu dibutuhkan untuk menghindari plagiasi. Semua yang baru saja tahu tentu merasa kebebanan. Seorang adik jurusan kemudian bertanya kepada kelompok itu bagaimana kita bisa menghindari plagiarisme kalau ternyata memakai kalimat yang ada di jurnal walau memberikan sitasinya saja masih dianggap penjiplakan.

Saran saya dalam diskusi ketika itu: banyak membaca dan menulis.

Saya mendapat saran ini dari Austin Kleon ketika membaca bukunya,  Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Told You About Being Creative:

“If you steal from one author, it’s plagiarism; if you steal from many, it’s research.”
— Wilson Mizner

Dia mengumpulkan banyak kutipan lain yang menurut saya cukup membantu untuk berkarya kreatif. Pada intinya, plagiarisme ada karena kita tidak terbiasa berkarya. Otak kita tidak terbiasa mencipta. Latihan parafrase yang diberikan ketika kita masih berada di bangku Sekolah Dasar cenderung sulit karena otak anak seusia itu tidak sanggup menerima beban mata pelajaran dan lama sekolah yang makin gila saat ini. Bagaimana saya bisa dengan enak mengerjakan latihan parafrase dan sinopsis buku di mata pelajaran bahasa Indonesia kalau di kepala saya ada tuntutuan untuk segera lulus remidi Matematika dan IPS?

Padahal, banyak membaca dan membuat parafrase membantu otak kita terbiasa dengan proses penciptaan karya. Membaca membuka pikiran kita ke banyak konsep, bahasa, dan kata baru yang bisa kita gunakan. Lalu, otak kita baru benar-benar mencipta ketika kita mencoba menulis dengan bahasa kita sendiri. Menulis dengan bahasa sendiri terasa berat terutama bagi yang belum terbiasa karena memang proses sintesis kata adalah proses yang paling banyak memakan energi dalam otak.

Proses kreatif otak sekarang menjadi semakin penting untuk dilatih mengingat proses berlogika otak sudah dilakukan oleh kecerdasan artifisial dengan lebih baik dari manusia. Di tengah dunia yang makin terotomatisasi ini, membangun fungsi otak yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak bisa diotomatisasi semisal empati dan kreativitas semakin penting untuk menjaga kemanusiaan. Menjaga diri dengan bacaan dan ilmu tambahan dalam rangka mempertahankan proses kreatif dalam otak itu sendiri juga membantu mencegah otak dari penyakit yang neurodegeneratif semisal Alzheimer. Penyakit neurodegeneratif atau penyakit penurunan fungsi sel saraf merupakan momok bagi mereka yang suka berpikir.

Bagi komunitas yang mengutamakan kemampuan berpikir dan menghasilkan pemikiran, mengambil hasil pemikiran orang lain dan mengakuinya sebagai pemikiran diri sendiri merupakan tindakan paling rendah yang bisa dilakukan terhadap otak manusia. Hukuman sosial plagiasi dalam lingkungan akademia cukup berat karena hal itu, dan juga dalam lingkungan profesional lain yang banyak membutuhkan proses berpikir kreatif semisal literasi dan seni rupa. Tak heran kalau plagiasi disambar ganas oleh mereka yang mendalami isu proses kreatif. Membuat kalimat bagus itu sulit; mereka yang sudah mengalami revisi beruntun dari dosen pembimbing pasti mengerti hal ini. Namun, reaksi ganas publik secara umum terhadap plagiasi cenderung baru.

Ketika Hidup Kita Plagiat

Mereka yang lingkaran pertemanannya penuh dicekoki isu Afi Nihaya Faradisa tidak sulit menemukan status/tulisan yang mengungkapkan betapa kelirunya mengiyakan pemikiran anak yang menggunakan tulisan orang lain sebagai tulisannya. Reaksi mencela dan memaki ini tidak jauh berbeda dengan reaksi penduduk Amerika Serikat kepada Melania Trump, ibu negara Amerika Serikat periode ini, ketika mereka mengetahui naskah pidatonya memiliki banyak kalimat yang sama dengan salah satu naskah pidato Michelle Obama, ibu negara Amerika Serikat periode sebelumnya. Orang tiba-tiba latah dan “memplagiasi” reaksi orang lain hanya karena secara sosial hal tersebut dapat dilakukan.

Reaksi ganas yang “plagiat” ini menurut saya tidak berimbang dibandingkan dengan ketika isu yang sama terjadi kepada orang lain di waktu yang lebih silam. Ketika media sosial belum populer, banyak tokoh penting Indonesia termasuk akademisi Indonesia sendiri punya masalah dengan pencantuman referensi dan parafrase dan publik tidak ramai menghujat tokoh-tokoh ini. Disertasi doktoral Martin Luther King, Jr. juga ternyata mengandung plagiarisme dan dunia secara umum tetap tidak kehilangan rasa hormat kepada tokoh ini. Tiba-tiba, seonggok status Facebook seorang anak SMA terdeteksi plagiat dan jagat maya Indonesia menghujat. Tak sulit untuk membuat saya percaya bahwa reaksi ganas publik kali ini hanya pemanfaatan anak ini untuk mendiskreditkan suatu ideologi atau paham politik.

Lepas dari latar belakang reaksi ganas publik, saya sesungguhnya bersyukur makin banyak orang yang kini mengerti prinsip hak cipta. Sembari menelisik tindakan Afi, saya pikir mereka yang mengritik Afi tentunya introspeksi apakah dia lebih baik dalam hal penghormatan hak cipta. Apakah saya pernah copy-paste sesuatu dari grup chat sebelah tanpa tahu sumber kontennya? Apakah perangkat lunak di laptop saya masih bajakan? Apakah film yang saya tonton masih unduhan dari situs yang tidak memiliki perlindungan hak cipta yang jelas? Seberapa sering saya meniru gaya hidup orang lain sementara saya tidak mampu?

Plagiasi dalam hidup menurut saya bisa diartikan lebih luas sebagai proses meniru mentah-mentah tanpa mengerti makna di balik apa yang dia tiru. Hal inilah yang sesungguhnya terjadi dalam plagiasi tulisan: suatu kalimat ditulis begitu saja tanpa parafrase karena tidak mengerti ide dasarnya. Tidak sedikit pengguna media sosial membagi suatu tautan atau gagasan tertulis di media sosial tanpa mengerti maksud penulis atau mengerti dari mana hal tersebut berasal. Padahal, sekedar mencantumkan sitasi tidak cukup untuk menghindari dakwaan plagiasi. Kita perlu memahami ide dari tulisan yang ingin kita bagi agar kita tahu kapan harus menggunakan kutipan atau parafrase. Sitasi adalah satu bagian sementara pemahaman terhadap ide adalah bagian yang lain. Jika semua orang memahami hal ini, tak ada lagi perilaku clicking-monkeys atau orang-orang yang sekedar sebar sesuatu di media sosial tanpa mengerti konsekuensinya.

Menurut saya, untuk menghindari plagiasi secara umum, masalah yang ada lebih dari sekedar sitasi, kutipan, dan parafrase. Menelisik gagasan dalam diri dan bangga dengan keunikan diri sendiri merupakan faktor penting. Agar percaya diri untuk menulis dengan kalimat sendiri, seseorang harus bangga dengan gagasannya sendiri. Agar ingat untuk mencantumkan sumber, seseorang harus paham betapa berharganya buah pikir seseorang. Hal ini menurut saya cukup berat mengingat kurikulum pendidikan yang makin kacau. Berkaca kepada kasus Afi, kementrian pendidikan dalam upayanya mencegah plagiasi sebaiknya tidak terlalu berfokus kepada perguruan tinggi namun juga pendidikan dasar. Mungkin lebih banyak soal ujian yang memancing nalar siswa supaya kreativitas anak-anak tersalurkan. Bayangkan apa yang terjadi kalau pikiran-pikiran orisinil seorang bocah dengan rasa ingin tahu yang murni dapat dieksplorasi dengan baik dan dibiarkan memperkaya kajian dalam kehidupan sehari-hari!

Anak-anak semacam ini tentu bisa memperkaya khasanah keilmuan kita jika kreativitas mereka dalam hal apa pun diarahkan dengan baik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s