Pledoi untuk Ngontrak

Tulisan berikut merupakan status Facebook saya yang saya tulis awal 2016 lalu setelah mendalami tren kepemilikan tempat tinggal di Jerman.

Barusan liat postingan temen tentang promo beli rumah tanpa KPR (baca: riba). Menurutku ini penting karena jaman sekarang, ketika Islam makin asing, orang yang mentingin hidup tanpa riba malah dibilang rebek. Yang menarik dari postingan itu adalah, seperti biasa, komen2nya. Semuanya adalah puluhan orang Indonesia yang kepengen PUNYA rumah sendiri. Dulu aku mengerti, sekarang aku heran.

Hidup di kota besar macam Munich dengan penduduk yang lumayan padat juga (masih menang Jakarta btw kalo masalah kepadatan penduduk), aku sangat bersyukur dapet tempat tinggal hanya dengan NGONTRAK. Aku bisa tinggal, tidur, makan, masak, dan yang paling penting: boker, dengan nyaman (karena rumah adalah tempat di mana kamu boker paling enak yeah).

Menariknya, aku mendapati bahwa yang melakukan hal semacam ini gak cuma pelajar tapi juga orang2 yang udah berkeluarga. Mereka milih ngontrak apartemen keluarga, terus kalo penghasilan nambah mereka gak beli rumah. Mereka PINDAH ke tempat yang lebih bagus sesuai penghasilan mereka. Kita bicara Jerman, one of the world leading powers dan sebagian besar penduduknya terima tinggal NGONTRAK. Gak ada bedanya selain keleluasaan dekorasi dan pembangunan. Butuh halaman rumah? Ada kok yang nyewain hunian pake halaman.

Ada lah pasti yang beli tanah dan rumah sendiri dan mahalnya edan. Tapi kamu punya tanah juga gak bisa semenamena e e: hanya sekian persen luas tanah yang boleh dijadiin bangunan menurut aturan pemerintah. Kalo mau bisnis ya bikin ruko sekalian atau nyewa cart streetfood dan jualan di pusat kota, jangan bikin warung padang di rumah.

Kembali lagi, di sini yang mau aku tekankan adalah gak ada yang memalukan dari tinggal di kontrakan. Kita dijejali pola pikir oleh masyarakat bahwa udah umur sekian dan berkeluarga itu harus punya rumah sendiri. Sendiri banget dan harus banget. Sadar ngga sadar ini budaya neonatal dari barat: udah gede ya tinggal pisah dari orang tua (makanya di sini ada satu perumahan yang bisa isinya lansia semua) dan separasi ini dilakukan dengan punya rumah sendiri. Nggak ada yang salah dengan itu sih, cuma apakah segitu harusnya ampe pada rame ambil KPR yang bikin total harga rumah mungkin nyampe dua kali lipat?

Aku ngga mau menghakimi yang punya pilihan hidup berlawanan, cuma kataku kalo mau ngindarin KPR buat beli rumah, ngubah pola pikir ini yang kita perlukan. Dan kita punya modal yang bagus lho. Misalnya, dibanding temen2 Jerman, aku bisa makan selama dua minggu dengan uang yang kata mereka cuma cukup buat tiga hari (orang-orang gila ini makan apa sih).

Gak ada salahnya sama sekali beli rumah, dan gak ada salahnya sama sekali untuk ngontrak. Situasi ekonomi Indonesia saat ini mungkin membuat KPR tampak menguntungkan. Bagi yang tidak punya masalah dengan riba, ada baiknya mempertimbangkan niat yang lurus ketika mau beli rumah: kebutuhan atau tuntutan sosial? Jika tidak ada perencanaan keuangan yang jelas atau pemasukan yang memadai, kupikir tidak ada gunanya membeli kenyamanan dengan cara yang tidak nyaman, apalagi hanya karena masalah gengsi. Bagi yang ingin menghindari riba, jangan malu ngontrak atau ngekos sampe ada cukup cash untuk beli langsung. Nikmat Allah itu nyata. Apa pun caranya, pastikan rumahmu tidak egois; ia harus menjadi berkah bagi sekelilingnya alias ramah lingkungan, dalam makna sosial maupun ekologis.

Kita bangsa yang efisien, dan sebaiknya kita tetap demikian. Semoga Allah memudahkan kita menempuh jalanNya.

Disclaimer: “ngontrak” di Jerman (“miete”) tidak persis sama teknisnya dengan “ngontrak” di Indonesia.

(Diapdet sekenanya berdasarkan komen teman2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s