Bagaimana Saya Mencintai Buku

Dari sekian banyak pengalaman saya dengan literasi yang saya lupakan, saya ingat dua ajaran dari Ibu saya: uang tidak habis untuk beli buku dan buku adalah jendela dunia.

Ketika Ibu bilang jendela dunia, Ibu tidak main-main. Tak hanya saya boleh beli seluruh serial Harry Potter bahkan yang bahasa Inggris (Ibu tidak sabar menunggu terjemahan), Ibu juga mengiyakan permintaan saya untuk beli Babad Tanah Jawi dan ide saya untuk beli Primbon Jawa dan sejarah Nyi Roro Kidul. Kata Ibu, “Kamu nggak harus percaya. Kamu cukup tahu. Semakin banyak pengetahuanmu, semakin banyak macam orang yang bisa kamu ajak bersosialisasi.”

Pada akhirnya saya tetap orang yang socially-awkward dan hanya bisa akrab dengan sedikit jenis orang, tapi saya tidak menyesal mengikuti saran Ibu.

Ibu melihat kesukaan saya membaca sejak kecil karena banyaknya komik yang saya ingin beli kala itu. Dimulai dari serial Doraemon dan Paman Gober, Ibu melatih saya mencoba membaca buku dengan gambar yang lebih sedikit dan tulisan yang lebih banyak melalui buku-buku karangan Enid Blyton semisal serial Lima Sekawan dan cerita tentang sekolah asrama Malory Towers dan St. Claire. Buku-buku ini tak hanya bagus dalam segi gaya bahasa dan plot cerita; pesan moralnya juga cukup banyak dan saya rasa membantu saya membangun banyak pola pikir yang saya punya kala itu. Saking sukanya dengan buku-buku Enid Blyton, saya baca serial Malory Towers dan St. Claire bisa sampai tiga kali dalam dua bulan.

Setelah menikmati membaca buku dengan ilustrasi minimal, saya bergeser ke buku fiksi dengan ilustrasi yang jauh lebih sedikit, semisal buku-buku Karl May atau penulis petualangan lainnya. Tulisan Karl May (terjemahannya, red.) kaya deskripsi dan menuntut saya menggunakan logika abstrak saya untuk yang pertama kalinya. Bagaimana membayangkan Amerika di abad ke-18 dengan latar padang rumput dan badan air yang tidak pernah saya lihat di Indonesia, bagaimana membayangkan ras Amerika asli dan wajah Winnetou dan Old Shatterhand, dan masih banyak lagi. Mengingat sekarang buku-buku ini sudah berharga puluhan ribu rupiah, saya bersyukur Ibu saya mengoleksi buku-buku Karl May ketika harganya masih beberapa ratus perak ketika Ibu saya masih SMA.

Ibu saya tidak berhenti sampai menyodori saya koleksi pribadinya. Seperti yang saya sebutkan di awal, Ibu saya terbuka terhadap genre buku baru, terutama yang berbalut narasi fiksi fantasi. Ketika Harry Potter terkenal di Indonesia, Ibu membeli buku-bukunya bahkan langsung bahasa Inggris karena beliau tidak sabar menunggu terjemahannya keluar. Langsung terasa kisah aslinya juga kadang-kadang. Saya juga masih ingat ketika Ibu pertama kali menyodori saya Eragon di toko buku, kisah fantasi tentang penunggang naga.

“Kayaknya bagus,” kata Ibu sambil memasukkan buku itu ke antrian kasir.

Ibu juga melakukan hal yang sama kepada The Golden Compass ketika pertama melihat buku itu di toko buku. Sinopsisnya menunjukkan genre fantasi dan Ibu suka; cukup alasan untuk mengeluarkan uang. (Baru belakangan saya tahu bahwa serial His Dark Material yang menjadi indukan The Golden Compass sempat bersitegang dengan suatu organisasi Katolik karena dianggap mengadung ajaran anti-Katolik dengan kisahnya seputar “membunuh Tuhan”.) Ketika serial Twilight keluar, tentu tak sulit membuat ibuku membeli keempat bukunya sekaligus. Selera Ibu juga bagus; biasanya buku-buku yang Ibu kepikiran untuk membeli diangkat ke layar lebar. (Saya cukup bangga sudah selesai baca The Hobbit jauh sebelum dia diangkat ke layar lebar)

Namun ketika kuliah, mentalitas buku-bagus-ayo-beli itu tak ada di saya karena saya tak punya cukup uang untuk membeli buku yang ketika itu seharga nyaris separuh uang saku saya. Namun, saya tak sungkan mencoba membaca buku baru dari dari perpustakaan atau dari teman yang beli. Dari sinilah saya tahu buku baru semisal serial Percy Jackson yang dikarang Rick Riordan dan buku-buku Dan Brown.

Fiksi Indonesia tidak banyak memuat kisah fantasi; tak ada rekomendasi tertentu dari Ibu saya tentang ini. Saya mencoba buku karangan penulis Indonesia hanya karena saya menyukai tulisan penulisnya di koran, semisal kolom Ayu Utami dan Goenawan Moehammad yang sering ada di koran nasional. Ketika ada teman yang menyukai tulisan Ayu Utami dan punya bukunya, dari sanalah saya tahu penulis lain yang saya tahu akan suka juga bukunya, misalnya Laksmi Pamuntjak dengan bukunya Amba yang berlatar peristiwa di tahun ’65. Amba menang Liberaturpreis di Jerman dan disebut sebagai karya internasional terbaik paruh tahun ke-dua yang telah diterjemahkan ke bahasa Jerman, menurut daftar sastra Weltempfaenger.

Saya sempat berpikir ketika saya menikah, saya tidak mengalami dukungan yang sama terhadap buku seperti yang saya alami dari ibu saya sehingga saya giat bekerja dan menabung dari sejak kuliah. Saya membeli buku saya sendiri baru setelah saya usai melakukan pekerjaan pertama saya mengajar anak SMA untuk mengikuti seleksi Olimpiade Sains Nasional. Tidak banyak buku baru yang saya beli ketika kuliah selain yang berkaitan dengan studi; dari sinilah saya mulai berkenalan dengan buku non-fiksi.

Ternyata, suami saya sekarang lebih boros dari saya tentang beli buku. Dia bahkan tidak sungkan memesan buku dari luar negeri jika di Indonesia tidak ada. Hadiah ulang tahun saya dari suami adalah buku. Saya juga jadi ikut membaca buku-buku yang dibaca suami dan memperlebar selera non-fiksi saya: sejarah dan sains. Justru suami yang membelikan saya buku non-fiksi pertama dan kedua saya, Penghancuran Buku: Dari Masa ke Masa yang ditulis Fernando Báez dan Dunia Hingga Kemarin yang ditulis Jared Diamond. Lumayan ekstrem untuk permulaan.

Saya menikmati pengalaman intelektual dan emosional yang saya dapatkan ketika membaca buku. Dengan membaca buku dari ragam penulis yang berbeda, kita menjadi terbuka dengan sudut pandang baru dan mudah belajar hal baru. Buku fiksi, terutama yang ditulis dengan sudut pandang orang pertama atau sudut pandang orang ketiga serba tahu, membuat kita mengerti jalan pikiran seorang manusia ketika menghadapi sebuah masalah dan melatih kita memahami orang lain.

Selain itu, saya mencintai buku karena didukung lingkungan yang juga mencintai buku. Saya selalu berduka cita setiap mendengar keluhan teman yang ingin beli buku tapi dibatasi orang tuanya.

“Kata orang tuaku, ‘buat apa buku banyak-banyak’, coba,” salah satu curahan hati seorang teman yang saya ingat ketika dia ingin beli serial Harry Potter yang terbaru sewaktu SMA.

Saya ingin berargumen bahwa membaca buku banyak manfaatnya untuk kita; bukan sekedar hobi yang tak dapat dipahami mereka yang tak memiliki hobi yang sama. Saya ingin memberitahu mereka bahwa uang tidak habis untuk beli buku, karena kekayaan materiil itu berpindah menjadi kekayaan intelektual ketika buku habis terbaca. Apalagi ketika kamu membaca buku yang sama untuk yang kedua kalinya, kadang kamu menemukan hal yang sebelumnya tak kamu temukan, tergantung kondisi hidup dan sudut pandangmu kala itu.

Namun entah sejak kapan, toko buku kita sekarang dipenuhi buku-buku yang… aneh. Pada waktu musim pemilu, toko buku penuh dengan buku biografi calon presiden, berisi kisah-kisah propagandis tentang tokoh-tokoh tersebut. Sekarang, mengumpulkan status Facebook dan Twitter bisa jadi buku. Buku-buku yang laris sekarang seputar tips sukses cepat instan menumpuk kekayaan materiil. Saya merasa “empati” dan “kekayaan intelektual” yang saya gaungkan ketika promosi buku tidak terlalu berlaku untuk buku-buku semacam ini. Kualitas buku sangat terlihat berbanding lurus dengan kualitas usaha yang dilakukan demi buku itu.

Buku-buku ini masih mengantarkan kita ke keragaman sudut pandang dan pemikiran, tentu. Keberadaan mereka tidak mengherankan. Lagipula, buku sudah dari sejak dahulu kala digunakan untuk memengaruhi pemikiran orang lain sehingga rezim pemerintahan tertentu sangat takut dengan beredarnya buku tentang ideologi tertentu yang bertentangan dengan ideologi pemerintahan yang berlangsung. Seperti saya yang kawatir dengan buku-buku macam itu, pemerintah Indonesia sekarang masih tidak nyaman dengan peredaran buku-buku dengan ideologi gerakan akar rumput.

Namun, mengutip istri Hokage pertama dan ibunda Naruto, pengaruh buruk dari sumber ilmu mana pun tidak akan mudah masuk ketika kita mengisi diri kita terlebih dahulu dengan cinta. Karena mentalitas cinta dan rasa suka yang dari awal Ibu saya ajarkan juga mungkin, saya menjadi mencintai buku.

Mau mulai membaca buku? Simak infografis berikut untuk lebih banyak motivasi.

 

Advertisements

One thought on “Bagaimana Saya Mencintai Buku

  1. Pingback: Bacaan Musim Kering | Cuma Ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s