Bacaan Musim Kering

Sebagai pecinta literasi, saya menyambut hangat budaya memiliki bacaan musim panas yang kerap dilakukan orang barat. Sayangnya Indonesia hanya punya musim basah dan musim kering sehingga saya menamai daftar rekomendasi saya “Bacaan Musim Kering”. Dalam artian lain, ini bacaan yang dapat dibaca ketika saya lagi “kering” ide dan “kering” proyek *uhuk*. Budaya barat menamai tren mereka “bacaan musim panas” karena di musim panas mereka berlibut dari pekerjaan mereka dan punya lebih banyak waktu luang untuk membaca. Daripada emosi baca news feed medsos dan nganggur lebih baik baca buku ‘kan?

Beberapa pekan lalu saat pertengahan musim semi, news feed Facebook saya banjir dengan tautan tentang rekomendasi buku bacaan dari sesama bibliophile. TED memiliki rekomendasi yang berasal dari pelajar untuk pelajar dan 50 buku yang direkomendasikan pembicara TED. Jika rekomendasi mereka dirasa terlalu “barat”, TED juga punya daftar buku-buku yang menjadi bacaan wajib pelajar di 28 negara termasuk Indonesia. Mereka yang sudah akrab dengan video-video TED akan tahu buku macam apa yang bisa diharapkan dari daftar-daftar tersebut. TED mengeluarkan rekomendasi semacam ini setiap tahun yang bisa dibaca ideas.ted.com. Situs ini ditampung dalam server WordPress jadi mereka yang punya WordPress bisa mengikuti situs ini untuk mendapatkan notifikasi langsung tulisan baru.

“Tidak pernah uangmu habis untuk beli buku!” adalah kata mutiara yang saya dengar dari Ibu sejak SMP dan terus saya pegang teguh sampai sekarang.

Karena itu, saya tidak pernah kesulitan menghabiskan uang untuk buku.

Yeah.

Setelah lama hanya membaca buku fiksi, saya mencoba menghabiskan dua tahun terakhir melahap bacaan nonfiksi. Berikut buku-buku non-fiksi yang banyak mengusik pikiran saya ketika saya membacanya, sekaligus memberi saya kebaruan sudut pandang lebih banyak dibanding buku-buku non-fiksi lain yang saya baca:

1. If The Oceans Were Ink, ditulis oleh Carla Power

Dalam upayanya mengubah cara barat memandang Islam, Carla Power berhasil juga mengubah cara pandang saya terhadap Islam. Buku ini merupakan hasil dialog antara Carla Power dengan Sheikh Mohammad Akram Nadwi, seorang ulama asal India yang mengajar di Oxford Centre of Islamic Studies. Membaca buku ini sama dengan membaca buku-buku fiksi yang selama ini saya baca karena format naratif dan nuansa dialog yang dibawakan Carla Power. Power sendiri seorang jurnalis yang memiliki spesialisasi dengan isu-isu Timur Tengah dan terus memerjuangkan narasi alternatif ketika menuliskan kisah tentang Islam di media-media barat.

Karena keilmuan Syekh Akram yang sangat luas berkat sejarah pembelajarannya di berbagai bahasa dan berbagai tempat, buku ini tak hanya memuat dialog tentang apa yang sudah saya tahu tentang Islam tapi juga lebih banyak lagi. Syekh Akram mengajarkan Power tentang Al Qur’an, konten, cara baca, dan sejarahnya juga pandangan beliau perempuan dalam Islam dan beberapa kisah Al Qur’an yang bertabrakan dengan kisah dalam Alkitab penganut ajaran Kristus. Dari semua hal baru yang saya pelajari dari Syekh Akram Nadwi, yang paling saya kagumi adalah kenyataan bahwa dahulu kala banyak sekali ulama perempuan dengan Aisyah binti Abu Bakar merupakan yang pertama. Namun, ulama-ulama perempuan ini tak banyak dibahas juga sedikit-banyak karena kebiasaan perempuan Islam sendiri untuk tidak menjadi terlalu menonjol kala itu. Banyak sekali ‘kan hadis riwayat Aisyah? Tak ada alasan bagi perempuan untuk tidak menuntut ilmu; istri Nabi adalah ulama perempuan paling diacu!

2. Destiny Disrupted, ditulis oleh Tamim Ansary

Karena The Lost Islamic History habis dan Sirah Nabawiyah hanya dijual di Indonesia, saya memutuskan mencoba mempelajari ulang sejarah Islam melalui buku Tamim Ansary, Destiny Disrupted: A History of The World Through Islamic Eyes. Mirip-mirip dengan Carla Power, motivasinya adalah berusaha memberikan narasi alternatif namun dengan fokus ada di sejarah peradaban. Di tengah banyaknya pengaruh Barat dalam literasi internasional, banyak yang masyarakat global tidak tahu tentang sejarah peradaban dari sudut pandang muslim. Ansary berupaya mengisi kekosongan sejarah Islam yang selalu dipandang barat “clash of civilizations“, padahal di mata peradabah Islam tidak demikian cara mereka memandang sejarah mereka. Buku ini menarik karena pengetahuan sejarah Ansary yang sangat luas dan upayanya untuk tidak terlalu mengglorifikasi sisi Muslim dengan literatur yang berimbang dari berbagai sisi.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah gaya bahasa Ansary yang kocak, membuat saya tidak merasa sedang membaca buku sejarah tapi buku novel. Sentuhan humornya dalam beberapa kejadian khas Amerika, mirip gaya menulis Rick Riordan dalam serial fiksi fantasi Heroes of Olympus atau Percy Jackson. Sentuhan personalnya terasa sekali ketika dia mengungkapkan kejengkelannya secara implisit kepada Mu’awiyah ketika kekhalifahan mulai terpecah pasca wafatnya Usman bin Affan. Tentang perang yang sempat berlangsung antara Mu’awiyah dan Ali, dia menulis,

“… The slaughter led to calls that both armies pull back and let the two leaders settle the dispute with hand-to-hand combat. Ali, who was fifty-eight years old but still a fearsome physical specimen, eagerly accepted the challenge. Mu’awiya, who was about the same age as Ali, but dissipated and fat, said no.”

3. Thank You for Being Late, ditulis oleh Thomas L. Friedman

Thomas L. Friedman adalah seorang kolumnis di New York Times yang banyak menulis tentang perkembangan peradaban abad ke-21. Dalam Thank You for Being Late, dia merefleksikan bagaimana roda penggerak dunia tiba-tiba bergerak sangat cepat: kemajuan teknologi, globalisasi, dan kepunahan massal. Tahun lalu bakteri dapat diubah menjadi baterai dan tahun ini bakteri bisa diubah menjadi rol film, kira-kira kapan flash disk kita nanti tidak berisi logam tapi jutaan sel bakteri? Sementara itu, dunia sedang berputar terhadap isu suku dan ras dengan ramainya Brexit dan terpilihnya presiden Amerika Serikat yang ingin membatasi imigrasi.

Masalah timbul ketika manusia tidak mengadaptasikan kode moralnya cukup baik terhadap teknologi yang makin kompleks. Pertanyaan mulai timbul tentang kemungkinan manusia ada dalam dunia simulasi semisal The Matrix dan apakah Tuhan ada dalam cyberspace. Thomas memberi kita banyak sudut pandang untuk dipikirkan; terlalu kaya untuk dirangkum dalam satu kalimat. Buku ini relatif tebal dibanding buku non-fiksi lain dengan jumlah sekitar 470 halaman; memang butuh wadah sebanyak itu untuk isu yang dia bahas.

4. Collapse, ditulis oleh Jared Diamond

Saya suka ketiga buku Jared Diamond tentang bagaimana peradaban bisa menjadi seperti sekarang: Guns, Germs, and Steel, Collapse, dan The World Until Yesterday. Saya sudah baca ketiganya; yang terakhir baru separuh jalan. Namun, Collapse adalah yang paling berkesan untuk saya. Dalam Collapse, Diamond terdengar lebih kontemplatif. Lepas dari kisahnya yang menurut saya terlalu Amerika-sentris, saya suka bagaimana dia selalu bisa memberikan kajian empirik melalui perbandingan-perbandingan dan bagaimana dia selalu mengakui kelemahan dari cara dia berargumen. Saya suka Collapse terutama karena di edisi kedua ada lebih banyak tentang bangsa-bangsa di Asia semisal Cina, Jepang, dan Kamboja.

Dia menceritakan bagaimana berbagai peradaban agung yang dulu pernah ada tidak bertahan hingga sekarang; mulai dari yang dipengaruhi lingkungan secara umum sampai yang dipengaruhi pula oleh tetangga dan gaya hidup peradaban. Dari semua itu, ia tak hanya mengisahkan kegagalan namun juga kesuksesan; kalau semua gagal mana ada manusia sekarang? Pada intinya [spoiler alert], saya merasa bahwa seluruh Collapse dirangkum dalam salah satu bagian dari satu ayat Al Qur’an, Ar Ra’du ayat 11, “… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. …”, dengan catatan terjemahannya tidak mengandung makna tambahan.

5. Evolution in Four Dimensions, ditulis oleh Eva Jablonka dan Marion J. Lamb

Sebagai mahasiswa jurusan Evolusi, Ekologi, dan Sistematik, mengikuti perkembangan terbaru seputar teori evolusi merupakan bacaan wajib. Kebetulan ada teman yang membawa buku ini ke kampus ketika kuliah sedang ramai membahas epigenetik, mekanisme pengaturan ekspresi gen yang diturunkan. Dalam teori evolusi sekarang, mayoritas menganut paham bahwa segala kelakuan dan karakter makhluk hidup diatur gen. Selesai. Jablonka dan Lamb berusaha mengatakan bahwa ada lebih dari sekedar DNA dalam mekanisme pewarisan sifat. Mereka berargumen bahwa evolusi tidak hanya diatur variasi dalam gen, melainkan juga perilaku, epigenetik, dan simbolik. Buku ini sudah dicetak dua kali, yang terakhir (revised edition) menambahkan lebih banyak contoh empirik terbaru dari argumen mereka.

Mereka menggunakan bahasa berkisah yang enak dibaca, sebelas-dua belas dengan Jared Diamond. Analogi dan cara berdialektika dengan tokoh devil’s advocate dalam buku ini juga membuat buku ini menguras otak dengan cara yang menyenangkan. Saya baru tahu banyak tentang perkembangan teori evolusi sekarang; Darwinisme yang sekarang tidak sama dengan yang dulu. Kajian mereka yang lengkap dan penuh pertimbangan membuat buku ini layak dikoleksi untuk referensi mendatang. Apalagi, saat ini saintis sedang berusaha memasukkan penemuan-penemuan empirik terbaru untuk memperbarui teori evolusi.

Saya sempat berpikir bahwa interaksi antara empat dimensi yang disebutkan Jablonka dan Lamb bisa diulik untuk mengarah ke irreducible complexity yang menjadi bahasan Intelligent Design. Siapa tahu? Untuk perkembangan kajian saintifik, saya suka mengikuti segala teori yang ada alih-alih membatasi diri dengan satu dogma saja. Menarik melihat mereka saling melengkapi satu sama lain ketika memungkinkan. Untuk yang tertarik tentang bahasan saintifik lain yang mengkritisi teori evolusi yang ada sekarang, bisa coba baca Darwin’s Black Box yang ditulis Michael Behe. Kritik terhadap buku ini berimbang karena dia berhasil memberikan argumen yang valid tentang kelemahan teori evolusi. Dia membahas betapa sulitnya memberikan penjelasan Darwinian untuk menjelaskan permulaan metabolisme seluler yang kompleks, semisal pembekuan darah.


Dari sekian banyak buku yang saya baca, saya sesali bahwa belum ada buku non-fiksi yang saya baca dari penulis Indonesia selain buku diktat kuliah dosen dan Ibu saya. Tampaknya ilmiah populer bukan genre yang terlalu menarik untuk pembaca Indonesia saat ini; waktu saya tanya teman-teman Facebook di status, kebanyakan rekomendasi berkisar di ilmu sosial dan sejarah. Mungkin karena penulis ilmiah populer Indonesia juga nyaris tak ada. Namun, saya yakin ini lebih karena minat saya ke dunia non-fiksi yang cenderung baru sehingga tak banyak tau tentang literasi ilmiah populer Indonesia sekarang.

Saya tidak banyak bermain di Goodreads karena tidak nyaman dengan desain medianya. Jika ada yang punya rekomendasi non-fiksi yang saya lewatkan, jangan ragu untuk mengabari!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s