Ada Apa dengan Perhimpunan Pelajar Kita?

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan teman saya yang kecewa dengan Simposium Internasional PPI Dunia tahun ini. Dia mengecewakan kondisi simposium yang tidak kondusif dan kurang luaran jelas. Tulisannya sempat viral di kalangan pelajar Indonesia luar negeri beberapa hari belakangan dan menambah ramai sentimen negatif beberapa golongan terhadap pelajar Indonesia yang berkuliah ke luar negeri dengan uang beasiswa. Kegiatan dalam tulisan ini diklarifikasi oleh PPI UK sebagai tuan rumah kegiatan tersebut; mereka tidak bertanggung jawab terhadap kelakuan delegasi ketika simposium. Seakan itu tak cukup, PPI Belanda turut menyatakan sikap dengan menarik diri dari keanggotaan PPI Dunia hingga tuntutan mereka terpenuhi. Ada apa ini?

Sebelum PPI Belanda, PPI Jerman, dan PPI UK walk out dari simposium internasional PPI Dunia, saya sudah lama walk out dari kegiatan keorganisasian semacam ini. Sebagian besar hidup saya tidak saya habiskan sebagai anggota aktif di organisasi kemahasiswaan atau kesiswaan dalam semua institusi pendidikan yang saya ikuti. Himpunan mahasiswa, OSIS, Perkumpulan Pelajar, sebutlah. CV saya tidak banyak berisi pengalaman keorganisasian. Karena itu, mungkin saya bisa sedikit bicara tentang mengapa seorang anggota memutuskan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam sebuah organisasi.

Mengapa Pelajar Butuh Berorganisasi

Saya sesungguhnya menyesalkan kepasifan saya dalam banyak organisasi kesiswaan dan kemahasiswaan selama saya menjadi pelajar. Akademisi sering mengalami masalah karena kemampuan manajerial mereka yang rendah: mampu menemukan sesuatu, tak mampu memasarkannya. Ketidakmampuan akademisi untuk mengomunikasikan hasil penelitian mereka kepada masyarakat juga berujung kepada jurnalisme-jurnalisme setengah matang yang berakibat salah paham. Karena itu, tak heran kalau dosen wali saya terus menyuruh saya aktif di organisasi kemahasiswaan dan LPDP selaku sponsor S2 saya terus mengompori awardeenya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan berorganisasi: selain sains, kita butuh belajar juga tentang cara berinteraksi dengan sesama manusia.

Kita semua boleh mengaku tidak suka politik, namun kita perlu mengakui bahwa kita melakukannya tanpa sadar dalam kehidupan sosial kita. Dalam kelas, rukun tetangga, maupun kelompok pengajian, mau tak mau kita perlu mengakui ada “politik” yang dimainkan. Bagaimana caranya supaya saya bisa ikut ini dan itu, mengadakan program ini dan itu? Kapan saya boleh bilang begini atau begitu? Setiap kata dan tindakan mengandung konsekuensi untuk diri kita ke depan. Ada tokoh dan suasana yang harus diidentifikasi untuk mendapatkan apa yang penting bagi kita. Jadi, ketika saya gagal memahami “politik” ini, saya memutuskan untuk tidak bergabung dalam suatu organisasi.

Kecerdasaan interpersonal minim dan tidak suka berorganisasi mungkin alasan yang valid untuk tidak aktif. Saya merasa tuntutan untuk aktif di kegiatan keorganisasian cukup berat bagi saya. Saya sering berlindung di balik alasan “bukan tipe aktivis” atau “introvert” (tidak nyaman terlalu banyak berinteraksi dengan banyak jenis manusia)… sampai saya menyadari bahwa saya sesungguhnya aktif di organisasi-organisasi tertentu.

Menemukan Panggilan dan Memahami Sistem

Ketika saya memutuskan untuk lebih aktif di sebuah organisasi semasa S1, saya menyadari bahwa di organisasi tersebut ada kegiatan yang saya suka dan saya cukup ahli di sana relatif terhadap anggota lain. Saya membantu menyusun AD/ART organisasi yang saya ikuti, yang selama ini ternyata belum ada. Saya membantu melatih anggota baru, yang ternyata saya nikmati prosesnya lepas dari segala hiruk-pikuk di belakangnya. Saya mengeksplorasi diri saya dengan hal-hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya dan saya menikmati itu.

Lepas dari sekelumit keaktifan saya dalam kegiatan organisasi selama mahasiswa, saya masih lebih memilih membaca buku-buku kuliah dan mengerjakan sesuatu terkait keilmuan saya ketika saya masih S1. Kala itu saya berpikir, mungkin saya sekedar tidak cocok dengan sistem yang ada. Saya baru menikmati menjadi anggota organisasi ketika saya sudah lebih punya “kuasa” terhadap apa yang bisa saya lakukan: komunikasi lebih enak dengan yang bertanggung jawab atau tahu lebih banyak tentang sistem.

Saya kira saya akan lebih aktif dengan perkumpulan pelajar setempat ketika saya melanjutkan studi S2 di Jerman, namun ternyata tidak. Entah saya merasa kurang cocok dengan atmosfer anggota yang ada, entah saya terlalu fokus kepada studi yang memang makin sulit. Namun, saya menyadari bahwa saya masih bisa sedikit aktif di komunitas pengajian di kota saya studi. Saya juga mencoba membantu teman sejurusan ketika kuliah menyelesaikan masalah seputar keuangan jurusan saya. Himpunan kemahasiswaan di Jerman kuasanya besar sekali; mereka bisa menentukan anggaran fakultas macam apa yang mereka anggap layak disetujui. Berbeda dengan kebutuhan aktualisasi diri sebelumnya, kali ini saya berkegiatan karena merasa apa yang saya lakukan bermanfaat bagi orang lain.

Meminjam skema dari TED, menurut saya ada tiga hal yang membuat seseorang mau aktif dalam suatu perkumpulan atau organisasi: ahli dalam suatu hal yang menjadi visi misi organisasi, merasa dibutuhkan dan diapresiasi ketika melakukan hal tersebut, dan hal ini bermanfaat bagi orang lain ketika dilakukan.

Hasil gambar untuk your calling diagram

Mungkin hal-hal ini sepintas terdengar sebagai sesuatu yang nyaman. Ironisnya, saya menemukan tiga hal ini justru ketika saya keluar dari zona nyaman saya. Saya mencoba mengambil tanggung jawab lebih banyak, saya mencoba melakukan hal lain yang saya belum pernah lakukan, dan lain-lain. Bahkan sampai sekarang, ketiga lingkaran ini masih terus berubah ukuran dan posisi untuk saya karena saya terus mencoba mengeksplorasi hal baru.

Selain menemukan panggilan, saya hanya aktif ketika saya memahami sistem yang berlangsung. Memahami sistem ini dalam tiga lingkaran tersebut dapat dimasukkan ke dalam “merasa diapresiasi” (feeling appreciated) karena mampu terlibat sampai merasa diapresiasi merupakan bagian dari memahami sistem.

PPI Dunia: Cermin Negeri?

Bisa jadi, ketika ketiga PPI memutuskan untuk walk out, mereka tidak merasakan ketiga lingkaran itu dalam simposium internasional. Hemat saya, lebih ke lingkaran “bermanfaat bagi orang lain”. Ini saya ambil dari poin kelima pernyataan sikap PPI Belanda: “…kami juga beranggapan bahwa dana yang dikeluarkan dalam pelaksanaan simposium-simposium PPI Dunia setiap tahunnya tidak sebanding dengan output yang dihasilkan dari simposium-simposium tersebut. Contoh nyata adalah, perumusan rencana aksi yang dilakukan hanya dalam waktu kurang dari 30 menit pada saat Sidang Internasional 2017.” Poin-poin lain juga menunjukkan betapa PPI Belanda tidak menerima sistem yang berlangsung dalam simposium tersebut.

Hal semacam ini tidak asing saya amati selama berada dalam organisasi kemahasiswaan selama S1: anggota tidak puas dengan sistem dan memilih tidak aktif. Terdengar familier?

Ya, Indonesia juga seperti itu ketika ada golongan masyarakat yang memutuskan untuk tidak membayar pajak, ogah taat aturan, dan paling puncaknya: pindah kewarganegaraan jika punya uang, anarkis jika tidak. Ada yang bertindak sejauh ingin mengganti ideologi negara. Seperti halnya PPI Dunia tidak berhasil mengakomodir PPI Belanda, dan himpunan kemahasiswaan tidak mampu memenuhi kebutuhan aktualisasi diri anggotanya, Indonesia tidak berhasil mengakomodir kebutuhan rakyatnya yang ingin merasa diapresiasi dan bermanfaat. WNA baru ini kemudian memilih tinggal dan berkarir di negara lain yang mampu mempertemukan ketiga lingkaran panggilan diri tersebut.

Saya tak pernah aktif di PPI Dunia atau bahkan PPI kota saya sendiri selama berkuliah di Jerman, namun saya tidak jarang mendengar curahan hati “sesepuh” tentang kondisi organisasi-organisasi pelajar Indonesia yang cenderung status quo.  Mungkin ada masalah yang lebih kompleks dari sekedar menemukan panggilan dan memahami sistem dalam banyak kasus. Mungkin ada budaya yang sulit berubah.

Saya sendiri tidak banyak tahu menahu perihal PPI Dunia sampai ketika saya sendiri berada di luar negeri pada pertengahan 2015. Itu pun saya baru mengenal PPI Dunia sekitar akhir 2016 ketika muncul isu “bully” terhadap Billy Mambrasar Tim Kajian Papua PPI Dunia. Billy Mambrasar merasa bahwa anggota PPI Dunia dalam tim kajian tersebut merundung dirinya dan menolak memerhatikan masukan dari dirinya sebagai anak Papua. Tulisan Billy Mambrasar sudah lenyap, namun bekasnya masih ada tercetak dalam pernyataan sikap PPI Dunia dan pernyataan sikap salah satu anggota kajian. Lebih dari itu, tidak banyak dokumentasi berita nasional tentang PPI Dunia. Hasil pencarian lewat Google hanya mendapati tulisan dari blog (kayak saya ini hahaha) dan tulisan dari situs web resmi PPI. Setelah menelusuri sedikit, tahun 2015, PPI Swedia memuat tulisan yang mengritisi butir rekomendasi simposium internasional tahun itu dan tarik ulur pemilihan koordinator PPI Dunia yang terjadi. Setelah simposium tahun 2016 berlangsung tanpa “isu”, dinamika yang terjadi tahun 2017 mungkin masih bisa dianggap wajar. Apa yang sekarang sedang terjadi dengan perhimpunan pelajar kita di luar sana menurut saya hanya bagian dari dinamika berorganisasi, mungkin bagian dari usia PPI Dunia yang masih sangat muda dan turnover anggota yang cepat karena berisi pelajar.

Dinamika dan gangguan seperti yang terjadi sekarang penting untuk membuat organisasi lebih matang. Berada di luar negeri tak semata membuat seorang pelajar lebih dari pelajar lain; penyelesaian masalah berkisar kepada pengalaman. Dengan kondisi negeri yang semakin kompleks, kita perlu maklum jika banyak diaspora Indonesia yang makin gelisah. Menurut saya, jika perhimpunan kita masih ingin memperkuat posisi diri dalam wacana pembangunan Indonesia, mereka perlu meragamkan anggota mereka dengan membuat anggota mereka merasakan terutama dua dari tiga faktor panggilan itu: merasa diapresiasi dan merasa bermanfaat bagi orang lain.

Kasus semacam ini juga penting untuk menjadi ajang refleksi para pelajar Indonesia semua yang sedang berdiaspora: apa sesungguhnya tujuan kita berkuliah di luar negeri dan masih berhimpun dengan sesama pelajar Indonesia?

Atau lebih dalam lagi, mengapa kita ingin ke luar negeri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s