Memahami Evolusi Manusia Melalui Ukuran Jaket

Sebagai seorang istri yang sangat ketat dalam anggaran, saya tentu saja menanggapi keinginan suami akan jaket lapangan dan celana lapangan dengan mencari (sebisa saya) tempat di mana barang-barang itu dijual dengan harga semurah-murahnya. Di Jerman, tidak mudah mencari yang demikian di luar portal daring. Pasar barang bekas juga tidak selalu memiliki kedua jenis barang tersebut. Seakan tingkat kesulitan mencari barang yang sesuai anggaran belum cukup, tantangan berikutnya adalah mencari celana dan jaket dengan ukuran yang sesuai dengan badan-tipikal-Asia suami saya di antara ukuran-ukuran raksasa yang didiskon. Ketika saya sibuk mencari-cari konversi ukuran celana dan jaket Eropa ke Asia, saya menyadari hal yang menarik: betapa besarnya interval ukuran tubuh spesies yang kita kenal dengan nama Homo sapiens.

Kebesaran interval tentu relatif terhadap spesies lain. Jika di Eropa ukuran jaket untuk pria dewasa didasarkan kepada lingkar dada dan pinggang, penentuan satu spesies codot di Indonesia didasarkan kepada panjang lengan depan (fore arm) yang umumnya 57-63 mm (Cynopterus brachyotis). Bayangkan interval tersebut untuk satu spesies codot, sementara untuk seluruh manusia yang dianggap satu spesies (Homo sapiens), lingkar dada saja bisa berkisar dari 76-125 cm (dari XXS sampai XXL)! Jika menggunakan sudut pandang codot buah, laki-laki Indonesia usia 20an ke atas (n = 5) yang memiliki lingkar dada rata-rata 85 cm bisa dianggap spesies yang berbeda dari laki-laki Eropa pada rentang usia yang sama (n = 3) dengan lingkar dada rata-rata 105 cm. Ketika menemukan tengkorak manusia, bagaimana kamu menentukan itu masih satu spesies atau bukan? Ini belum lagi mempertimbangkan usia dan penyakit.

Image result for europe jacket size
Salah satu contoh konversi ukuran jaket Eropa ke ukuran internasional dalam inci. Karena satu inci sama dengan 2,54 cm, maka 30″ dalam tabel sama dengan 76,2 cm; rata-rata orang Indonesia di Eropa membeli jaket ukuran S atau M.

Isu ini juga dibawa oleh salah satu profesor antropologi LMU ketika membawakan salah satu kuliahnya yang saya ikuti. Menentukan spesies berdasarkan morfologi itu absurd.  Manusia memiliki morfologi yang sangat bervariasi. Dalam kaitannya dengan studi bukti-bukti evolusi, sulit menentukan apakah kita berbeda dari manusia purba lain hanya dari ukuran tengkorak dengan rentang variasi morfologi setinggi itu. Dengan kemajuan teknologi saat ini, peneliti lebih suka menentukan perbedaan spesies dari komposisi genetiknya. Namun, berdasarkan komposisi genetik, Homo sapiens tidak seberbeda itu dari manusia-manusia purba yang paling berkerabat dengan mereka, Denisovan dan Neanderthal. Beberapa sekuen DNA Neanderthal dan Denisovan ternyata juga dimiliki Homo sapiens pada era ini dan bermanfaat bagi adaptasi manusia terhadap lingkungan. Ketika hingga level molekuler seperti itu saja kita masih menemukan kesamaan dengan manusia purba yang dianggap berbeda spesies, bagaimana dengan sesama manusia yang berbeda suku, ras, etnis, dan agama masa kini?

Perbedaan dan kesamaan yang kita lihat antara satu entitas dengan yang lain, entah itu ras, etnis, atau spesies manusia purba, tak lain dan tak bukan adalah ilusi tentang kenyataan yang diberikan oleh otak kita. Memahami sesuatu sebagai kumpulan dari koneksi adalah sulit sehingga kita cenderung mengelompokkan dan mereduksi sesuatu ke unit-unit paling sederhana yang bisa kita pahami. Unit-unit ini, pada akhirnya lebih kompleks dari yang kita kira, tidak sesederhana yang kita bayangkan sebelumnya karena memiliki keterkaitan dengan unit lain. Pada akhirnya, unit-unit sederhana ini menjadi unit-kompleks-paling-sederhana. Tetap kompleks.

Konsep spesies dan pemisahan identitas hanyalah cara mudah memahami fenomena biologis dengan mereduksi bagian-bagian alam menjadi unit kompleks paling sederhana. Menglasifikasikan kelompok manusia kemudian juga menjadi sebuah upaya untuk memahami bagaimana dinamika sosial-politik-ekonomi dari suatu masyarakat/bangsa terjadi pada masa kini. Pengelompokan ini bermanfaat per se untuk memahami sesama manusia. Memahami mengapa kita berbeda dan apa yang dapat dilakukan mengenai perbedaan ini.

Namun, di tengah ideologi pecah-belah yang makin marak di tanahair, konsep penglasifikasian ini kehilangan manfaatnya dan dianggap lebih banyak keburukannya. Setiap perbedaan digunakan untuk menjustifikasi tindakan pembelaan diri dan prasangka buruk. Orang dipaksa memilih antara dua dikotomi yang keliru; jika kamu tidak setuju dengan saya, maka kamu pasti setuju dengan mereka. Kamu tidak mau dianggap munafik? Jangan bersikap seperti orang-orang yang kami anggap munafik. Konyol sekali.

Belanja jaket dan celana untuk suami saya di antara ukuran Eropa ini sebuah contoh ketika kita tidak bisa memaksakan keragaman manusia untuk menjadi homogen. Saya tak mungkin memaksakan ukuran badan Eropa untuk suami saya; walau bisa dikecilkan/dibesarkan, pada akhirnya ia dikecilkan/dibesarkan. Bisa dipakai, namun tetap harus disesuaikan. Selalu lebih nyaman memakai celana dan jaket dalam ukuran yang sesuai dan tidak memaksakan diri memakai ukuran yang tidak sesuai.

Lalu, jika kita bisa menerima manusia berbeda ukuran jaket dan celana, harusnya kita juga bisa menerima bahwa manusia saling berbeda untuk hal yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s