Bagaimana Cara Memulai Menulis Skripsi, Tesis, dan Apa Pun

Sudah dua kali berturut-turut saya menjalani dunia akademik yang membutuhkan pelaporan proyek di akhir studi: S1 dan S2. Dua kali berturut-turut juga saya mengalami masalah dengan penulisan laporannya: harus mulai dari mana?

Ketika saya menulis skripsi, saya dengan mudah mengikuti petunjuk yang dulu ada sejak dikuliahi penulisan teks akademik, academic writing, dan teknik komunikasi ilmiah. Ketiga kuliah ini berprogres seiring waktu, mulai dari sekedar mementingkan pakem ejaan dan format resmi karya tulis ilmiah (Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka, dst.) sampai dengan memoles teknik menyampaikan sebuah argumen. Karena memang saya suka membaca dan menulis, ditambah kuliah gratis tentang menulis dari ibu sendiri yang notabene dosen, proses menulis skripsi tidak terlalu susah. Saya masukkan saja semua yang saya tahu di Tinjauan Pustaka, berusaha membela alasan meneliti di Pendahuluan, menjabarkan apa yang saya lakukan di Metode, lalu mencerocos di Hasil dan Pembahasan. Simpulan tinggal menjawab poin-poin tujuan di Pendahuluan.

Saya sesungguhnya tak terlalu suka skripsi yang saya tulis kala itu. Saya merasa kurang berkontribusi ke keilmuan yang sedang saya pelajari dan melakukan sesuatu hanya karena itu tampak keren. Ibu saya kemudian mengatakan bahwa S1 memang hanya belajar meneliti; S2 baru kamu melakukan penelitian dan S3 kamu melakukan sesuatu yang baru. Karena itu, saya membiarkan skripsi saya seperti itu. Dosen pembimbing saya yang suka saya tengkari kala itu tentang filosofi penelitian saya juga tidak banyak memberikan koreksi krusial. Untuk standar S1, tampaknya saya sudah cukup memuaskan sistem yang berlangsung di jurusan dan fakultas saya. Namun saya sendiri kurang puas.

Lalu saya mengenyam S2 di Jerman, tepatnya di Ludwig-Maximilians-Universität München.

Ada yang menarik dengan budaya menulis laporan akhir studi sarjana di Jerman. Skripsi dan tesis sama-sama disebut “thesis” sementara hanya studi doktoral yang berbeda dengan menyebut laporan akhirnya “dissertation“. Kita dapat belajar budaya dari bahasa dan usut punya usut, perbedaan penyebutan ini yang membuat tradisi menulis di Indonesia berbeda dengan di Jerman. Dari kata “thesis” ini, mahasiswa diharapkan untuk membuat tesis dari penelitiannya atau pernyataan inti tentang apa hal baru yang dia temukan dari penelitiannya. Dengan demikian, akan mudah untuk menulis sebuah artikel sebagai satu unit yang kohesif.

Kurikulum tentang cara menulis sebuah karya ilmiah sesungguhnya sudah dirancang dengan baik oleh perguruan tinggi tempat saya mengenyam S1 dulu: kuasai detil tentang cara menulis lalu mulai pikirkan tulisan kita sebagai sebuah cerita. Namun, saya merasa kurang berhasil menuliskan skripsi saya sebagai sebuah cerita karena mungkin dosen pembimbing saya kala itu tidak fokus ke sana. Meskipun demikian, beliau menyuruh saya menulis ulang skripsi saya dalam bentuk artikel ilmiah yang bisa dipublikasikan di jurnal internasional. Penolakan pertama saya sudah terjadi dan mungkin hal ini terjadi karena beberapa hal yang tidak saya pahami untuk menulis artikel ilmiah dengan baik.

skrptes
Skripsi dan tesis saya berdampingan. Perlu diketahui bahwa format sampul tesis di sini tidak baku; yang penting ada judul, nama penulis, nama laporan dan identitas fakultas dan staf TU akan senang.

 

Sekarang, setelah mengalami dua kali menulis teks akademik, saya mulai memahami apa yang membuat memulai menulis lebih mudah.

Mulai dengan pertanyaan

Penelitian umumnya berupaya menemukan sesuatu entah itu menguji hipotesis tertentu atau mengeksplorasi kemungkinan. Saat ini, Ekologi dan Evolusi yang mulai dipahami sebagai disiplin yang memuat multicausality (satu fenomena disebabkan oleh banyak hal yang saling berkaitan), menguji hipotesis tak lagi menjadi satu-satunya cara meneliti/membingkai jalan cerita penelitian. Eksplorasi seluruh data hingga ke pencilan-pencilannya merupakan penelitian tersendiri, terutama jika memang tak ada data lain tentang hal yang ingin dieksplor. Jangan memaksa diri untuk menulis pengujian hipotesis; ketika hipotesis yang ditulis tidak dapat difalsifikasi/diuji, hilang kita dibantai para profesor!

Mulai dengan pernyataan

Ini adalah aliran lain dalam menulis tulisan ilmiah. Jika sebelumnya (dan yang lebih umum) adalah menemukan pertanyaan, menemukan pernyataan atau sebuah tesis dalam penelitianmu juga merupakan cara mudah memulai tulisan: apa yang akan kamu katakan jika kamu harus menulis penelitianmu dalam satu kalimat? Setelah itu jelaskan bagaimana tepatnya kamu melakukan itu, mengapa itu penting, dan apa dampak dari hasil yang kamu temukan.

Mulai dari artikel kecil untuk mendapatkan struktur

Tulisan awal ini tidak harus langsung seluruh tesis; bisa artikel kecil yang mengenalkan tentang penelitian kita. Mengemas ringkas penelitian kita dalam bahasa yang umum dan mudah dimengerti akan memudahkan kita mendapatkan struktur yang diperlukan. Selain itu, tulisan perlu dibuat seolah sedang menulis cerita fiksi; pikirkan alur dan karakter. Subjek penelitian harus dikenalkan dengan konsisten dan diceritakan dengan bertahap.

Segera tulis!

Menulis membantu kita menata pikiran. Jangan terlalu lama dipikir akan ditulis seperti apa; tulis! Menulis mengaktifkan otak kita dan membantu kita mengonkritkan gagasan yang selama ini berkabut di kepala. Ketika kita menulis, jutaan sinaps menyala sembari berusaha menghubungkan segala informasi yang kita punya terkait topik yang sedang ingin kita tulis. Inspirasi akan datang bersama proses menulis.

Menulis dan menyebarkan hasil penelitian juga menjadi salah satu alasan kemajuan penelitian suatu kelompok. Dengan tulisan, lebih mudah untuk mengomunikasikan metode baru yang kita temukan atau hasil penelitian yang kita dapatkan dan mendapatkan masukan dari rekan peneliti atau masyarakat awam. Lalu, suatu topik penelitian akan berkembang makin pesat seiring berjalannya diskursus.

***

Ada hal-hal lain juga yang mungkin akan mendorong “memulai” menulis lebih mudah semisal perasaan kompetitif melihat kawan lain sudah pada lulus (#uhuk) atau malah sudah publikasi, tenggat waktu yang makin dekat, atau kerewelan rekan sejawat karena ia ingin segera punya poin publikasi. Mungkin juga alasan yang lebih besar semisal menyebarkan ilmu yang bermanfaat atau mendokumentasikan proses mencari ilmu. Ambil saja alasan memulai yang paling produktif dan segera menulis.


Untuk yang tertarik dengan sumber-sumber tentang tips menulis, bisa cek beberapa tautan menarik berikut:

Curzan, Anne. 2017. “Why I Don’t Ask Students to Write the Thesis Statement First“. The Chronicle of Higher Education.

McGill, Brian, 2012. “Some well-known tricks for clear writing” Dynamic Ecology.

McGill, Brian. 2014. “How to write a great journal article – act like a fiction author” Dynamic Ecology.

McGill, Brian. 2016. “The 5 pivotal paragraphs in a paper“. Dynamic Ecology.

Sila tambahkan di komentar jika ada yang punya tambahan ilmu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s