Tidak Setuju Itu (Kadang) Penting

Saya suka mengaji banyak isu di media sosial. Kadang banyak orang setuju, kadang banyak yang tidak setuju. Jika ada yang tidak setuju terhadap sesuatu, umumnya ia akan berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia benar dengan mempertanyakan pendapat saya. Hal ini bisa berujung ke dua hal: debat kusir atau diskusi. Yang terakhir hanya bisa dicapai jika keduanya punya semangat yang sama untuk mencapai kebenaran; ini bisa terlihat dari bahasa dan konten diskusi.

Lepas dari ketidaknyamanan yang saya rasakan ketika ada yang tidak setuju dengan saya, saya mensyukuri setiap perbedaan pendapat yang pernah mampir. Satu yang paling kaya bahkan sukses menjadi tulisan di blog ini.

Pentingnya Menjadi “Destruktif”

Selama saya kuliah, ada beberapa orang di kampus saya yang terkenal selalu memiliki pendapat yang berlawanan dari orang pada umumnya. Walau terkadang cara mereka berpikir membuat sebagian besar orang tidak nyaman, mereka adalah orang-orang yang sering dimintai pendapat tentang isu-isu penting seputar organisasi, pekerjaan, proyek, gagasan, atau hal-hal lain yang mereka tidak sepakati. Orang-orang semacam ini penting: mereka membantu membangun pemikiran baru.

Saya mendiskusikan hal ini dengan suami ketika melihat teka-teki kopi yang diulas situs ifuckinglovescience.com. Dalam teka-teki itu, ditanyakan mana bejana yang lebih dulu terisi penuh.

Untuk mereka yang belajar sifat air, akan mudah menjawab bahwa yang lebih dulu terisi adalah cangkir nomor 4 dengan asumsi bahwa seluruh pipa penyalur berdiameter sama. Namun, jika melihat ulasan yang ditulis ifuckinglovescience.com, mungkin akan banyak yang heran mengapa banyak yang begitu kesulitan. Mungkin juga tidak. Yang ingin saya tekankan adalah, ada orang-orang yang berpikir dengan cara yang begitu berbeda di luar sana sehingga apa yang bagi kita begitu alami tampak supernatural. Sama seperti kamu tidak bisa menertawakan orang yang bicara Inggris patah-patah, kamu tak bisa juga meremehkan mereka yang kesulitan mengerjakan teka-teki ini. Mereka ahli di hal yang lain. Ini menurut saya berlaku untuk segala hal.

Dengan mengritisi celah argumen dan melihat suatu hal dengan cara yang berbeda, mereka menghancurkan bangunan argumen yang ada sehingga bangunan ini dapat dibangun dengan lebih kuat.

Hal ini telah banyak terjadi dalam sains. Meminjam sebuah paragraf dalam tulisan Raphael Scholl tentang bagaimana menemukan pikiran baru, sains berkutat dalam dua hal: (1) bagaimana kita bisa tahu bahwa suatu hipotesis mungkin benar (“pembenaran”) dan (2) bagaimana kita bisa mensintesis suatu hipotesis untuk “dibenarkan” (“penemuan”). Dua hal ini sama-sama krusial; seseorang yang jago menguji hipotesis tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak ada yang diuji sementara hipotesis paling kreatif yang bisa kita buat tidak ada artinya kalau kita tidak bisa menguji kebenarannya.

Mendapatkan pemikiran baru untuk dijadikan hipotesis tidak mudah. Sebagian besar hipotesis yang ada di Ekologi berasal dari hipotesis yang sudah lama ada sebelumnya yang dikembangkan dalam konteks yang berbeda. Namun, kecenderungan para peneliti untuk setuju satu sama lain menyebabkan suatu asumsi begitu lama diterima sampai ketidakcocokan terhadap asumsi tersebut dibebankan kepada data. Hal ini terjadi dalam banyak hal: pengaruh fragmentasi habitat terhadap biodiversitas, teori biogeografi pulau, dan lain-lain

The most serious errors in science don’t arise from ignorance of what’s true, they arise from believing what’s false.
Jeremy Fox

Saya sejujurnya kaget mendapati hal-hal ini karena selama S1, mata kuliah selalu mengajarkan kita untuk percaya suatu konsep. Bahkan Pak Adi Pancoro, dosen Genetika di ITB, mengatakan bahwa DNA menjadi RNA menjadi protein adalah dogma, “Ingat itu, nanti kalau ditanya malaikat, katakan protein berasal dari RNA dan RNA berasal dari DNA.” Mungkin memang kurikulum sarjana bertujuan untuk menanamkan konsep-konsep dasar sementara kritis sekedar bonus, namun budaya berpikir kritis yang kurang diaplikasikan dalam lingkungan akademis perguruan tinggi kala saya masih kuliah lumayan membuat saya keteteran dalam banyak sesi diskusi dengan teman-teman di S2.

Menjadi kritis disebut juga menjadi devil’s advocate, pengacara setan. Mungkin tidak akan seganteng Keanu Reeves, tapi membangun argumen oposisi adalah sehat dalam sebuah diskusi ilmiah. Contoh kasus yang produktif di mana banyak saintis yang tidak saling setuju berdiskusi tentang hipotesis yang tepat untuk diuji muncul ketika Homo florensis ditemukan di Flores waktu silam, dan yang belakangan agak populer di kalangan kawan-kawan ekologi-evolusi adalah apakah kita sungguh punya spesies orang utan baru. (Baca kegalauan salah seorang penelitinya di sini dan respon lanjut media di sini jika kalian tertarik).

Tak Selamanya Berbeda Itu Indah

Saya akui, membangun pemikiran baru tidak selamanya berujung manis. Banyak gerakan-gerakan negatif berasal dari pemikiran baru semisal teori konspirasi dan “fakta alternatif”; mereka adalah upaya menjadi tidak setuju. Perbedaannya dalam konteks yang saya bawa adalah mereka sudah ada dalam konteks kebenarannya sendiri. Hal ini tidak semata ada dalam debat seputar agama dan politik. Sains juga tidak lepas dari dogma yang membuat orang tidak berhasil menerima perbedaan pendapat (Saya bersama Thomas Kuhn dalam hal ini).

Karena itu, saya menyesalkan teman-teman pendukung Teori Evolusi yang langsung tidak mau mendengarkan hipotesis apa pun dari pendukung Irreducible Complexity dengan langsung mengatakan “itu bukan hipotesis karena memang tidak ada”. Padahal sudut pandang dan cara pikir yang berbeda dari teori lawan ini bisa dipakai untuk memperkaya penemuan dalam evolusi. Peneliti yang malas langsung sekedar mengatakan bahwa teori ini tidak masuk akal; peneliti yang rajin akan langsung bersemangat mencari desain penelitian yang mematahkan teori lawan.

Namun, menjadi objektif itu melelahkan. Lebih mudah menjadi bias karena lebih sedikit informasi yang harus dicari dan dikonfirmasi. Jadi, aku tidak menyalahkan mereka yang bersikeras dengan pendapat mereka tentang Irreducible Complexity. Seperti halnya gambar berikut, orang berbeda pendapat masing-masing karena kurang informasi.

Salah satu dari mereka pasti ada yang salah; seseorang bermaksud menggambar angka 6 atau 9, tidak mungkin keduanya. Mereka perlu tambahan data dan mencari orientasi yang tepat, cari apakah ada angka lain yang sejajar dan dapat memberi informasi orientasi. Mungkin ada jalanan atau bangunan di sekitar situ yang mereka representasikan, atau mereka bisa tanya seseorang yang benar-benar tahu. (Sumber: https://imgur.com/gallery/OJkuk). 

Dan seperti yang gambar tersebut implikasikan, orang memiliki opini tanpa dukungan informasi tentang sesuatu yang dia tidak ketahui dan mengklaim opini mereka sama validnya dengan fakta adalah apa yang menghancurkan dunia. Ketika hal ini terjadi, artinya tidak ada yang benar-benar menginginkan kebenaran. Tidak ada yang ingin benar-benar tahu; mereka hanya ingin menjadi benar.

Manusiawi. Menjadi benar itu menyenangkan. Namun perdebatan yang tak sehat karena kurang data semacam itu bukanlah yang memajukan ilmu pengetahuan. Tak ada penemuan baru dari saling ngotot tentang apa yang benar. Akhirnya, kita harus kembali lagi ke tujuan awal adu argumentasi.

Hal lain yang menghalangi perkembangan penemuan baru adalah kelemahan komunikasi. Ketika seseorang gagal menyampaikan gagasan kontranya, orang akan cenderung tidak setuju. Hal ini juga terjadi dalam teori evolusi ketika Lamarck kalah dari Cuvier dalam hal publikasi gagasannya dan di masa kini ketika Mark Vellend gagal mempublikasikan sebuah artikel di Nature tentang biodiversitas global yang tidak menurun.

Sekali lagi, menjadi tidak setuju hanya bermanfaat jika dilakukan dengan semangat yang sama: mencari kebenaran. Hal ini tidak akan terjadi, tentu, kalau masing-masing merasa sudah mendapatkan kebenaran masing-masing. Meminjam paparan Gus Mus,

“Nabi itu bersabda, selama orang itu masih belajar, orang itu pandai. Ketika orang itu berhenti belajar karena merasa pandai, mulailah dia menjadi bodoh.”

Jadi, dengan tulisan ini, saya ingin mendukung teman-teman mengemukakan pendapatnya tentang suatu isu, seaneh apa pun itu. Tentu saja dengan cara yang beradab. Kecuali jika kamu ingin membuat orang lain kesal dan tidak mengejar kebenaran, seperti yang lebih mudah dilakukan kebanyakan orang di dunia maya.

Advertisements

One thought on “Tidak Setuju Itu (Kadang) Penting

  1. Pingback: LGBT dalam Evolusi Manusia – Cuma Ide

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s