Sudah Berhasilkah Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi?

Menurut ajaran agama saya, manusia diperintahkan Allah untuk menjadi khalifah di muka Bumi. Kata khalifah dalam bahasa Inggris satu ide dengan kata “representative” atau “successor”, yang punya konotasi “perwakilan”. Apa makna menjadi perwakilan Allah di Bumi? Banyak tafsir sepakat bahwa hal tersebut berarti kita ditugasi “mengurusi” Bumi dengan segala sumber dayanya, baik yang hidup maupun yang tidak. Dari sejak Nabi Adam alaihissalam diturunkan ke Bumi, apakah manusia sudah berhasil?

Alih-alih menuduh dan menunjuk sesama manusia, atau menyalahkan pemerintah yang korup, saya lebih ingin mengajak saudara-saudari seiman untuk berkaca terkait status khalifah manusia secara umum: “Apa yang sudah kamu lakukan?” Apakah kita sebagai manusia telah menjadi perwakilan yang baik? Apakah kita telah sungguh layak menjadi penerus? “Perwakilan Tuhan”? Ngetiknya saja saya merinding.

Belum pernah saya dengar khotbah tarawih atau Jumatan yang sungguh-sungguh menanyakan hal ini kepada para jamaah. Sementara itu, pertanyaan ini menggema di benak para pengamat alam di seluruh dunia. Para saintis menanyakan keberhasilan kita sebagai penduduk Bumi memberdayakan  ketika mereka membentuk Union of Concerned Scientists pada tahun 1992. Persis ketika saya lahir. Setelah 25 tahun, tentunya mereka ingin mengevaluasi apa yang sudah banyak berubah sejak peringatan pertama para saintis dilayangkan. Mari kita simak:

Tren isu lingkungan yang diidentifikasi pada tahun 1992 dalam peringatan saintis pertama terhadap kemanusiaan selama beberapa dekade terakhir. Tren sebelum 1992 ditunjukkan dengan garis abu-abu dan setelah 1992 ditunjukkan dengan garis hitam. Panel (a) menunjukkan emisi gas sumber halogen yang dapat menurunkan kadar ozon atmosfer, (b) sumber daya air tawar, (c) jumlah tangkapan ikan laut dalam megaton per tahun, (d) zona mati, (e) total luasan hutan, (f) kelimpahan spesies vertebrata, namun hanya sedikit data dari negara berkembang, (g) emisi salah satu gas rumah kaca, (h) perubahan temperatur, (i) ukuran populasi manusia dan hewan ternak. (Sumber: Ripple et al 2017, Bioscience)

Dengan tren yang begitu suram untuk banyak sumber daya, manusia mendapat peringatan kedua tahun ini dari Alliance of World Scientists (AWS), ditandatangani lebih dari 15.000 saintis dari seluruh belahan Bumi. Dengan membentuk manifesto dan petisi yang independen dari organisasi apapun, baik dari pemerintah maupun non-pemerintah, AWS berharap masyarakat mulai menanggapi serius tren sumber daya Bumi yang makin menurun dalam kualitas dan kuantitas karena laju pertumbuhan populasi manusia yang tak kunjung menurun.

Rangkuman dan evaluasi tren sumber daya selama beberapa dekade terakhir yang dibuat para inisiator AWS diharapkan dapat menyadarkan masyarakat untuk dapat lebih menekan pembuat kebijakan untuk mengambil langkah yang lebih serius. Berhenti mengangkat pejabat yang tidak kompeten dalam hal lingkungan dan memelihara hewan liar yang dilindungi peraturan perundangan, membuka analisis dampak mengenai lingkungan untuk setiap proyek pembangunan yang dilakukan pemerintah, mendukung kebijakan yang dapat mereduksi konsumsi berlebihan sumber daya dan masih banyak lagi.

Manusia butuh menggunakan sumber daya alam yang disediakan di Bumi dan selayaknya hal tersebut dilakukan dengan menyadari tanggung jawab kita merawat Bumi. Alam diberi kemampuan untuk kembali ke kondisi awal (resilience) dalam waktu tertentu; ketika hal ini dilanggar, alam akan mengalami kesulitan untuk memulihkan diri. Sebuah penelitian yang berupaya untuk mendeteksi kapasitas Bumi mendukung dampak penggunaan sumber daya alam di sembilan batas planet (planetary boundary) menunjukkan ada dua batas yang telah dilampaui manusia hingga saintis tidak dapat menyimpulkan risikonya: keanekaragaman genetik dan aliran nitrogen.

Status terkini untuk tujuh dari sembilan batas planet: derajat keasaman laut (ocean adification), muatan aerosol dalam atmosfer (atmospheric aerosol loading), penurunan kadar ozon stratosfer (stratospheric ozone depletion), emisi zat kimia artifisial (novel entities), perubahan iklim (climate change), keutuhan biodiversitas (biodiversity integrity), perubahan sistem lahan (land system change), dan penggunaan air tawar (freshwater use). Kondisi Bumi cukup genting dalam hal keanekaragaman genetik spesies dan aliran nitrogen. Nitrogen adalah unsur yang umum ada dalam pupuk buatan manusia. (Sumber: Steffen et al. 2015)

Padahal, Allah berfirman agar kita tidak berbuat kerusakan di muka Bumi setelah Allah memperbaikinya. Saya yakin ajakan untuk tidak melampaui batas tidak hanya berlaku untuk ajakan beragama melainkan juga batas-batas Bumi dalam mengatasi kelakuan manusia. “…Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampaui batas.” (Mohon koreksi saya jika saya salah paham).

 

Di tengah tren penurunan kualitas sumber daya Bumi, saintis sadar bahwa kita butuh terobosan ilmu, teknologi, dan sistem. Melihat tren pengurangan gas pemusnah ozon selama dua dekade terakhir, bukan tak mungkin kita mengembalikan kondisi Bumi yang kacau balau jika kita memang ingin berusaha. Hal ini tak lepas dari implementasi kebijakan terkait pengurangan CFC sebagai gas yang dapat mengurangi kadar ozon; dengan kata lain, peran aktif pemerintah. Selain itu, saat ini banyak beredat teknologi energi terbarukan terus bermunculan, skema donasi yang makin canggih dan efektif untuk mengatasi ketidakmerataan sumber daya, dan masyarakat mulai sadar untuk hidup dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Namun, dengan tren kerusakan yang tidak berubah, terobosan-terobosan ini tidak akan cukup jika perilaku dan mental masyarakat tidak berubah. Mubazir lah segala akses informasi berlimpah untuk mengikuti gunjingan terbaru semata. Tak ada guna peningkatan produksi pertanian jika separuh isi piring berakhir di tempat sampah. Tak mungkin pemerintah melakukan semuanya sendirian; tempat sampah berlimpah tak ada gunanya jika masyarakat mengabaikan mereka. Sudah waktunya kita melihat perintah Tuhan dalam lingkup yang lebih besar.

Jadi, sudah berhasilkah manusia saat ini sebagai khalifah di Bumi?

Menurut saya, kita masih jauh dari berhasil. Mungkin akan ada yang setuju dengan saya, ada yang tidak. Sains berada di tengah-tengah untuk memberikan pandangan berbasis data. Mungkin perumahan tempat tinggal kita sekarang tidak terasa semakin panas atau kota tempatmu tinggal tidak mengalami banjir gletser atau badai. Mungkin hutan dan laut tidak tampak mengeluhkan langsung apa yang tanpa sadar kita lakukan untuk mengganggu keseimbangan mereka. Karena itu, kita perlu melihat alam dengan skala yang lebih besar: apakah kita sungguh yakin ketika motor/mobil digas ke kantor/kampus kita tidak menyumbang gas rumah kaca yang menyebabkan Bumi makin panas dan banjir gletser di tempat lain? Yakinkah kita sampah plastik yang tak sengaja tertinggal di jalan tak ikut mengalir bersama sungai ketika hujan dan banjir sehingga menyekik seekor kura-kura di samudera terdekat? Apakah kita sungguh tidak sedang menzolimi generasi selanjutnya dengan meninggalkan Bumi yang lebih buruk untuk mereka?

Saya tidak percaya bahwa perintah menjadi khalifah di muka Bumi tidak termasuk bertanggung jawab terhadap tren-tren penurunan kualitas Bumi. Allah Mahabesar; rencanaNya tak mungkin sesempit ideologi politik semata. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar surga sehingga mengabaikan surga yang telah Allah berikan kepada kita di Bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s