LGBT dalam Evolusi Manusia (2)

Entah kenapa, isu ini tidak pernah berhenti jadi topik panas di internet atau perbincangan komunitas. Akibat memproklamirkan diri sebagai sarjana Biologi, saya tidak lepas dari banyak pertanyaan yang mungkin ada di benak pembaca sekalian ketika memutuskan mengklik judul ini: Apa sesungguhnya LGBT? Jika Tuhan melarang mereka, mengapa mereka diciptakan? Apakah LGBT karena gen atau karena lingkungan? Apakah mereka menular? Apakah keuntungan mereka secara evolusi? Apakah mereka alami?

Karena saya bukan ahli agama, saya tidak bisa menjanjikan apa pun dari pertanyaan seputar Tuhan. Saya hanya bisa meyakinkan teman-teman sekalian sejauh ini: LGBT adalah hasil karya alam (artinya hasil karya Tuhan juga) dan mereka memiliki tempat dalam evolusi makhluk hidup. Konsekuensi dari memahami keberadaan mereka akan berbeda bagi setiap orang, dan mungkin paling menguntungkan bagi mereka yang memang mau belajar.

Sesungguhnya, saya tidak terlalu suka akronim LGBT karena kumpulan huruf ini menggabungkan dua hal yang sama sekali berbeda: konstruksi gender dan orientasi seksual. Eh, bentar, bukankah orientasi seksualmu sangat tergantung konstruksi gendermu? Ha-ha-ha. Ya dan tidak.

Sedikit Tentang Konstruksi Gender

Mari kita mulai dari konstruksi gender yang paling mudah dipahami sebagian besar orang: laki-laki dan perempuan. Kita mengidentifikasi seseorang sebagai laki-laki jika sel-sel tubuh mereka memiliki satu kromosom seks X dan satu kromosom seks Y sementara perempuan jika sel-sel tubuh mereka memiliki dua kromosom seks X. Kromosom-kromosom ini umumnya terdiri dari gen-gen yang bertanggung jawab dalam menghasilkan karakteristik jenis kelamin berupa perbedaan morfologi, semisal penis pada laki-laki dan vagina pada perempuan. (Tidak, saya tidak akan minta maaf karena telah mengedukasi pemakaian istilah organ tubuh yang benar)

Dalam Biologi, sayangnya, ada idiom yang selalu berlaku: jangan pernah bilang “selalu” dan “tidak pernah” (Never say never, never say always). Meskipun bukan mayoritas, bukan tidak mungkin ada perempuan yang memiliki kromosom Y (Swyer Syndrome) atau laki-laki dengan dua kromosom X (Klinefelter Syndrome). Kelainan kromosom semacam ini tentu mengubah anatomi dan morfologi tubuh manusia yang mengalami dan mengganggu sebagian besar fungsi tubuh sehingga digolongkan ke dalam kelainan genetik. Orang-orang yang digolongkan ke dalam salah satu dari huruf LGBT, menariknya, cenderung tidak memiliki kelainan dalam komposisi kromosom mereka, walau beberapa penelitian mengklaim adanya gen yang mengatur homoseksualitas.

Mungkin saya mulai dari “T” terlebih dahulu: transgender. Orang-orang transgender adalah mereka yang mengidentifikasi diri mereka dengan gender yang berbeda dengan kelamin mereka ketika lahir. Mayoritas manusia adalah cisgender: mengidentifikasi diri dalam konstruksi gender yang sama dengan kelamin mereka. Saya mengenali konsep ini pertama kali dari sebuah artikel di Scientific American tentang anak transgender yang lahir sebagai laki-laki namun merasa dirinya perempuan. Ia tidak suka mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki. Kebetulan, ia lahir dari orang tua yang cukup suportif; ia memilih menjadi perempuan hingga usia 10 tahun. Jika kisah ini terdengar familier, mungkin teman-teman teringat salah satu anak adopsi Brad Pitt dan Angelina Jolie, Shiloh, yang diizinkan memilih gendernya sendiri sebagai laki-laki di usia yang cukup muda ketika orang tuanya tahu ia transgender.

Terima kasih kepada Rick Riordan dalam bukunya Magnus Chase and The Hammer of Thor, saya jadi tahu satu istilah tambahan seputar gender: gender cair atau gender fluid. Salah satu karakternya, Alex, digambarkan mengidentifikasi dirinya dengan lebih dari satu gender di periode yang berbeda. Ini jauh lebih membingungkan karena membuat gender yang selama ini dikonstruksikan hanya dua menjadi sebuah spektrum. Lebih banyak tentang istilah seputar gender ada di sini. Penjelasan tentang gender cair dalam bahasa Indonesia bisa disimak di sini.

Perubahan gender semasa hidup adalah mungkin secara biologis, dan karena tidak mengganggu fungsi tubuh secara umum tidak dapat sepenuhnya digolongkan sebagai penyakit. Yah, saya bukan psikolog atau ahli patologi sehingga tidak bisa berdiskusi banyak tentang bagaimana sesuatu ditetapkan sebagai penyakit, sehingga saya menggunakan istilah evolusi. Ini pun dapat diperdebatkan.

Visualisasi gender dan seks sebagai spektrum; perubahan gender dapat terjadi di berbagai tahap mulai dari kromosomal, gen, atau hormon. (Sumber: SA Visual)

Oh iya, di sini saya membedakan “seks” dengan “gender” karena mereka memang berbeda. Seks merujuk kepada acuan biologis yaitu alat kelamin dan karakteristik tubuh sementara gender mengacu kepada konstruksi sosial masyarakat. Apa itu konstruksi sosial? Semisal laki-laki harus bisa angkat galon atau perempuan harus bisa masak. Hal-hal semacam ini dibentuk oleh masyarakat tempat kita tinggal dan akan berbeda dari satu suku dengan suku lain.

Nah, apakah orientasi seksual seorang yang transgender, gender cair, dan cisgender akan serupa dengan konstruksi gender mereka?

Saya punya seorang teman yang saya anggap laki-laki (yah, dia masuk ke toilet laki-laki) namun perilakunya sangat berbeda dari laki-laki kebanyakan yang saya tahu. Dia memiliki modal suara bariton namun memilih untuk bersuara sopran sepanjang memori percakapan saya dengannya. Setiap bahasa tubuhnya sangat lembut. Dia cukup nyambung dengan saya dan suami saya dalam banyak topik, kecuali tentang laki-laki. Dia tidak mengerti konsep pertemanan laki-laki.

Dalam kurun waktu saya mengenalnya, tak terbersit sama sekali kalau dia mungkin transgender. Dia pun tidak akan mengakui hal itu kalaupun dia menyadarinya, mengingat gelagat persekusi masyarakat saat ini. Entah mengapa, semesta memutuskan memberitahu saya dari sebuah sumber tak langsung kalau dia pernah menyukai salah seorang teman laki-lakinya. Dan dari sumber yang sama, keluarlah konfirmasi itu: dia merasa sebagai perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki.

Kisah ini mungkin akan memvalidasi sebagian pemikiran orang, “Hah! Tuh kan, orientasi seksual transgender sama dengan gender yang dia pilih!”

Berkaca kepada kasus transgender dan gender cair, saya percaya dunia tidak sesederhana itu.

Orientasi Seksual: Spektrum yang Lain?

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, orientasi seksual adalah “pola ketertarikan seksual, romantis, atau emosional (atau kombinasi dari keseluruhan) kepada orang-orang dari lawan jenis atau gender, jenis kelamin yang sama atau gender, atau untuk kedua jenis kelamin atau lebih dari satu gender”. Ada beberapa kategori orientasi seksual: heteroseksual jika menyukai jenis kelamin yang berbeda, homoseksual jika sama, dan, jika jenis kelamin atau gender ada dua, biseksual jika menyukai keduanya. Tak lupa aseksual jika tidak memiliki dorongan seksual/romantis/emosional sama sekali dengan jenis kelamin apa pun. Istilah-istilah ini hanyalah terminologi dan dunia lebih luas dari empat istilah. Situs kekinian favorit umat, hipwee, menemukan sembilan kategori (sila disimak untuk yang sudah cukup umur di sini).

Seseorang yang transgender bisa saja homoseksual atau heteroseksual, tergantung sekuat apa fisiologi yang memengaruhi persepsi identitas gendernya turut memengaruhi dorongan seksualnya. Entahlah. Jangan pernah bilang “selalu” dan “tidak pernah” dalam Biologi. Itulah bagian “L”, “G”, dan “B” dari akronim favorit kita, masing-masing berdiri untuk “lesbi”, “gay”, dan “biseksual”. Ketiga istilah ini bisa kita bahas bersama dengan bahasan seputar orientasi seksual, dengan “lesbi” dan “gay” dikelompokkan dalam homoseksual.

Sebagai seorang heteroseksual, rasanya tidak tepat saya banyak bicara tentang orientasi seksual yang lain karena saya tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya. Sebagai evolusionis, saya percaya makna keberadaan mereka terletak dalam keuntungan dari keberadaan mereka bagi spesies. Homoseksual cukup membingungkan karena orientasi seksual yang satu ini tidak menguntungkan reproduksi seksual dengan tidak menghasilkan keturunan. Ada beberapa hipotesis yang diajukan tentang keuntungan eksistensi homoseksual dalam komunitas, termasuk di antaranya sebagai perawat anak atau keberadaan gen fungsional yang terpaut gen yang mengatur orientasi seksual.

Fungsi perawatan disebut juga fungsi ikatan sosial; homoseksual membantu terbentuknya ikatan sosial karena mereka cenderung penyayang. Ikatan sosial diperlukan manusia ketika masih berada dalam tahapan berburu-mengumpulkan karena kerjasama lebih menguntungkan untuk meningkatkan kelulushidupan satu sama lain alih-alih bersaing.

Gen fungsional juga merupakan hipotesis yang masih terus diuji. Dalam suatu spesies lalat buah, gen yang mendukung perilaku homoseksual diduga ada dalam populasi karena meningkatkan fertilitas betina dalam kondisi resesif (hanya ada di satu dari dua set kromosom). Hal ini dikonfirmasi juga terjadi di manusia. Namun, penelitian tentang “gen gay” ini masih belum cukup kuat dan butuh lebih banyak eksplorasi.

Jadi, kehadiran orientasi seksual yang beragam ini divalidasi oleh alam.

Mengatur Cinta

Dikotomi jenis kelamin dan gender yang kita miliki saat ini membuat kita sulit menempatkan diri ketika dihadapkan dengan isu LGBT. Manusia tidak menyukai apa yang mereka tidak pahami. Sebagai penganut ajaran Islam, kehadiran spektrum yang berbeda ini cukup menguras otak saya: jika memang Allah melarang mereka, mengapa Allah menciptakan mereka? Saya pribadi berpikir ini adalah kekeliruan saya memahami perintah Allah: yang dilarang adalah perilaku seksualnya, bukan dorongannya.

Ketika saya menyukai suami saya sebelum kami dilegalkan oleh ikatan pernikahan, apakah saya berdosa hanya karena perasaan suka? Perilaku seksual sebelum nikah dilarang agama, baik itu dengan sesama jenis maupun tidak. Saya berdosa ketika saya berzina, dengan segala bentuknya. Islam membolehkan perilaku seksual dalam ikatan pernikahan. Apakah Islam mengakui pernikahan sesama jenis? Tidak, kisah Nabi Luth cukup jelas. Namun, apakah artinya mereka tidak dapat memeluk Islam karena perbedaan ini? Bukankah Islam adalah rahmat untuk semesta alam dan mereka adalah bagian dari alam?

Saya tidak bisa banyak bicara dari kacamata agama karena kurangnya wawasan saya, tapi saya percaya Islam punya banyak ruang untuk spektrum yang diciptakan Sang Pencipta. Dengan segala pengetahuan kita tentang alam dan teknologi, moral manusia perlu ikut berevolusi agar dapat beradaptasi. Perubahan zaman adalah keniscayaan sepanjang sejarah peradaban manusia; peradaban yang gagal beradaptasi dengan perubahan akan runtuh.


Tambahan:

Setelah membagi tulisan ini di akun Facebook, banyak teman-teman yang memberikan masukan seputar isu agama dan sosial yang saya masukkan ke paragraf akhir dan awal. Yang harus segera saya benahi adalah pernyataan “Perilaku seksual sebelum nikah dilarang agama, baik itu dengan sesama jenis maupun tidak.” yang keliru karena Islam mengatur kebolehan perilaku seksual dengan hamba sahaya atau budak (bukan pembantu). Ada bacaan menarik di Wikipedia bahasa Inggris seputar ayat Al-Qur’an tentang kepemilikan manusia.

Perdebatan filosofis yang menarik mungkin akan muncul terhadap anggapan saya bahwa variasi minor dalam kehidupan termasuk sesuatu yang sengaja Tuhan ciptakan alih-alih mengasumsikan Tuhan mengalami “trial and error” dalam mencipta, bahkan jika itu malfungsi genetik sekalipun. Memang jika saya harus mengangkat sudut pandang evolusi, hal ini cukup kontradiktif karena seleksi alam bertugas mengeliminir varian yang tidak berfungsi optimal dalam menghadapi lingkungan tempat organisme tinggal. Untuk apa malfungsi itu ada dan diciptakan hanya untuk mati? Tapi bukankah kita semua diciptakan hanya untuk mati? Tampaknya ini akan menjadi pekerjaan rumah saya selanjutnya dalam menghubungkan sains dengan ajaran Islam.

Bersama dengan pertanyaan seputar definisi karya atau ciptaan Tuhan, menurut saya menarik juga untuk membahas lebih lanjut bagaimana firman Allah tentang makhluk diciptakan berpasang-pasangan koheren dengan spektrum seks yang ada di alam. Dengan pengetahuan tafsir saya yang terbatas, mungkin saya bisa berargumen bahwa penciptaan pasangan dalam ayat tersebut tidak memberikan batasan waktu dan ruang sehingga keberadaan spektrum masih sesuai. Selain itu, jenis kelamin biner memang ada (ada kelamin jantan dan betina) meskipun beberapa spesies organisme tidak berada di kelamin yang sama sepanjang hidupnya tanpa harus melakukan operasi. Berikut ada gambar yang menarik untuk menjelaskan spektrum gender dan kelamin dengan lebih sederhana:

Spektrum gender dan kelamin dalam manusia (Sumber: The Genderbread Person)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s