Menjadi Peneliti di Indonesia

Pada suatu ketika, suami saya cerita bahwa dia diajak orang tua salah satu anak bimbingnya makan di sebuah gerai makanan cepat saji. Suami saya membimbing beberapa anak yang ingin belajar lebih tentang Biologi, kebanyakan untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional. Kedua orang tua ini ingin saran tentang prospek kuliah dan kerja anak mereka.

“Tergantung anaknya juga sih maunya ngapain, siapa tahu malah mau masuk STAN,” sahutku sembarangan.

“Anak sih mau Bioteknologi, emang udah suka. Sama mau double major sama bisnis katanya, biar jadi duit. Terutama setelah tahu peneliti gajinya kecil.”

Bahkan di luar negeri, kisaran gaji seorang peneliti merupakan angka yang relatif paria dibanding profesi lain. Yang membuat menjadi peneliti di luar Indonesia lebih menggiurkan adalah fasilitas dan sistem laboratorium dan pendanaan yang lebih stabil. Namun, gaji peneliti di Jerman relatif terhadap gaji pegawai suatu perusahaan otomotif di Jerman sama jaraknya seperti gaji peneliti Indonesia relatif terhadap pegawai perusahaan otomotif di Indonesia. Tidak heran jika banyak penduduk Indonesia yang sesungguhnya antusias ingin melanjutkan sekolah atau berkutat di bidang sains mengurungkan niatnya dan memilih profesi yang fokus kepada uang.

Sementara itu, bidang sains tidak menjadi fokus pembangunan pemerintah dan riset selalu menjadi bidang yang dinomorsekiankan APBN. Ini pertanyaan saya seumur hidup: “Haruskah saya ikhlas dengan kondisi sains sekarang dan menyadari negara ‘berkembang’ macam Indonesia tidak akan pernah memfokuskan dirinya ke sains sampai ekonomi cukup kuat atau saya harus mencoba melakukan sesuatu tentang ini?”

Inferioritas dan Arogansi

Kondisi semacam ini, menurut saya, sedikit banyak memengaruhi karakter peneliti yang sudah ada di Indonesia. Teman-teman Indonesia yang pertama kali berkuliah di luar negeri mengalami apa yang namanya impostor syndrome atau merasa segala pencapaiannya hingga kini keberuntungan semata dan dirinya tak benar-benar punya kapasitas untuk itu.

Saya mengalami ini di akhir semester kedua ketika mengambil kuliah yang cukup sulit sembari melihat teman-teman sekelas yang berasal bukan dari “negara berkembang” tampak tak kesulitan, bahkan mendapat skor nyaris sempurna di ujian. Saya pun berpikir, “Apa saya tidak dirancang untuk sains?” Semacam renungan mini dari pertanyaan sebelumnya tentang apakah saya harus ikhlas Indonesia “begini-begini saja” dalam hal penelitian.

Banyak yang menganggap kemudahan orang Indonesia untuk merasa rendah diri berasal dari inferiority complex hasil kolonialisasi berbagai bangsa dahulu kala. Kita pernah kedatangan Gujarat, Arab, India, Cina, Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, Jepang; puluhan bangsa mungkin ada dalam sejarah terbentuknya budaya Indonesia. Kedatangan yang paling membekas mungkin adalah ketika J. P. Coen memutuskan bahwa perdagangan akan lebih menguntungkan ketika mereka memegang kedaulatan tempat dagang (saya simpulkan dari buku Van Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia). Setelah itu, apa yang disebut perdagangan sedikit banyak menjadi penjajahan. Istilah “pribumi” keluar di masa itu untuk memosisikan kaum penduduk asli dalam status sosial yang tidak menguntungkan. Alhasil, dari sejak zaman kakek-nenek generasi saya (mungkin) tertanam kondisi bawah sadar bahwa orang Indonesia, atau “pribumi”, tidak lebih baik dari orang kulit putih.

Namun, saya merasa ini tak sepenuhnya benar. Kerendahan diri orang Indonesia secara umum sedikit banyak berasal dari kultur dan ajaran yang dianut sebagian besar bangsa Indonesia. Salah satu peribahasa jawa, “Adigang, Adigung, Adiguna” termasuk ajaran untuk tidak terlalu menonjolkan keunggulan diri. Ajaran Islam juga setahu saya mengajarkan bahwa generasi terbaik umat adalah generasi ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kualitas umat menurun seiring waktu setelah itu. Teman-teman saya yang merupakan pengikut Kristus juga sering membagikan ajaran tentang menjadi rendah hati. Menulis motivation letter atau surat motivasi untuk mendaftar perguruan tinggi tersohor di luar negeri tentu sulit dengan paham-paham semacam ini. (Yah, ini sangat bias Jawa-Islam; mohon tambahi/koreksi saya.)

Selain itu, saya merasa kurangnya rasa telah mencapai sesuatu adalah karena penduduk Indonesia terlalu lama disuapi; kita tidak menemukan jati diri kita sendiri. Kita disuapi pemerintah, pemerintah mengadopsi hukum Belanda, bahasa kita merupakan serapan banyak bahasa, dan masih banyak lagi fitur Indonesia yang menunjukkan kita lebih banyak mendapatkan daripada memberikan.

Kerendahan diri yang terlalu lama bercokol di bawah sadar kita, secara ironis, memudahkan arogansi berkembang persis setelah kita mendapatkan ilmu. Tak sedikit narasi tentang lulusan universitas terkenal yang arogan, mulai dari stereotip yang sering diterima para pencari kerja sampai pengakuan keunggulan oleh individu itu sendiri. Ini tentu tidak terbatas pada negara berkembang; fenomena pasca-inferior ini cukup banyak teramati dalam peneliti-peneliti baru. Saya kesal terhadap orang-orang yang sembarangan bicara tentang apa yang sudah saya pelajari bertahun-tahun, tanpa mau tahu apa yang mendasari sudut pandang yang dapat berbeda. Lebih lanjut, para ilmuwan kita menjadi lebih reaktif menonjolkan otoritas keilmuan selama ada kesempatan. Mulai dari tersinggung ketika gelar tidak ditulis lengkap sampai dengan tidak mau mendengarkan pendapat multidisiplin.

Karakter-karakter macam ini, menurut saya, berpengaruh terhadap impresi profesi peneliti Indonesia itu sendiri. Jika kamu peneliti, kamu antara inferior atau arogan. Kamu antara mau mengomunikasikan hasil penelitianmu ke masyarakat awam atau lebih suka berdiskusi dengan rekan peneliti satu lingkar dalam menara gading. Tiba-tiba, menjadi peneliti bisa identik dengan masuk ke dalam kelas sosial tertentu. (Begitu juga jadi kuli bangunan atau pengusaha buah. Atau jadi PNS. Atau jadi konsultan limbah. Yah, tampaknya memiliki kelas-kelas dalam kehidupan bermasyarakat adalah keniscayaan.)

Menunggu atau Melakukan Sesuatu?

Sebagai salah satu penduduk Indonesia yang bercita-cita jadi peneliti, pertanyaan ini cukup sulit. Jika saya ingin melakukan sesuatu tentang menjadi peneliti di Indonesia, apa yang harus saya lakukan tak ada kaitannya dengan penelitian sama sekali. Jika saya ingin melakukan penelitian saja, saya harus menunggu sampai Indonesia cukup stabil untuk memikirkan pengembangan teknologi alih-alih sekedar transfer dari luar. Menunggu seluruh lapisan masyarakat tercerdaskan tentang pentingnya melakukan inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan datangnya kemauan politik ke arah sana sebagaimana awal mula pendanaan terhadap ekspedisi dan pengembangan senjata berpuluh tahun yang lalu.

Saat ini, saya memilih melakukan sesuatu. Saya mencoba mengoordinir sebuah proyek pengumpulan data keanekaragaman hayati Indonesia bernama Biodiverskripsi bersama Tambora Muda Indonesia. Harapan saya, jika proyek ini sukses, banyak anak muda Indonesia yang lebih terinspirasi untuk maju melakukan sesuatu tentang kondisi penelitian di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s