Wajah Baru Nasionalisme

Saya dan kebanyakan lingkar pertemanan saya begitu muak dengan istilah “pribumi” yang begitu diumbar tahun ini sehingga mungkin akan ada yang menganggap yang kayak kami begini “pengkhianat”. Dengan globalisasi dan masyarakat ekonomi ASEAN kita masih mau bersaing pake nasionalisme? Ngga banget. Belum lagi capres usungan oposisi untuk pilpres 2019 menggaungkan “anti-impor”. Apa mungkin?

Nasionalisme yang menjadi narasi pemersatu bangsa Indonesia saat ini sedang dieksploitasi habis-habisan dalam rangka pemilu. Banyak gagasan tentang kemandirian negeri berujung kepada proteksionisme. Anti-asing. Anti-impor. Make Indonesia Great Again. Waw. Mungkin kita bisa mundur sejenak dan melihat ulang makna nasionalisme dari hari kemerdekaan kita sendiri, dikomparasikan dengan negeri lain yang trauma dengan nasionalisme, Jerman.

Tentang Kemerdekaan Kita

Dua tahun lamanya saya tinggal di Jerman, tidak ada “Hari Kemerdekaan”. Rakyat Jerman memperingati hari bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur pada 3 Oktober 1990, “Tag der Deutschen Einheit“. Saya ingat ketika itu seluruh toko di kota tutup kecuali toko 24 jam dekat pompa bensin di sisi jalan utama. Karena saya baru tiba dan tidak tahu kalau seluruh pusat perbelanjaan tutup total selama hari Minggu dan hari libur nasional, jadilah saya kelaparan selama dua hari ketika tiba di München tanggal 1 Oktober. Pada “hari kemerdekaan”nya, Jerman hening dan kosong, tak ada lomba di gang perumahan maupun gegap gempita lagu-lagu kebangsaan.

“Kapan kamu biasa menyanyikan lagu nasional Jerman?” tanyaku pada salah seorang teman sejurusanku yang berkebangsaan Jerman.

“Umm… pertandingan sepak bola? Entahlah, tidak sering lagu nasional dinyanyikan. Rasanya aneh…”

Heningnya Jerman ketika “hari ulang tahun” mereka sangat kontras dengan dekorasi merah putih di setiap pusat keramaian di Indonesia dan latar lagu-lagu perjuangan yang diputar di mana-mana. Nasionalisme atau paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri disemarakkan dalam segala ekstrem mulai dari diskon a la tujuhbelasan sampai propaganda arti kemerdekaan. Bagi orang Indonesia, bangga menjadi orang Indonesia adalah hal yang harus diyakini setiap warga negara Indonesia dan merupakan salah satu nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat kita. Sebagai kontras, heningnya rakyat Jerman terhadap hari besar negaranya sendiri relatif terhadap Indonesia menunjukkan sikap sebagian besar penduduk Jerman yang kontra terhadap nasionalisme. Jadi, tak hanya cukup lama saya hidup tanpa hari-hari nasional, saya juga hidup dengan orang-orang yang menganggap nasionalisme itu tabu. Mungkin agak menjelaskan “gegar kepala” yang terjadi ketika bangun pada tanggal 17 Agustus 2017 yang membuat saya agak lupa kalau itu hari ulang tahun Indonesia yang ke-72.

Hari “Kemerdekaan” di Jerman

Tidak tepat mengatakan tanggal 3 Oktober sebagai hari kemerdekaan karena Jerman tidak dijajah siapa pun. Namun, jika pada tahun 2016 kemarin Jerman memperingati hari bersatunya Jerman Barat dan Timur yang ke-26, artinya negara Jerman yang sekarang dikenal dunia memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengan generasi 90an?

Umm… ya dan tidak. Ya karena sebagian wilayah Jerman saat ini sudah bersatu dalam satu negara sejak 1871, tidak karena format Bundesrepublik Deutschland yang dipegang Jerman sekarang memang baru disetujui tanggal 3 Oktober 1990. Jerman sudah beberapa kali mengganti tanggal “ulang tahun”nya karena memang ada beberapa kali pergantian bentuk kekuasaan. Sebelum 1871, Jerman terbagi menjadi beberapa kerajaan kecil seperti semua negara di Eropa yang lain; beberapa bangsawan menguasai teritori tertentu dan saling tukar/klaim wilayah.

Jerman sempat sangat bangga dengan identitas mereka sebagai orang Jerman. Kapan persisnya? Ketika Adolf Hitler menjabat sebagai kanselor. Lihat saja nama partainya, “Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei”, atau mungkin lebih terkenal dengan singkatan bahasa Inggrisnya, “Nazi”. Jelas-jelas ada kata “nasional” di nama partai itu. Seperti yang diimplikasikan oleh nama partainya, Hitler berupaya membuat rakyat Jerman percaya bahwa mereka harus bangga lahir sebagai ras Aryan (kulit putih) dan sebagai penduduk asli Jerman mereka berhak mendapat kesetaraan dalam hidup bernegara. Hanya saja, kebanggaan ini berkelanjutan sampai ke menganggap ras lain lebih rendah. Pembantaian besar-besaran ras non-Aryan tercatat oleh sejarah Jerman dan anak-anak Jerman diajarkan untuk “malu” kepada sejarah mereka. Partai Nazi dengan segala bagian ideologinya adalah tabu.

Dosa Nasionalisme

Berbeda memang ketika kita melihat tempat kita bertumbuh dari luar melalui sudut pandang orang lain dengan ketika melihatnya dari sudut pandang sendiri yang terbangun karena lingkungan. Supervisor lab saya bercerita melihat orang Vietnam di tram yang bertanya ke seseorang apakah dia juga berasal dari Vietnam hanya karena wajahnya mirip orang-orang yang ada di Vietnam. “Aku tidak akan tiba-tiba menanyakan seseorang berkulit putih di Asia apakah mereka berasal dari Jerman!” ujarnya terheran.

“Untuk apa bangga hanya karena kamu terlahir Jerman?”

Sentimen ini dibagi oleh hampir semua teman Jerman yang saya tanyai apakah mereka tidak bangga menjadi orang Jerman. Teman sekamar saya bahkan berencana tinggal di Selandia Baru setelah studinya usai. “Kamu tidak merasa harus berbuat sesuatu untuk negaramu?” tanyaku polos, yang dijawab dengan sorot mata heran.

Tidak seluruh penduduk Indonesia berbagi sentimen yang sama tentang Indonesia atau sama tidak nasionalisnya dengan sebagian besar orang Jerman. Namun, lebih banyak yang “NKRI harga mati” dan memuja nasionalisme dan cinta tanah air. Semua dilakukan untuk mengekspresikan kecintaan terhadap tanahair mulai dari membeli produk-produk dalam negeri sampai membatasi usaha dengan warga negara asing. Namun, apakah kita perlu sampai menghina ras lain?

Ada dosa yang diberikan nasionalisme kepada mereka yang tidak mengerti bagaimana cara mencintai sesuatu dengan benar. Menghina rakyat negara lain atau berprasangka buruk kepada mereka sampai menghina ras mereka merupakan beberapa dosa yang diberikan nasionalisme buta ini. “Nasionalisme lokal” juga kerap terjadi ketika pendukung tim sepak bola kota asal bertindak anarkis hanya karena tim yang mereka dukung menang. Hingga beberapa waktu lalu, tidak jarang saya mendengar berita kerusuhan yang ditimbulkan pendukung tim sepak bola yang kalah seusai permainan.

Kita berhak marah dan kecewa ketika identitas kita direndahkan orang. Itu manusiawi… manusia memiliki ego. Wajar.

Namun, sejauh apa sesuatu bisa dibiarkan karena itu wajar? Sejauh apa sesuatu bisa dikatakan wajar? Ketika nasionalisme itu berubah menjadi rasisme, kita harus bertanya, untuk apa aku bangga terhadap sesuatu yang aku tidak melakukan sesuatu tentangnya?

Berkat kampanye nasionalisme yang berlebihan, banyak hal bisa berlangsung keliru. Jerman, Italia, dan Jepang sudah memberi contoh ketika Perang Dunia II. Mereka adalah kasus-kasus berbahaya terlalu lama menganggap diri sendiri spesial dan mendemonisasi ras yang tampak asing dari mereka. Indonesia memiliki potensi yang berbahaya untuk berakhir demikian jika tidak terus disadarkan tentang ideologi keragaman yang dibangun oleh pendiri bangsa. 

Mungkin, rasa nasionalisme yang berlebih ini muncul karena sebagian besar dari kira merasa inferior untuk waktu yang cukup lama. Kita takut dibilang jelek karena hidup selama ini percaya bahwa dirinya jelek. Video-video satir Sacha Stevenson yang banyak mengritisi kehidupan sebagai orang Indonesia sering memanen komen cacian dari akun yang mengaku orang Indonesia karena ini. Padahal tanda move on yang ultimat adalah bisa menertawakan kebodohan masa lalu sambil bergerak maju; jika kita memang tidak sejelek yang dikatakan orang, buktikan!

Lain Ladang Lain Belalang

Sejarah Indonesia dan Jerman tidak sama. Namun, bukan berarti kita tidak bisa mengambil beberapa hikmah penting dari sejarah negara lain. Menurut saya, sejarah Indonesia telah banyak disusun sedemikian rupa untuk membangkitkan rasa cinta kepada tanahair karena Indonesia sedang butuh itu. Namun, rasa cinta kepada apa pun, jika berlebihan dan hanya memuat emosi, tetap membutakan. Membuat kita lupa bahwa mencintai sesuatu tidak bisa dengan cara kita sendiri, misalnya dengan memaksakan sistem khilafah versi sendiri.

Indonesia memerlukan nasionalisme gaya baru. Nasionalisme yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan global, mengusahakan kesejahteraan penduduknya sambil menggaungkan kolaborasi dengan berbagai suku dan bangsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s