Mengapa Kita Masih Pakai Kantong Plastik?

Indonesia terkenal sebagai pencemar laut dengan sampah plastik. Ribuan hewan laut tersiksa karena kantong plastik dan partikel-partikel plastik berukuran mikro bahkan dapat ditemukan dalam hidangan laut kita karena plastik tidak dapat terurai menjadi molekul yang dapat dicerna makhluk hidup. KFC dan McDonald sudah memulai gerakan tanpa sedotan, walaupun belum mengganti semuat alat makannya dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Berbagai perusahaan penyedia biomaterial yang dapat digunakan untuk mengganti plastik kemasan juga sudah cukup banyak. Alternatif untuk kantong plastik, sedotan plastik, alat makan, dan berbagai macam kemasan plastik juga sudah ada.

Lalu, mengapa plastik masih banyak dipakai masyarakat?

Mengubah Perilaku

Teman-teman yang berkutat di bidang konservasi biologi pasti familiar dengan kenyataan bahwa sangat sulit membuat masyarakat peduli terhadap isu lingkungan. Orang-orang masih suka membuang sampah sembarangan, menggunakan banyak plastik untuk belanja atau makan, atau memelihara tumbuhan dan satwa liar yang mulai jarang dijumpai di alam. Sulit membuat masyarakat berhenti membeli tumbuhan dan satwa liar untuk dipelihara, memulai menggunakan kantong belanja yang dapat dipakai berulang kali, atau bahkan membuang sampah pada tempatnya.

Ragam misi konservasi ini memiliki satu kesamaan; membutuhkan masyarakat untuk melakukan sesuatu. Kita butuh mereka datang ke event yang kita selenggarakan. Kita butuh mereka aktif memberi tahu kita apa yang mereka perlukan untuk melakukan apa yang kita butuh mereka lakukan. Kita butuh mereka lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan.

Untuk hal ini, saya sering mencoba berkonsultasi dengan teman-teman saya yang belajar ilmu sosial, terutama yang saya tahu belajar psikologi. Salah satu contoh kasus yang sedang saya kerjakan adalah “Bagaimana cara membuat teman-teman komunitas lebih aktif dalam forum?”. Pertanyaan ini semacam pertanyaan saya seumur hidup karena saya mengalami ini sedari kuliah. Sulit sekali membuat anggota himpunan mahasiswa datang ke musyawarah anggota atau forum dengar-pendapat calon ketua badan eksekutif mahasiswa. Sulit sekali mendapat teman satu tim untuk membuat proposal pendanaan kegiatan konservasi; rata-rata ingin langsung terlibat dalam proyek yang sudah pasti berjalan. Sulit sekali membuat orang-orang aktif menanggapi konten media sosial komunitas yang saya ikuti; semua ingin jadi silent reader.

Saya ingin tahu, mengapa sulit sekali mengajak orang melakukan sesuatu? Terutama untuk isu-isu lingkungan yang sudah jelas sekali manfaatnya bagi manusia.

Making Moves: Ciptakan Gerakan Konservasimu!

Suatu hari, teman saya menunjukkan saya tautan ke sebuah lokakarya daring tentang memotivasi masyarakat untuk mengadaptasi perilaku ramah lingkungan. Judul lokakarya tersebut adalah Making Moves: Creating Conservation Movements. Brooke Tully, praktisi profesional yang menjadi instruktur dalam lokakarya ini menyadari bahwa gerakan/kampanye konservasi yang berhasil perlu pemahaman akan mengapa masyarakat tidak melakukan suatu hal, apa yang memotivasi mereka untuk mengambil tindakan, dan bagaimana kita menggunakan pemahaman tersebut untuk komunikasi dan sosialisasi yang berhasil.

Lokakarya ini ditujukan untuk mereka yang sedang mengerjakan program konservasi yang memerlukan pemahaman perilaku dan komunikasi efektif, program-program yang banyak melibatkan manusia semisal komunitas adat, masyarakat lokal, pelaku industri, pemerintah, dan lain-lain. Namun, tema ini juga cocok untuk mereka yang berupaya menginspirasi perilaku konservasi dalam komunitasnya masing-masing, berkomunikasi dengan anggota, pelanggan, dan pengikut laman atau mailing list organisasi dan berharap mereka terlibat aktif dalam isu yang sedang diangkat, menjaga relawan tetap semangat, atau bahkan sekedar membuat rekan kerja berhenti meninggalkan gelas kopi sembarangan.

Dengan instruktur semumpuni Brooke Tully, tak heran jika lokakarya ini menarik 525USD untuk enam minggu masa pelatihan dalam jaringan. Namun, Brooke sangat mendukung upaya konservasi sehingga dia akan mendaftarkan mereka yang merupakan anggota LSM lingkungan non-profit cuma-cuma selama mereka mengontaknya secara langsung. Saya berkorespondensi dengan Brooke dan mengatakan bahwa saya sedang menjadi relawan di Tambora Muda Indonesia, Jaringan Konservasionis Muda Indonesia yang saya rintis bersama teman-teman saya, dan memerlukan pelatihan ini; dia langsung mendaftarkan e-mail saya secara cuma-cuma!

Lokakarya ini telah berlangsung sejak minggu terakhir Januari 2019 dan saya mendapatkan banyak materi menarik. Brooke menyusun materinya secara runut, mulai dari memilih tindakan spesifik yang ingin kita tuju untuk membuat masyarakat melakukan perilaku yang kita inginkan, melakukan prioritisasi target masyarakat, mengidentifikasi halangan psikis dan fisik untuk perubahan perilaku, mengeksplorasi kerangka pesan dan pendekatan yang dapat mengatasi halangan tersebut, dan memilih bentuk komunikasi dan sosialisasi yang tepat untuk target masyarakat yang dipilih. Berbagai sumber untuk materinya dapat diakses secara cuma-cuma di laman situsnya.

Mengapa Kita Masih Pakai Plastik?

Materi yang saya tunggu-tunggu adalah tentang mengapa masyarakat tidak melakukan sesuatu. Mengapa ada orang yang masih meminta kantong plastik bahkan ketika pemerintah menerapkan aturan pembayaran kantong plastik?

Brooke menggunakan force field analysis dalam psikologi sosial untuk menjelaskan berbagai macam kekuatan eksternal dan internal tentang mengapa kita termotivasi melakukan atau menghindari melakukan sesuatu.

ForceFieldAnalysis_image
Force field analysis yang dibuat Brooke Tully, menggambarkan kekuatan internal dan eksternal yang memengaruhi mengapa kita melakukan atau tidak melakukan sebuah perilaku.

Ada tiga kelompok besar kekuatan eksternal yang menyebabkan kita menghindari sebuah perilaku: (1) perilaku tersebut tidak dapat dilakukan, (2) perilaku yang harus dilakukan tidak jelas, atau (3) perilaku yang harus dilakukan tidak mudah.

Orang tetap buang sampah sembarangan, misalnya, jika orang kesulitan menemukan tempat sampah di dekat mereka. Mendaur ulang sampah sulit jika tidak ada peralatan atau instalasi yang tepat di sekitar masyarakat. Orang tetap menggunakan kantong plastik jika tidak ada alternatif kantong yang sesuai ukuran kebiasaan belanja mereka atau sulit mendapatkan pengganti plastik untuk berbagai jenis kemasan.

Ketiadaan infrastruktur atau akses terhadap sarana/prasarana yang memungkinkan perilaku tersebut membuat masyarakat tidak dapat melakukan perilaku tersebut. Jayapura cukup kreatif dalam mengatasi hal ini, menyampaikan bahwa noken bisa menjadi pengganti kantong plastik; seharusnya ini mendorong perilaku tanpa-kantong-plastik lebih mudah di Papua.

Pilihan yang terlalu banyak juga menghilangkan kejelasan tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Gambar yang dipakai Brooke adalah infografis tentang sembilan tips hidup dengan lebih sedikit plastik berikut, yang menurutnya justru membingungkan untuk target karena terlalu banyak pilihan yang dilakukan dapat memberikan impresi ketidakjelasan perilaku. Apa yang sesungguhnya mau kita lakukan? Kita perlu melakukan prioritas dan pembagian perilaku menjadi beberapa tahap.

Sembilan cara hidup dengan lebih sedikit plastik: (1) membawa tas belanja sendiri, (2) membawa botol minum yang dapat digunakan berulang kali, (3) membawa cangkir kopi sendiri, (4) membawa bekal untuk makan siang dalam wadah yang dapat digunakan kembali, (5) tidak menggunakan alat makan sekali pakai, (6) menghindari ditimbulkannya produksi kantong plastik tambahan ketika belanja, (7) makan di tempat alih-alih bawa pulang, (8) menyimpan sisa makanan di wadah kaca alih-alih plastik, dan (9) membagi tips-tips ini kepada teman-teman. (Sumber: https://lessplastic.co.uk/9-tips-living-less-plastic/)

Selain itu, perilaku yang harus dilakukan sering kali tidak mudah. Ini umumnya dapat diatasi dengan pelatihan. Video-video seputar cara mendaur ulang plastik yang sering beredar biasanya bisa menjadi contoh.

Kekuatan internal yang menyebabkan kita tidak melakukan sesuatu juga dapat dikelompokkan ke empat kelompok pengaruh: (1) orang-orang sibuk, (2) lebih mudah tidak melakukan sesuatu, (3) mereka tidak percaya mereka bisa melakukannya, atau (4) mereka skeptis.

Kadang kita lupa membawa kantong belanja atau meninggalkan sampah sembarangan. Lebih mudah untuk tidak mencari tempat sampah atau repot-repot membawa kantong belanja setiap kali akan keluar rumah. Hal ini perlu diatasi dengan memberikan lebih banyak makna terhadap kegiatan tersebut, semisal memperlihatkan bahwa banyak orang yang melakukan hal ini dan pengaruh positif yang didapat dari mengurang kantong plastik. Mengetahui ada banyak orang yang melakukan hal yang sama dan sukses juga meningkatkan kepercayaan diri untuk melakukan sebuah perilaku.

Yang paling menarik adalah sikap skeptis. Sikap skeptis terhadap perubahan perilaku dapat disebabkan oleh dua hal: konflik identitas dan kurangnya rasa percaya. Contoh kondisi semacam ini dalam konservasi adalah tentang betapa vegan tidak disukai di UK, atau betapa perilaku terhadap perubahan iklim berbeda tergantung nilai dan pandangan politik yang dianut warga Amerika.

Untuk kasus kantong plastik, orang tidak ingin pakai kantong belanja karena tidak mau dianggap environmentalis atau hippie, misalnya. Brooke melihat kecenderungan laki-laki tidak mau menggunakan tas belanja yang dapat digunakan kembali karena kebanyakan tas belanja macam ini didesain agak feminin atau stigma penggunaan tas yang masih bias gender.

plasticBags.PNG
Berbagai contoh kantong belanja yang dapat digunakan kembali dari hasil pencarian Google.

Setelah kita mengetahui pengaruh apa saja yang dapat menyebabkan masyarakat menghindari suatu perilaku, kita dapat mencoba mengidentifikasi kapan pengaruh tersebut muncul dan merancang sistem/komunikasi yang sesuai. Bagian ini akan dibahas di materi lokakarya minggu-minggu berikutnya.

Bagian paling penting dari konservasi alam adalah manusia. Saya kagum dengan kemampuan teman-teman yang bergelut di ilmu sosial untuk menjelaskan secara sistematis perilaku manusia seperti yang dilakukan Brooke Tully. Bagi saya yang cenderung tidak suka berinteraksi dengan manusia dan sulit memahami masyarakat, materi-materi dari Brooke ini cukup mencerahkan.

Dengan mengikuti lokakarya tersebut, mungkin kita tidak bisa otomatis membuat seluruh orang Indonesia berhenti menggunakan kantong plastik. Kampanye untuk membuat isu lingkungan diminati masyarakat adalah proses yang cukup panjang. Rachel Carson tidak langsung mendapat persetujuan masyarakat Amerika ketika ia mengatakan bahwa DDT memberikan dampak yang berbahaya untuk lingkungan. Namun, pelan tapi pasti, orang-orang mulai lebih hati-hati dalam menggunakan pestisida dan kesadaran masyarakat terhadap betapa berbahayanya polusi kimia meningkat.

Semoga demikian untuk kantong plastik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s