Bagaimana Blog dapat Memajukan Sains

Pertama kali saya belajar menulis hasil penelitian, ada doktrin yang dijejalkan ke peserta: publish or perish. Peneliti yang tidak mempublikasikan tulisannya tidak akan bertahan di akademia. Jargon ini, sayangnya, malah jadi obsesi tidak sehat peneliti Indonesia dengan publikasi di jurnal ilmiah.

Tidak peduli bagaimana caranya, peneliti ingin nama mereka berasosiasi dengan sejumlah publikasi ilmiah, terutama yang terindeks secara internasional. Hal ini bisa bermula dari asal menumpang di publikasi yang dikerjakan peneliti lain tanpa ikut kontribusi apa pun dalam penelitian, sampai dengan terpancing jurnal predator yang minim penilaian sejawat untuk mendapatkan publikasi instan. Lama-lama, jargon ini berubah menjadi publish and perish; terlalu heboh mengejar kuantitas publikasi menurunkan kualitas publikasi. Publikasi ilmiah sekarang lebih seperti buih di lautan.

Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh sulitnya menulis hasil penelitian bertahun-tahun secara sistematis. Proses pemantauan sejawat juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Padahal, di era informasi saat ini, ilmu pengetahuan berkembang dengan cepat; jika terlalu lama menunggu untuk publikasi data bisa kadaluarsa atau terbalap peneliti lain. Selain itu, publikasi ini tidak ditulis untuk dibaca; bahasa penuh jargon spesifik tidak dinikmati masyarakat yang turut menyumbang dana penelitian melalui pajak. Publikasi ilmiah juga tertahan dalam akses berbayar yang membuat hasil penelitian tidak terbuka ke cukup banyak pihak. Diskursus ilmiah berputar di satu lingkar menara gading saja tanpa menyentuh masyarakat. Perputaran ide terjadi cukup lama jika menunggu publikasi ilmiah.

Karena itu, banyak inisiasi saintis untuk mengomunikasikan ide atau hasil penelitian mereka dalam blog. Saya mendapati ini ketika mencari tahu sebuah metodologi statistik untuk analisis hasil penelitian saya dan mendarat di sebuah blog bernama Dynamic Ecology. Blog ini tak hanya menjelaskan tentang analisis statistik yang saya cari, tapi banyak opini mereka tentang bagaimana Ekologi dilakukan saat ini.

Blog tentang Ekologi dan Dampaknya

Bermula dari mengikuti blog yang digagas tiga orang peneliti Ekologi dari Amerika Serikat dan Kanada ini, saya jadi tahu beberapa blog ekologi lain yang menarik. Jumlah blog semacam ini sangat banyak, dan para penulis blog di bidang Ekologi ini mengungkap pentingnya blog dalam memajukan sains dalam sebuah artikel ilmiah di Royal Society of Open Science. Mereka meneliti minat pengunjung blog mereka melalui statistik yang diberikan oleh layanan penyedia blog mereka dan melihat bahwa diseminasi ide dengan cepat melalui blog tak hanya mengomunikasikan dengan cepat hasil penelitian, tapi juga dapat meningkatkan kualitas diskursus ilmiah dan menjadi ajang bertukar pengalaman antar-peneliti, terutama dengan kelompok peneliti yang kurang terwakilkan dalam publikasi ilmiah.

 

rsos170957-g3
Awan kata yang dibuat dari topik-topik sepuluh tulisan blog terfavorit dalam sampel blog yang diteliti Saunders et al (2017). Besar ukuran kata menunjukkan tingginya frekuensi kemunculan kata tersebut, menunjukkan bahwa saran atau opini seputar isu akademik dan kuliah menarik paling banyak pembaca dibanding topik lain.

 

Tukar menukar komentar dalam forum blog dapat mempercepat pemantauan sejawat dalam suatu hasil penelitian. Sebuah tulisan blog di Dynamic Ecology pada tahun 2014 tentang betapa peneliti tidak mau melepas ide bahwa interaksi antarspesies kuat di ekosistem tropis mendapatkan undangan dari editor jurnal ilmiah Biotropica untuk dieksplorasi dan ditulis kembali dalam jurnal tersebut dan dipublikasikan pada tahun 2016, menjadi salah satu artikel ilmiah di jurnal internasional yang MENSITASI TULISAN BLOG DALAM ARTIKEL MEREKA. Saya juga melihat tulisan blog disitasi dalam sebuah bab buku yang ditulis Lenore Fahrig tentang bias peneliti dalam meneliti fragmentasi habitat. Tapi tentu saja, dalam mensitasi tulisan blog dalam publikasi ilmiah, kredibilitas penulis dan argumen yang dibangun penulis perlu diperiksa. Mungkin ini bisa jadi bahan teman-teman mahasiswa untuk memberitahu dosen mereka kalau blog bisa menjadi sumber pustaka selama tulisan blog tersebut orisinal dan tidak merupakan hasil plagiat.

Sebuah tulisan blog lain yang mengkritsi pemisahan orangutan tapanuli sebagai spesies baru yang berbeda dari orangutan sumatera juga menyulut diskusi panjang tentang konsep spesies baik dalam blog itu sendiri maupun di forum lain.

blogDiscussionOrangutan
Ratusan komentar dalam forum diskusi blog tentang spesies baru orangutan.

Seiring waktu, lebih banyak blog bermunculan baik untuk mendorong diskursus ilmiah maupun komunikasi sains kepada masyarakat umum. Ada blog Rapid Ecology yang berniat mengumpulkan peneliti yang ingin menulis blog tentang Ekologi, dan Ecology for the Mass yang digagas tiga orang mahasiswa PhD untuk mengomunikasikan Ekologi sebagai sains ke masyarakat umum.

Bagaimana dengan Indonesia?

Inisiasi semacam ini di Indonesia juga mulai bermunculan. Bermula dari Twitter, saya menemukan blog yang ditulis seorang “simpatisan” genetika populasi yang tertarik dengan sejarah manusia Indonesia. Tulisannya komprehensif dan menarik, sarat data dan konten, tapi sayang sekarang lagi agak hiatus. Ada pula blog tentang manajemen sumber daya hayati yang ditulis seorang dosen ITB; tulisannya banyak mengulas tentang kondisi pangan Indonesia maupun biologi secara umum. Kabar baiknya, beliau bukan satu-satunya dosen ITB yang doyan ngeblog. Contoh-contoh yang saya punya pastinya bias ekologi dan evolusi karena itu bidang yang saya pelajari; untuk bidang lain pasti masih cukup banyak karena dosen ngeblog bukan wacana asing di Indonesia.

Sayangnya, saya kurang tahu upaya-upaya ngeblog di Indonesia yang berujung kepada diskursus ilmiah panjang sebagaimana saya ceritakan dengan blog-blog dari luar negeri. Saya kira ada beberapa alasan: (1) bahkan saintis Indonesia tidak betah baca tulisan panjang kecuali minatnya spesifik sesuai yang dibahas topik blog tersebut, (2) tidak semua orang bisa memilih tipografi tulisan blog yang enak dibaca, dan yang paling penting (3) menulis komentar kritis terhadap suatu topik bukan budaya kita.

Kemudian, semua kembali lagi ke keengganan peneliti membagi ide atau hasil penelitian mereka sebelum dipublikasikan di jurnal ilmiah karena takut ide mereka diambil orang lain jika disebar dahulu, atau lebih baik menggunakan waktu untuk menulis publikasi ilmiah alih-alih blog. Peneliti Indonesia di berbagai institusi kebebanan banyak hal selain bidang yang ia teliti karena tumpang tindih fungsi kelembagaan. Selain itu, dunia akademik Indonesia yang kita harapkan menjadi tempat berkembangnya sains kita masih cukup banyak bergantung kepada metrik, tunjangan kinerja, kredit kenaikan pangkat, dan kuantitas alih-alih untuk memajukan sains itu sendiri, dan ini bukan tanpa sebab. Kurangnya dana, tata kelola yang kurang efisien, dan minimnya upaya peningkatan kualitas SDM relatif terhadap negara lain di kawasan geopolitik yang sama membuat ekosistem riset Indonesia kurang optimal untuk membangun budaya bertukar pikiran yang produktif dan konstruktif.

Saya tidak hendak mengajak orang untuk mengabaikan jurnal ilmiah maupun mekanisme penilaian sejawat. Koreksi dari sesama rekan peneliti diperlukan untuk meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi. Dalam blog, hal ini ditemukan di kolom komentar. Saling balas membalas komentar dalam sebuah tulisan blog dapat berujung ke kolaborasi atau ide penelitian menarik.

Beberapa jurnal ilmiah bahkan membuat blog mereka sendiri untuk mengomunikasikan hasil penelitian dalam bahasa yang mudah dimengerti masyarakat awam. Beberapa yang saya tahu di bidang saya adalah blog Oikos, Journal of Ecology, Journal of Applied Ecology, Journal of Functional Ecology, dan Molecular Ecology. Nature dan Science juga mengamini bahwa menulis blog dapat meningkatkan karir peneliti dengan membangun reputasi mereka. Bagi peneliti, sebaiknya blog menjadi media sosial baru 😉

Menulis memang tidak mudah, tapi blog bisa menjadi tempat latihan yang bagus. Tak perlu kawatir tentang tema blog, atau jenis pembaca. Terinspirasi dari Rapid Ecology, saya berniat membangun komunitas penulis saintis yang serupa untuk masyarakat Indonesia di Kajian Ekologi Indonesia. Jika ada yang lebih tertarik menulis tentang konservasi, mulai dari sekedar opini ataupun ulasan artikel ilmiah, situs web jaringan Tambora Muda siap menampung dan menyebarkan tulisan kalian ke ribuan pengikut medsos Tambora.

Beberapa platform lain yang tergabung dengan media sosial juga tersedia seperti Facebook dengan Note nya, atau LinkedIn dengan fitur artikelnya. Begitu masuk WordPress, kita juga bisa saling mengikuti blog lain yang juga menggunakan WordPress. Twitter juga banyak digunakan peneliti untuk menyebarkan sains melalui micro-blogging. Tumblr dan Instagram yang lebih banyak digunakan generasi yang lebih muda juga digunakan banyak institusi pendidikan termasuk universitas dan museum di luar negeri untuk memamerkan gagasan mereka.

Itu tentu saja, kalau peneliti kita tidak terlalu sibuk dengan politik teritori, beban administrasi, dan ego bidang :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s