Konservasionis Galak, Perlukah?

“Kalau kamu benar-benar mau masuk dunia konservasi, ingat kalau konservasi bukan main larang-larangan.”

Demikian ujar senior saya sembari asistensi mata kuliah Biosistematika. Laki-laki yang lulus selang dua tahun dengan saya masuk kuliah itu sudah bekerja dengan sebuah LSM di bidang konservasi, bolak-balik Kalimantan-Jawa untuk melakukan inventaris spesies sebagai bagian dari evaluasi nilai konservasi suatu kawasan.

Bagi orang awam, terdengar memang banyak sekali kata “jangan” dari konservasi.

Jangan buka lahan.

Jangan berburu di hutan.

Jangan memelihara satwa liar.

Jangan menambang di kawasan karst.

Jangan. Jangan. Jangan.

Sayang memang bahwa demi kemudahan kampanye, para konservasionis menyingkat penjelasan panjang nilai intrinsik alam, fungsi ekosistem, dan proyeksi bencana dalam satu kata “jangan”. Alhasil, hanya “jangan” lah yang masyarakat tahu dari konservasi. Lalu, masyarakat enggan berinteraksi dengan organisasi-organisasi ini karena takut akan dilarang ini-itu jika mereka bekerja sama. Pelarangan untuk mengambil kayu atau hasil hutan non-kayu dari kawasan yang dilindungi, misalnya.

Saking seringnya melarang, sebagian orang menjadi tidak menganggap peringatan-peringatan yang disuarakan para konservasionis tersebut. Saya sering mendengar ini dari teman-teman yang bekerja di dunia industri penghasil energi. Para penambang minyak bumi, gas alam, dan batubara. “Mereka itu naik kendaraan memangnya tidak pakai bahan bakar?” ujar teman saya yang bekerja di industri perminyakan ketika mendengar protes Greenpeace terhadap pengeboran minyak bumi di Alaska.

Saya yakin masyarakat awam banyak yang tidak nyaman dengan konservasionis galak macam ini. Konservasionis galak, menurut saya, adalah mereka yang meneriaki segala elemen yang mereka anggap membawa kerusakan bagi lingkungan dengan membabi buta tanpa memperhatikan konteks dan kompromi dengan kebutuhan masyarakat umum. Namun, konservasionis galak dibutuhkan di antara penduduk Bumi yang rabun dekat dengan lingkungan mereka ini. Bahkan, konservasionis galak ini banyak yang terbukti sukses dalam perjuangan mereka.

Contoh Sukses Konservasionis Galak: Joaquin Balaguer

Apa yang akan kamu lakukan jika negara yang kamu pimpin hanya sebesar Pulau Bali dengan ketergantungan energi terhadap arang sebagai bahan bakar dengan sepertiga pulau sudah mulai gundul? Menetapkan penebangan ilegal sebagai ancaman nasional dan memindahkan penegakan hukum lingkungan kepada militer, tentu saja. Hal inilah yang dilakukan Joaquin Balaguer, salah satu presiden Republik Dominika yang telah menjabat selama tiga masa kerja. Nyaris selama presiden kedua kita.

Saya mengetahui kiprah Balaguer dari buku Jared Diamond, Collapse, salah satu rekomendasi bacaan dari saya. Diamond menangkap kasus Balaguer ketika ia berusaha mencari tahu apa yang membuat suatu peradaban dapat bertahan atau tidak bertahan di Bumi. Republik Dominika merupakan kasus menarik karena kondisinya sangat kontras dengan tetangga satu pulaunya yang gersang, Haiti. Mengapa dan bagaimana mereka bisa sampai di kondisi mereka melibatkan situasi politik, sosial, dan budaya global yang kompleks, namun bagaimana Dominika bertahan sedikit banyak karena Balaguer.

Balaguer menyadari bahwa kebutuhan energi negara perlu dipenuhi dengan menjaga hutan. Untuk Republik Dominika, hutan bermakna daerah tangkapan air yang cukup untuk menjaga tenaga hidroelektrik dan memastikan suplai air yang cukup untuk kebutuhan industri dan domestik. Saya nyaris ngefans ketika membaca kiprah kebijakan politik pro-lingkungannya, dengan yang paling saya setujui saya tebali:

  1. melarang seluruh perusahaan penebangan komersil dan tempat penggergajian (sawmill) di seluruh negeri,
  2. memindahkan penegakan hukum seputar perlindungan hutan dari Departemen Agrikultur ke Tentara Nasional (ide ini ada di kepala saya dari sejak lama sekali),
  3. mengizinkan penembakan terhadap penebang ilegal (bahkan jika menyebabkan kematian),
  4. menggusur seluruh permukiman dalam Taman Nasional, baik villa mewah maupun gubuk,
  5. melarang penggunaan api dalam metode agrikultur,
  6. memerintahkan pembatasan lahan dengan kayu hidup alih-alih kayu mati,
  7. membuka keran impor dari Chile, Honduras, dan US untuk kebutuhan kayu domestik,
  8. mengurangi pembuatan arang dari kayu dengan mengontrak gas alam cair dari Venezuela dan mensubsidi harga gas untuk menyaingi arang, memerintahkan distribusi tanpa biaya untuk kompor propane dan silinder agar masyarakat pindah dari arang ke gas,
  9. memperluas cagar alam,
  10. mendeklarasikan dua taman nasional berpantai pertama di Republik Dominika,
  11. menetapkan dua endapan terendam sebagai suaka habitat paus bungkuk,
  12. melindungi tanah dalam jarak 18 meter dari pinggir sungai dan 55 meter dari garis pantai,
  13. melindungi lahan basah,
  14. menandatangani konvensi Rio,
  15. melarang perburuan selama 10 tahun,
  16. menekan industri untuk menangani limbah mereka,
  17. mengusahakan kontrol polusi udara,
  18. menetapkan pajak yang tinggi untuk perusahaan tambang,
  19. menolak pembangunan jalan melalui Taman Nasional, jalan lintas utara-selatan melewati Cordillera, bandara internasional Santiago, superport, dan bendungan di Madrigal, bahkan menolak memperbaiki sebuah jalan di dataran tinggi sehingga jalan tersebut nyaris tak bisa dipakai lagi.
  20. mendirikan Aquarium, Kebun Raya, dan Museum Sejarah Alam, dan
  21. membangun ulang kebun binatang nasional

Seakan itu tidak cukup, ia memastikan segala yang telah ia bangun tetap terjaga bahkan setelah ia pensiun dari dunia politik dengan memindahkan pengaturan cagar alam dari eksekutif ke legislatif. Ini menguntungkan dalam iklim politik kala itu yang masih mendukung pemerintahan totalitarian. Hidup di Indonesia dengan mafia perdagangan satwa ilegal lambat terbongkar, pembukaan lahan tak berizin yang tidak mendapatkan sanksi tegas, dan hukum lingkungan secara umum lemah di mana-mana (yah, hukum secara umum tentunya), membuat saya membiarkan bagian diri saya yang tak hobi berpikir panjang ingin mempromosikan cara-cara Balaguer dalam menjaga lingkungan.

Pada tahun 1967 dalam masa pertama kepresidenannya, ia menggerebek penebangan ilegal yang masih bersikeras beroperasi di pelosok hutan dan pada malam hari. Tentara Nasional diizinkan menggunakan helikopter untuk melaksanakan pencarian dari udara. Pada puncaknya, sebuah kemah penebangan rahasia berskala besar di tengah hutan digerebek militer; lusinan penebang dibunuh dalam pengejaran. Penebangan ilegal yang masih berlangsung sejak insiden ini ditanggapi dengan cara yang sama. Balaguer tidak main-main ketika menetapkan penebangan hutan ilegal sebagai ancaman nasional. Pada akhir periode pertama kepresidenan Balaguer, penebangan ilegal menurun drastis.

Ketika ia tidak lagi terpilih sebagai presiden pada tahun 1976-1986, presiden lain membuka ulang kemah-kemah penebangan dan tempat-tempat penggergajian, mengizinkan peningkatan produksi arang kayu sebagai bahan bakar. Ketika 1986 Balaguer kembali menjadi presiden, ia mengeluarkan perintah eksekutif untuk menutup semua itu dan kembali menggunakan operasi militer untuk menangkap dan memenjarakan penebang yang masih beroperasi. Ia juga memerintahkan penggusuran bangunan dalam Taman Nasional, tak terkecuali mansion mewah milik teman-temannya. Tak tanggung-tanggung, ia memimpin sendiri perataan bangunan ilegal dalam Taman Nasional tahun 1994 menggunakan buldozer di Taman Nasional Juan B Perez.

Namun, Balaguer tidak sempurna. Balaguer adalah anak buah presiden diktator sebelumnya, Rafael Trujillo, dan bahkan mendukung genosida Haiti 1937. Ia menjadi presiden boneka, namun ia juga melayani Trujillo dalam posisi yang menguntungkannya untuk mengumpulkan kekuatan, semisal sekretaris negara. Meskipun ia memenangkan pemilu dengan benar 1986, ia menggunakan penipuan, kekerasan, dan intimidasi untuk memenangkan pemilu 1966, 1970, 1974, 1990, dan 1994. Ia mengoperasikan pasukan premannya sendiri untuk membunuh ratusan atau mungkin ribuan anggota oposisi. Ia memerintahkan banyak pemindahan paksa orang miskin dari taman nasional, dan memerintahkan atau menoleransi penembakan penebang ilegal. Ia juga menoleransi korupsi. ia termasuk salah satu tokoh politik berpengaruh di Amerika Latin, atau disebut juga caudillos. Quote terkenalnya: konstitusi tak lebih dari selembar kertas.

Kebijakan environmentalisnya dianggap tipu-tipu atau untuk memenangkan perhatian internasional. Ada yang menganggap penggusuran paksa dari taman nasional hanyalah kekawatiran mereka mungkin melangsungkan pemberontakan pro-Castro, menurunkan populasi dalam tanah publik yang dapat dibangun ulang sebagai resort yang dapat dimiliki orang kaya lokal, pengembang kaya, atau militer, juga untuk menguatkan hubungan Balaguer dengan militer. Namun dugaan-dugaan ini tidak populer di antara masyarakat. Menurut Diamond, Balaguer hanyalah politisi praktis pro-lingkungan yang mengejar kebijakannya seedan yang dia bisa tanpa kehilangan dukungan maupun menstimulus kudeta militer.

Dia benar-benar peduli, namun tidak efisien. Kepedulian buta. ia membiarkan pendukungnya mengekstrak material bangunan dari sungai yang katanya ia lindungi, peraturan perundangannya ada yang tidak berkerja, dan gagal mengharmonisasikan kebutuhan petani rural dengan lingkungan. Namun ia masih sanggup melangsungkan peraturan radikal pro-lingkungan lebih banyak dari politisi Dominika lainnya, atau politisi modern yang Jared Diamond kenal di negara lain.

Kondisi ini ditemui Jared Diamond di Indonesia New Guinea tahun 1979-1996 ketika zaman Soeharto: sistem taman nasional yang efektif dan komprehensif. Ia melihat itu setelah beres mengunjungi Papua New Guinea yang lebih demokratis, berharap mendapati bahwa kebijakan lingkungan lebih maju di demokrasi daripada kediktatoran. Ia harus mengakui bahwa kebalikannya lah yang tepat.

Agak sulit untuk menemukan data peristiwa dari sebuah negara kecil pada tahun 1960-1970an, terutama jika data-data ini didapatkan Jared Diamond dari wawancara dengan penduduk lokal. di negara dengan bahasa utama bukan Inggris. Karena itu, saya hanya bisa percaya kepada penelitian Jared Diamond ketika menulis Collapse dan membahas Republik Dominika.

Saya pribadi merasa bahwa konservasionis galak, walau dibutuhkan, mereka berbahaya jika berada dalam jumlah yang terlalu banyak dengan paham yang semakin ekstrem. Sebuah studi dan sebuah penemuan baru-baru ini menemukan bahwa kekerasan bukanlah jawaban untuk konservasi.

Militerisasi Konservasi

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, bahkan ketika kamu sedang berusaha membela sesuatu yang baik. Kejengkelan banyak pecinta lingkungan dengan masih maraknya eksploitasi satwa liar membuat banyak orang membenarkan perlunya tindakan yang lebih agresif terhadap pelanggar aturan konservasi. Melatih polisi hutan pendekatan militer dianggap perlu dan tindakan yang lebih keras terhadap perambah dan pemburu semakin didukung. Militerisasi konservasi, sebagaimana yang dilakukan Balaguer, dianggap sebagai solusi untuk menghentikan perburuan satwa liar karismatik yang tak kunjung berhenti. Saya juga merasa begitu, sampai saya membaca suatu artikel ilmiah tentang dampak negatif militerisasi konservasi.

Dalam artikel tersebut, para penulisnya berargumen bahwa model konservasi militer, walaupun dapat membantu menjaga kawasan suaka alam dan menjaga eksistensi satwa karismatik di suatu wilayah, dapat mengarah kepada ketidakadilan kepada alam dan masyarakat. Masyarakat dirugikan karena pendekatan militer adalah pendekatan “pengobatan” yang tidak menyelesaikan akar masalah tentang alasan masyarakat merambah hutan dan memburu satwa. Pendekatan top-down yang dibawa kekuatan militer cenderung mengabaikan kondisi sosial-ekonomi lokal masyarakat.

Presentasi “perambah-vs-jagawana” yang diibaratkan “penjahat-vs-pahlawan” oleh para LSM dan organisasi non-pemerintah pencari donor juga memberikan dikotomi tak sehat yang terlalu menyederhanakan kondisi lapangan. Paling parah, jagawana tak bertanggung jawab dapat membenarkan tindakan kekerasan dan penganiayaan berkelanjutan terhadap perambah hutan, dan hasil pendikotomian “perambah-vs-jagawana” dapat membawa para pecinta lingkungan membenarkan tindakan kekerasan yang tak perlu. Baru-baru ini, sebuah investigasi terhadap salah satu organisasi non-pemerintah besar internasional di bidang konservasi membuka cerita tentang tindakan penganiayaan seorang paramiliter mitra organisasi tersebut atas nama konservasi.

Bagi alam itu sendiri, fokus kepada pengembangan sarana-prasarana militer dapat mengabaikan tujuan utama konservasi itu sendiri: mencegah berkurangnya keanekaragaman hayati. Fokus kepada infrastruktur pengintaian dan intelejensia untuk perambah hutan dapat menghabiskan banyak pendanaan dalam suatu proyek konservasi, terutama ketika efektivitas penggunaan alat-alat tersebut masih dipertanyakan dan akar masalah tak tersentuh.

Menggalakkan Konservasi vs Mengonservasi Kegalakan

Konservasionis memang mendapat tekanan untuk mencegah kepunahan spesies. Namun, tidak berarti bahwa jika suatu tujuan itu baik, segala cara dibenarkan untuk mencapainya. Tindakan kelewat ekstrem dalam membela lingkungan ini dapat berujung kepada ekofasisme, seperti yang terjadi di Jerman selama masa pemerintahan Nazi. Kampanye pendekatan agresif untuk konservasi alam bahkan muncul kembali baru-baru ini, dipakai oleh Filipina untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup mereka. Memang lingkungan hidup terjaga, tapi dengan mengorbankan banyak kepentingan. Selain itu, pendekatan ini tidak awet karena bergantung kepada satu otoritas pemerintahan terpusat dan masyarakat yang dipaksa taat.

Jared Diamond dalam Collapse menceritakan betapa diktator Republik Dominika berhasil menjaga luasan tutupan hutan dengan bantuan tentara nasional mereka; pelanggaran ditindak oleh militer dan mendapat hukuman ala militer. Namun, ini hanya berhasil pada masa pemerintahan Balaguer. Pesimisme terhadap kondisi lingkungan Dominika tetap terjadi setelah masa tangan besi Balaguer usai. Sistem cagar alam kurang dana, kurang diawasi, dan tidak banyak mendapat dukungan presiden-presiden terakhir, beberapa bahkan berusaha mengurangi atau menjual kawasan suaka alam negara. Universitas kurang orang dan pemerintah tidak memberikan cukup dukungan untuk studi saintifik.

Solusi kekerasan dan pelarangan dalam konservasi bisa dikatakan sebagai solusi jangka pendek. Kita tak bisa terus-terusan menggunakan versi sederhana konservasi dengan kata “jangan” dan membekali kata “jangan” ini dengan senjata api dan pembenaran tindakan kekerasan. Kampanye perlu diteruskan dengan edukasi berkelanjutan yang menyadarkan masyarakat tanpa perlu tindakan agresi. Jika konservasionis mampu melakukan hal ini, tak hanya keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem yang terjaga, melainkan juga moral manusia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s