Spesies Indonesia Punya Siapa?


Masyarakat Indonesia selalu bangga dengan kenyataan bahwa keanekaragaman hayati negaranya yang tinggi. Kita ingin mempertahankan keanekaragaman hayati kita sebagai upaya menjaga identitas, kedaulatan, dan marwah. Saya tidak berlebihan kalau saya bilang bangsa kita begitu getol dengan segala sesuatu terkait identitas pribadi.

Tapi, apa betul kekayaan ini punya masyarakat Indonesia? Apa betul karena kita kebetulan ada di kepulauan Asia Tenggara, segala sumber daya alam yang ada di Asia Tenggara menjadi milik kita?

Jika bicara dari sudut pandang sejarah, studi genetika menunjukkan bahwa spesies Homo sapiens menjejak kepulauan yang sekarang dikenal dengan Indonesia sekitar 50.000 tahun yang lalu. Angka ini bisa berubah jika kita menemukan fosil yang lebih tua (ada yang bilang 70.000 tahun yang lalu Homo sapiens tiba di Sumatera), tapi katakanlah manusia baru ada di Indonesia saat itu. Bagaimana dengan spesies-spesies Indonesia?

Berbeda dengan studi genetik yang lebih fokus kepada migrasi manusia, studi tentang spesies lain lebih banyak difokuskan kepada waktu diversifikasi. Peneliti masih mencari tahu kapan materi genetik spesies sepenuhnya memisah dari spesies lain sehingga ia bisa dikatakan sebagai spesies tersendiri. Kapan orangutan tapanuli sepenuhnya memisah dari orangutan sumatera? Apakah tarsius yang ada di Gorontalo merupakan spesies yang sama dengan tarsius yang ada di Lore Lindu?

Berdasarkan studi seputar diversifikasi spesies-spesies kera, genus orangutan sudah membentuk populasi tesendiri sejak 10 juta tahun yang lalu sementara genus manusia baru sekitar 2,5 juta tahun yang lalu. Orangutan ada lebih dulu daripada manusia. Kapan orangutan masuk ke Indonesia?

figure2
Sejarah populasi kera besar yang diperoleh dari analisis genom utuh spesies menunjukkan bahwa orangutan mengalami diversifikasi lebih awal dari nenek moyang bersama primata. Sumber: Nature.

Daratan Indonesia memiliki sejarah geologi yang kompleks. Beberapa daratan berusia sangat tua, beberapa sangat muda. Daratan yang sekarang membentuk apa yang kita kenal sebagai Sumatera dan Kalimantan sudah ada sejak 60 juta tahun yang lalu. Jika orangutan sudah ada duluan, besar kemungkinan mereka menempati Sumatera lebih dulu daripada nenek moyang raja pertama Samudra Pasai.

Agak ke timur, pulau-pulau Indonesia memiliki sejarah yang lebih kompleks. Tidak semua bagian dari daratan yang kita kenal sekarang dengan Sulawesi muncul di waktu yang sama. Ada bagian yang sudah ada sejak 60 juta tahun yang lalu dan ada bagian yang baru muncul jutaan tahun yang lalu. (Simak sejarah geologi dan biodiversitas kita lebih lengkap dari buku Sains untuk Biodiversitas Indonesia yang telah diterbitkan ALMI dan AIPI)

Katakanlah seluruh daratan Indonesia sudah ada sejak jutaan tahun yang lalu. Manusia kalah cepat sampai ke daratan Indonesia karena manusia baru bermigrasi sekitar 60.000 tahun yang lalu sementara spesies-spesies Indonesia sudah ada dalam hitungan puluhan juta tahun yang lalu. Perbedaan budaya kemudian membuat kita membatasi teritori satu sama lain berdasarkan suku, dan tiba-tiba suku-suku ini memutuskan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apakah kita pernah bertanya kepada harimau jawa, badak sumatera, dan orangutan tapanuli bahwa mereka mau jadi penduduk Indonesia? Bagaimana dengan polip-polip terumbu karang yang mengambang di samudera dan burung-burung yang bermigrasi?

Jika kita bisa berkomunikasi dengan mereka, apakah mereka akan mau jadi bagian dari Indonesia atau memilih pindah kewarganegaraan dan mencari suaka di negara lain?

“Bisnis Properti” Sumber Daya Alam

Meskipun Indonesia menyatakan komitmen kepada pembangunan berkelanjutan, implementasi komitmen ini dalam konservasi biodiversitas masih samar. Segala upaya konservasi biodiversitas didasarkan kepada potensi kegunaan ekonomis dan mereduksi spesies menjadi potensi pendapatan. Alhasil, fokus perlindungan spesies kita lebih kepada menjada agar tidak ada materi biologis apa pun dari skala DNA sampai individu yang keluar dari wilayah administratif Indonesia jika tidak memberi keuntungan bagi Indonesia.

Ketahanan ekonomi kita memang penting, namun melihat gambaran besar tentang kemajuan peradaban juga penting. Ketakutan kita terhadap biopiracy mengalahkan keingintahuan kita tentang bagaimana alam bekerja. Ego sektoral di banyak institusi menghambat kemajuan ilmu pengetahuan karena semangat berbagi dan berinovasi dikalahkan ketakutan disaingi dan dijiplak.

Pertanyaan-pertanyaan kita masih berkutat kepada solusi jangka pendek alih-alih isu fundamental. Sementara kita masih kawatir akan pencurian air laut dan berusaha mempidanakan peneliti asing, komunitas ilmiah internasional sibuk membangun kolaborasi untuk merunut genom seluruh spesies di Bumi dan membagi berbagai data terkait keanekaragaman hayati dalam berbagai skala (simak di sini, sini, dan sini).

Ketakutan berlebihan akibat nasionalisme sempit semacam ini telah sangat merugikan upaya konservasi biodiversitas. Badak sumatera, yang ada tidak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia, punya kesempatan untuk ditangkarkan dengan sumber genetik yang baik, tapi birokrasi pemerintahan antar-negara memperlambat upaya ini. Kepunahan populasi badak sumatera di Malaysia memang disebabkan banyak faktor selain birokrasi, tapi saya kira masih tepat mengatakan kalau kita tidak cukup dewasa dan melakukan yang terbaik.

Mengapa harus birokrasi yang berbelit untuk memungkinkan sumber daya genetik dari spesies yang sama bertemu? Kita punya kekuatan untuk kolaborasi, mengapa membatasi?

Badak sumatra sesungguhnya punya siapa?

Iman, badak sumatera terakhir Malaysia yang mati 24 November 2019 lalu, diduga karena tekanan dari tumor yang dideritanya. Sumber: Sabah Wildlife Department.

Bertanggung Jawab terhadap Bumi

Jika kita masih mengotak-kotakkan sumber daya hayati berdasarkan nilai ekonomis dan wilayah administratifnya saja, kita hanya mengulang budaya ekstraksi dan eksploitasi yang telah lama terjadi pada sumber daya mineral kita. Hanya menggunakan dan menjual yang ada, tidak bisa mengolah, mengelola, atau berinovasi darinya.

Mentalitas eksploitatif konsumtif ini cukup biasa di kalangan kita. Lepas penelitian tentang akar bajakah di Kalimantan, masyarakat beramai-ramai membabat bajakah untuk dijual begitu saja batang per batang. Penelitian keanekaragaman hayati jadi jarang mengeksplorasi lebih dari karakteristik jenis dan potensi, itu pun harus dibatasi dari masyarakat agar pembantaian massal yang terjadi pada bajakah tidak terulang ke spesies lain.

Terlalu banyak fokus kepada prospek ekonomis suatu organisme membatasi imajinasi kita. Ilmu pengetahuan sulit berkembang karena kita terus-menerus dikalahkan dengan pertanyaan “bisa jadi uang atau tidak”. Kemajuan teknologi berasal dari banyak penelitian basis fundamental yang sering kali tidak dapat dimengerti manfaat ekonominya. Penelitian aplikatif banyak bergantung kepada imajinasi penelitian dasar.

Kita tidak mengumpulkan spesies-spesies ini dengan jerih payah kita, tapi kita bersikap seolah-olah mereka hak kita. Mereka diperlakukan sebagai properti, barang yang mobilitasnya ditentukan oleh setumpuk legislasi dan tanda tangan. Dikorek prospek ekonominya dan diperah begitu saja tanpa panjang pikir dengan alasan itu “punya” kita.

Padahal, kita tidak memperoleh mereka karena usaha kita. Kita kebetulan saja dilahirkan dan tinggal di lokasi yang sama dengan spesies-spesies ini. Memahami sejarah alam kita harusnya menyadarkan kita bahwa keanekaragaman hayati kita adalah amanah, bukan sesuatu yang kita miliki. Amanah yang harus dikelola dengan bertanggung jawab.

Memandang sumber daya alam kita sebagai tanggung jawab yang harus dikelola secara berkelanjutan alih-alih properti memerlukan perubahan kerangka pikir yang cukup besar. Spesies di seluruh dunia adalah milik semua. Otoritas manusia yang kebetulan menaungi habitat spesies bertanggung jawab menjada spesies dan habitatnya cukup sehat untuk menjaga diri mereka tetap ada di masa depan.

Jika kita memandang keanekaragaman hayati kita sebagai amanah dan titipan, pembangunan berkelanjutan harusnya lebih mudah dicapai.

2 pemikiran pada “Spesies Indonesia Punya Siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s