Statistik dan Arus Informasi dalam Ekologi: Apa Saja yang Harus Dipelajari?

Bersama dengan kecepatan internet yang tinggi, timbul tanggung jawab banjir informasi yang tinggi pula. Sekolah di luar negeri dengan segala tantangan dan keuntungannya memberikan saya akses terhadap informasi yang berlimpah ruah. Menyenangkan? Hmm…

Dengan arus informasi yang makin cepat, saya merasa makin gila. Selagi menyusun proposal tesis, paper baru terus bermunculan membalap kapasitas otak saya yang makin menurun seiring usia. Ketika Paper A muncul mengusulkan metode baru yang lebih efektif untuk objek studi saya, saya mencobanya dengan riang. Namun konsep yang harus saya pahami untuk mengerjakan analisis tersebut cukup banyak sehingga baru dalam dua minggu saya paham bagaimana cara melakukannya. Baru saja paham, ada paper B yang menyatakan bahwa metode dalam paper A memiliki kelemahan fatal untuk menjawab pertanyaan yang ingin saya ajukan dalam tesis saya. Waktu saya baca, “Hah, benar juga! Kenapa saya tidak kepikiran waktu baca sebelumnya?”

Hal ini terus terjadi selama sebulan. Alhasil proposal tidak kunjung jadi. Begitu mepet tenggat waktu, saya malah kembali ke metode klasik.

Ketika penelitian tesis dilakukan, yang terjadi tidak jauh berbeda. Supervisor membombardir saya paper baru yang terus saja muncul, berisi usulan atau bantahan terhadap suatu metode atau konsep, kajian terbaru dan segala debat tentangnya, sampai saya benar-benar teriak frustasi ke depan suami laptop, “Berhenti dulu publikasi kenapa sih, kalian??”

Kegilaan arus informasi ini bersama dengan perasaan bertanggung jawab ajaran kode moral saya untuk menyebarkan ilmu yang saya tahu cukup membebani kepala saya. Saya butuh mentor. Saya butuh bimbingan.

Seperti saya berguru tentang Al Qur’an ke mereka yang sungguh-sungguh mempelajarinya, saya tentu memilih mereka yang sungguh-sungguh mendedikasikan diri mereka ke menyebarkan ajaran Ekologi ke dunia seutuh dan seindah mungkin. Hal ini saya temui di blog kolaborasi tiga orang profesor Ekologi dari US: Jeremy Fox, Brian McGill, dan Meghan Duffy, dengan hostnya Jeremy Fox, judulnya Dynamic Ecology.

Profesor-profesor ini kalo udah suntuk penelitian, mereka procrastinating dengan nge-blog. Buat mereka, nge-blog adalah cara paling efektif untuk nulis dan menjangkau masyarakat awam tanpa harus memperhatikan conflict of interest. Blog kayak gini nggak cuma ada satu. Ada…
Small Pond Science yang juga tentang Ekologi tapi lebih banyak tentang perkembangan dunia akademik,
Error Statistics tentang perkembangan filosofi seputar ilmu statistik,
Extinct
tentang Paleontologi dan filosofinya,
situs  yang mengumpulkan tulisan banyak orang tentang permodelan statistik,
Stats Blogs yang mengumpulkan banyak tulisan tentang statistik termasuk situs milik Andrew Gelman yang hobi banget diskusi hal-hal yang diributkan dalam statistik dan situs Simply Statistics yang ditulis oleh tiga orang profesor Biostatistik,
…semua isinya omelan profesor-profesor di luar penelitian ilmiah mereka tentang penelitian ilmiah mereka. Di About atau Tentang dari setiap situs, mereka selalu menekankan betapa pandangan mereka tidak mencerminkan pandangan institusi tempat mereka bekerja.

Dynamic Ecology adalah yang paling saya anggap relevan ketika saya bingung tentang metode atau analisis tertentu. Mereka sangat suka melempar isu dan berdiskusi tentang isu yang mereka lempar dalam blog mereka. Dari blog inilah saya tahu situs-situs blog yang lain dan belajar banyak dari mereka. Saya jadi paham banyak masalah dalam konsep Ekologi, bagaimana mereka bermula, sampai isu komunikasi sains, bias gender, politisasi sains, statistik, filosofi sains, kehidupan akademik universitas, dan masih banyak lagi.

Ketika mereka membuka “Ask us anything”, saya langsung nimbrung dan curhat di komen dan langsung dibalas oleh Jeremy Fox dengan beberapa tulisan mereka tentang statistik dalam ekologi.

Kesederhanaan adalah Koentji

Brian McGill dan Jeremy Fox (sila kepo tautannya) adalah dua profesor di bidang ekologi yang bermula dari matematika. Berdasarkan hemat mereka, memahami analisis variansi dan generalized linear modelling sangat penting untuk memahami berbagai metode statistik yang digunakan dalam penelitian-penelitian seputar Ekologi. Mengapa? Karena umumnya dalam ekologi, kita ingin tahu apakah nilai suatu variabel menyebabkan perubahan nilai variabel lain. Apakah kenaikan suhu menyebabkan penambahan massa sapi? Apakah jumlah spesies meningkatkan produktivitas hutan? Statistik paling sederhana untuk menjawab pertanyaan korelasi macam ini adalah regresi. Namun, karena kita memiliki banyak replikasi dalam penelitian kita, kita juga perlu tahu seberapa banyak variansi dalam kelompok memengaruhi perubahan nilai tersebut, dan di sinilah ANOVA dan ANCOVA masuk. Dengan kata lain, mata kuliah Biostastik yang dahulu kala mengajarkan ANOVA dan regresi linear udah bener! Menurutku yang menjadi masalah adalah Biostatistik mengajarkan lebih banyak teknik dan formula alih-alih konsep yang sesungguhnya sangat penting bagi statistik yang sesungguhnya subjektif arbitrer ini.

Selain itu, metode yang paling penting adalah metode reduksi dimensi. Ekologi melibatkan jutaan variabel di alam dan untuk memahami bagaimana setiap variabel ini memengaruhi variabel respon yang ingin kita ukur kita harus paham bagaimana meringkas berbagai variabel ini menggunakan metode clustering atau pengelompokkan semisal PCA.

Intinya, mereka mengusulkan untuk tetap menggunakan metode yang paling sederhana. Jawaban khas anak Matematika. Sila simak jawaban mereka di sini, sini, dan sini. Pengecekan asumsi dan distribusi probabilitas selalu perlu, tapi tak perlu berlebihan.

Tetap Jaga Hubungan dengan Arus Informasi

Menjadi sederhana adalah solusi, namun saya sepakat dengan Thomas L. Friedman dalam bukunya Thank You for Being Late mengikuti nasihat pemain kayak profesional bahwa hal terburuk yang bisa kamu lakukan ketika arus air bergerak makin cepat adalah mengerem dayungmu. Kamu harus mendayung setidaknya sama cepat dengan arus agar tidak melenceng dari jalur.

Sambil memperdalam hal-hal yang sederhana seputar Ekologi, saya terus mengikuti perkembangan terbaru dengan mengikuti blog-blog tersebut, langganan milis beberapa forum dan jurnal, ikutan grup fesbuk yang relevan selama bisa, mengikuti akun Twitter jurnal dan peneliti di bidang yang relevan, dan masih banyak lagi.

Agar tidak semakin gila, saya masih menjaga koneksi dengan teman-teman yang bisa diajak diskusi tentang hal-hal semacam ini dari jurusan saya sendiri, para optimist dari Indonesia dan semua orang yang tidak takut belajar hal baru dan bergerak bersama arus.

Karena, pada akhirnya apa yang harus dipelajari adalah kemampuan seumur hidup untuk terus belajar, mengingat banyak hal yang makin bisa diotomatisasi dengan algoritma. Kita nggak bisa minta bapak-ibu yang terhormat ini berhenti publikasi; masa mau menghadapi kemajuan dengan stagnansi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s